Tragedi di Maladewa, 5 Wisatawan Asal Italia Tewas Saat Menyelam

Tragedi di Maladewa, 5 Wisatawan Asal Italia Tewas Saat Menyelam
Foto: Ilustrasi Tragedi di Maladewa, 5 Wisatawan Asal Italia Tewas Saat Menyelam.
Ukuran teks

Kepolisian setempat saat ini tengah melakukan investigasi mendalam terkait insiden maut yang menewaskan lima wisatawan asal Italia di Maladewa. Meski penyelidikan sudah berjalan, otoritas terkait belum merilis pernyataan resmi mengenai penyebab pasti kematian para penyelam tersebut.

Peristiwa tragis ini terjadi ketika lima turis Italia tersebut sedang melakukan aktivitas menyelam di kawasan perairan dalam yang lokasinya berdekatan dengan sebuah gua bawah laut. Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa mereka segera bertindak untuk mengungkap detail di balik kejadian memilukan ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari NYPost pada Jumat (15/5/2026), dua di antara korban adalah Monica Montefalcone dan putrinya yang berusia 20 tahun, Giorgia Sommacal. Monica sendiri dikenal sebagai seorang profesor biologi laut yang berasal dari Universitas Genoa.

Kementerian Luar Negeri Italia melaporkan bahwa pasangan ibu dan anak tersebut terakhir kali terlihat di kedalaman 160 kaki saat menjelajahi Vaavu Atoll. Pencarian dilakukan secara intensif setelah keduanya dilaporkan menghilang secara misterius di kedalaman tersebut.

Laporan dari The Sun menambahkan daftar korban lainnya yang juga merupakan bagian dari rombongan perjalanan wisata bawah laut tersebut. Mereka adalah Muriel Oddenino yang berasal dari Turin, Gianluca Benedetti dari Padua, serta Federico Gualtieri yang menetap di Borgomanero.

Ketiga wisatawan ini dilaporkan tidak kunjung muncul kembali ke permukaan air setelah menyelesaikan sesi penyelaman mereka. Hal ini memicu kepanikan dan segera ditindaklanjuti dengan upaya penyelamatan darurat oleh tim terkait.

Petugas penyelamat segera dikerahkan ke lokasi penyelaman populer yang berada di sekitar kawasan Pulau Alimatha sekitar pukul 13.45 waktu setempat. Fokus pencarian dilakukan di bentangan perairan Samudra Hindia yang jernih untuk melacak keberadaan para korban.

Pihak pejabat setempat menyatakan bahwa setelah upaya pencarian yang sangat intens, jasad para korban akhirnya berhasil ditemukan. Jenazah mereka kemudian dievakuasi dari dasar laut oleh tim gabungan yang bertugas di lapangan.

Menurut pemberitaan media lokal The Edition, rombongan ini sempat menaiki yacht bernama Duke of York pada Kamis pagi. Mereka berencana mengeksplorasi salah satu titik selam paling ternama yang ada di negara kepulauan tersebut.

Namun, hingga saat ini motif atau pemicu utama di balik insiden yang merenggut nyawa tersebut masih menjadi tanda tanya besar. Pihak kepolisian masih mengumpulkan bukti-bukti teknis dari peralatan selam serta kondisi fisik para korban.

Kondisi cuaca di wilayah tersebut pada hari Kamis memang dilaporkan sedang memburuk dengan kecepatan angin mencapai 30 mil per jam. Kendati demikian, belum ada kesimpulan apakah faktor cuaca buruk menjadi penyebab langsung dari kecelakaan tersebut.

Aparat kepolisian tetap melanjutkan investigasi tragedi bawah laut ini dengan saksama meskipun hasil autopsi resmi belum keluar. Pejabat lokal bahkan menyebut bahwa insiden ini merupakan salah satu tragedi penyelaman paling mematikan yang pernah melanda Maladewa.

Tragedi Penyelaman di Thailand dan Indonesia

Selain kejadian di Maladewa, insiden serupa juga menimpa seorang pemuda asal Australia berusia 22 tahun saat sedang berlibur di Thailand. Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah sempat tidak sadarkan diri di perairan Koh Racha Yai.

Kawasan Koh Racha Yai selama ini memang dikenal sebagai destinasi favorit bagi para pecinta olahraga snorkeling dan menyelam. Namun, liburan menyenangkan tersebut berubah menjadi duka mendalam pada awal Mei 2025 lalu.

Berikut adalah detail kronologi insiden yang melibatkan wisatawan Australia tersebut:

  • Peristiwa terjadi pada tanggal 6 Mei 2025 saat korban sedang melakukan aktivitas di laut.
  • Wisatawan asal Melbourne tersebut dilaporkan nekat turun ke air meski sedang berada di bawah pengaruh minuman beralkohol.
  • Beberapa video amatir merekam upaya darurat petugas medis dalam memberikan CPR di atas kapal wisata bernama Marinda 2.
  • Proses penyelamatan dilakukan secara bergantian oleh kru kapal guna memompa dada korban yang sudah tak bernapas.

Keterangan dari saksi menyebutkan bahwa korban berulang kali melompat dari perahu untuk berenang dalam kondisi mabuk. Nahas, saat mencoba mendayung di permukaan air, ia terseret arus laut yang sangat kuat hingga kehilangan kendali.

Panggilan darurat masuk ke pusat medis pada pukul 14.28 waktu setempat, dan tim segera meluncur ke titik lokasi kejadian. Saat ditemukan, pemuda tersebut sudah tidak memberikan respons apa pun dan nadinya sempat terdeteksi lemah setelah tindakan CPR.

Korban segera dilarikan menuju Rumah Sakit Chalong yang berada di Phuket untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun, nyawanya tidak tertolong dan tim dokter secara resmi menyatakan korban meninggal dunia pada pukul 15.53.

Letnan Kolonel Polisi Kanen Somrak dari Kepolisian Chalong membenarkan status kewarganegaraan korban sebagai warga Australia. Ia menjelaskan bahwa konsumsi alkohol yang berlebihan menjadi faktor kunci dalam kecelakaan fatal di laut tersebut.

Pihak berwenang mencatat beberapa poin penting terkait hasil olah TKP di Thailand:

  • Petugas hanya menemukan botol-botol minuman keras yang sudah kosong di lokasi tanpa adanya jejak penggunaan zat terlarang lainnya.
  • Korban diketahui berulang kali terjun ke laut sebelum akhirnya tenggelam karena kondisi fisiknya yang tidak stabil.
  • Kedutaan Australia telah berkoordinasi dengan keluarga korban untuk proses pemulangan jenazah.
  • Pemerintah Australia melalui Departemen Luar Negeri memastikan bantuan konsuler penuh akan diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Penjelasan singkat dari pihak kepolisian menegaskan bahwa faktor kelalaian pribadi menjadi penyebab utama kematian turis tersebut. Sementara itu, kasus kematian penyelam asing juga dilaporkan terjadi di wilayah Kalimantan Timur, Indonesia.

Seorang warga negara China yang diketahui bernama Zhang Xiao Han ditemukan tewas setelah melakukan penyelaman di Pulau Kakaban, Berau. Tim SAR gabungan melakukan pencarian besar-besaran sebelum akhirnya menemukan jasad korban.

Informasi mengenai penemuan korban di Pulau Kakaban dapat dirangkum sebagai berikut:

Detail Informasi Keterangan Penemuan
Identitas Korban Zhang Xiao Han (30 tahun), WNA asal China
Lokasi Penemuan Kedalaman 87 meter di jalur selam Kelapa Dua
Waktu Penemuan Sabtu, 3 Mei 2025 pukul 14.55 WITA
Penyebab Awal Berusaha mengambil kamera yang terjatuh di kedalaman

Data di atas merupakan ringkasan dari laporan resmi Kantor SAR Balikpapan mengenai operasi pencarian penyelam yang hilang. Kepala Seksi Operasi dan Siaga, Endrow Sasmita, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh tim yang terlibat dalam pencarian sulit tersebut.

Jenazah Zhang Xiao Han awalnya dibawa ke Posko SAR di Jetty Green Nirvana untuk pemeriksaan awal oleh petugas medis. Setelah itu, korban dievakuasi ke RSUD Abdul Rivai di Tanjung Redeb guna keperluan penanganan lebih lanjut.

Insiden bermula ketika Zhang bersama rombongannya sedang menyelam pada Jumat pagi di area Pulau Kakaban. Saat pemandu bernama Willy menginstruksikan semua orang untuk naik ke permukaan, Zhang mengalami kendala teknis dengan kameranya.

Kamera yang ia bawa terlepas dari genggaman dan tenggelam ke dasar laut saat ia berada di kedalaman 5 meter. Zhang kemudian memutuskan untuk menyelam kembali ke bawah demi mengambil perangkat tersebut, namun ia tidak pernah lagi muncul ke permukaan.

Artikel terkait

Rekomendasi