Terungkap, Ini Dugaan Penyebab 5 Turis Italia Tewas Saat Menyelam di Maladewa 2026

Terungkap, Ini Dugaan Penyebab 5 Turis Italia Tewas Saat Menyelam di Maladewa 2026
Foto: Terungkap, Ini Dugaan Penyebab 5 Turis Italia Tewas Saat Menyelam di Maladewa 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Tragedi bawah laut yang menimpa lima wisatawan asal Italia di Maladewa akhirnya mencapai titik terang setelah seluruh jenazah berhasil diangkat. Proses evakuasi terakhir dilakukan pada Rabu, 22 Mei 2026, oleh tim penyelamat gabungan dari otoritas setempat dan ahli selam internasional.

Operasi penyelamatan ini melibatkan tim penyelam elit asal Finlandia yang bekerja di bawah naungan Divers Alert Network (DAN) Eropa. Meskipun seluruh jasad telah ditemukan, misteri mengenai penyebab pasti kematian para penyelam tersebut masih menjadi fokus penyelidikan mendalam.

Analisis Pakar Mengenai Penyebab Tragedi

CEO DAN Eropa, Laura Marroni, memberikan gambaran mengenai kemungkinan situasi fatal yang dialami oleh para korban. Menurut analisisnya, kelima turis tersebut diduga kuat tersesat saat sedang menjelajahi labirin gua bawah laut yang kompleks.

Kondisi ini membuat mereka tidak mampu menemukan jalan kembali ke permukaan tepat waktu sebelum persediaan udara habis. Marroni menegaskan bahwa di lokasi tersebut, sekali penyelam kehilangan arah, peluang untuk keluar menjadi sangat tipis.

Berdasarkan laporan yang dilansir dari surat kabar Italia la Repubblica, lokasi kejadian berada di sekitar pulau kecil Alimatha. Gua tersebut diketahui memiliki struktur yang menipu bagi penyelam yang belum mengenal medan dengan baik.

Pintu masuk gua diawali dengan sebuah ruangan besar yang masih terjangkau oleh cahaya matahari alami. Namun, tantangan sesungguhnya dimulai setelah melewati lorong panjang yang menjorok lebih dalam ke perut bumi.

Struktur medan di dalam gua bawah laut Alimatha yang menjadi lokasi kejadian:

  • Terdapat ruangan utama yang luas dengan pencahayaan alami yang cukup terang sebagai titik awal penyelaman.
  • Sebuah koridor sepanjang kurang lebih 30 meter menghubungkan ruangan utama dengan area yang lebih dalam.
  • Visibilitas di dalam koridor sebenarnya cukup baik jika penyelam menggunakan alat penerangan buatan yang memadai.
  • Terdapat gundukan pasir yang menjadi pembatas antara koridor tersebut dengan ruangan besar kedua yang sama sekali gelap.
  • Gundukan pasir ini bersifat menipu karena bisa menyembunyikan jalur keluar saat penyelam berbalik arah untuk kembali.

Para korban ditemukan berada di sebuah lorong buntu yang sempit di sisi kiri gundukan pasir tersebut. Lokasi penemuan ini memperkuat dugaan bahwa mereka salah mengambil jalan saat berusaha kembali ke arah ruangan utama.

Marroni menambahkan bahwa dalam kondisi darurat seperti itu, waktu adalah faktor yang sangat krusial. Ia memperkirakan para korban hanya memiliki waktu kurang dari 10 menit untuk bernapas sebelum tangki udara mereka benar-benar kosong.

Detail Penemuan dan Identitas Para Korban

Keberhasilan tim elit Finlandia dalam menjangkau titik terdalam gua menjadi kunci berakhirnya pencarian yang menegangkan ini. Dua jenazah terakhir ditemukan di kedalaman yang ekstrem, yakni mencapai 200 kaki atau sekitar 61 meter di bawah permukaan laut.

Kedua korban terakhir yang berhasil diangkat tersebut adalah Giorgia Sommacal, seorang perempuan berusia 22 tahun, serta Muriel Oddenino yang merupakan peneliti berusia 31 tahun. Keduanya sempat dinyatakan hilang selama enam hari sejak Kamis, 14 Mei 2026.

Kementerian Luar Negeri Italia mengonfirmasi bahwa penemuan ini terjadi di area Gua Atol Vaavu yang dikenal memiliki arus cukup kuat. Operasi pengangkatan jenazah dilakukan secara sangat hati-hati mulai pukul 11 pagi waktu setempat.

Proses evakuasi berlangsung cukup cepat setelah lokasi pasti jenazah teridentifikasi oleh tim penyelam. Jasad pertama berhasil dibawa ke permukaan dalam waktu satu jam, yang kemudian segera disusul oleh jasad kedua ke atas kapal pendukung.

Daftar lengkap identitas turis asal Italia yang menjadi korban dalam tragedi ini:

Nama Korban Usia Latar Belakang / Profesi
Gianluca Benedetti 44 Tahun Instruktur Selam Profesional
Monica Montefalcone 52 Tahun Dosen Ekologi Universitas Genoa
Federico Gualtieri 31 Tahun Peneliti
Muriel Oddenino 31 Tahun Peneliti
Giorgia Sommacal 22 Tahun Wisatawan (Anak Monica Montefalcone)

Tragedi ini juga menyisakan duka bagi tim penyelamat lokal yang bertugas di lapangan. Tercatat satu anggota tim penyelamat dari Maladewa meninggal dunia saat menjalankan misi pencarian para turis tersebut di awal operasi.

Prosedur Evakuasi dan Tantangan di Kedalaman Laut

Proses pengangkatan jenazah dilakukan dengan metode estafet yang melibatkan beberapa lapisan tim penyelam di kedalaman yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk menjaga keselamatan penyelamat serta memastikan jenazah tetap dalam kondisi utuh saat diangkat.

Awalnya, tim teknis melemparkan tali pengaman yang terhubung dengan pelampung di permukaan sebagai panduan jalur evakuasi. Penyelam kemudian turun ke kedalaman 154 kaki untuk memasang tali permanen di mulut gua sebagai jangkar utama.

Setelah jenazah dikeluarkan dari dalam gua, tim Angkatan Laut Maladewa sudah bersiaga di kedalaman 98 kaki untuk menerima jasad tersebut. Dari titik itu, jenazah kembali dioper ke tim berikutnya yang menunggu di kedalaman 10 kaki.

Di kedalaman yang dangkal tersebut, petugas memastikan bahwa kantong jenazah telah tertutup rapat dan aman sebelum ditarik ke atas dek kapal. Prosedur ini dilakukan dengan sangat rapi untuk menghormati privasi para korban dari dokumentasi publik.

Seluruh jenazah kemudian dibawa menuju pelabuhan di ibu kota Male menggunakan kapal polisi dan langsung dipindahkan ke ambulans. Hingga saat ini, proses autopsi masih dipersiapkan untuk menentukan penyebab medis kematian mereka.

Kendala Teknis dan Peralatan yang Digunakan

Dalam menjalankan misi berbahaya ini, para penyelam harus berpacu dengan waktu guna menghindari kerusakan jasad akibat serangan predator laut seperti hiu. Penggunaan teknologi canggih menjadi syarat mutlak dalam operasi di kedalaman 61 meter tersebut.

Tim penyelamat menggunakan alat pernapasan khusus yang dikenal dengan sistem closed-circuit rebreather. Alat ini bekerja dengan mendaur ulang gas pernapasan dan menyaring karbon dioksida secara kimiawi sehingga penyelam bisa bertahan lebih lama di bawah air.

Juru bicara DAN Eropa menjelaskan bahwa tanpa teknologi rebreather tersebut, sangat sulit bagi manusia untuk melakukan pencarian di gua yang dalam. Durasi penyelaman yang lebih panjang memungkinkan tim untuk menyisir setiap sudut ruangan gua secara mendetail.

Ada fakta menarik yang ditemukan tim saat proses identifikasi salah satu korban, yakni Monica Montefalcone. Dosen ekologi tersebut diketahui mengenakan pakaian selam yang biasanya digunakan untuk aktivitas rekreasi santai di permukaan.

Pakaian selam pendek tersebut dinilai kurang ideal untuk ekspedisi di kedalaman laut yang memiliki tekanan tinggi dan risiko suhu rendah. Diduga, korban memilih pakaian tersebut karena menganggap suhu air di Maladewa cukup hangat dan nyaman.

Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, secara resmi telah menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada pemerintah Maladewa. Selain kehilangan warganya, ia juga memberikan penghormatan atas pengorbanan personel militer Maladewa, Sersan Mayor Mohammed Muhdee, yang gugur dalam tugas.

Artikel terkait

Rekomendasi