Pertemuan diplomat tingkat tinggi negara-negara BRICS yang berlangsung di New Delhi, India, berakhir tanpa kesepakatan bersama. Perpecahan mendalam antara dua anggota baru, yakni Iran dan Uni Emirat Arab (UEA), menjadi penyebab utama kegagalan tersebut.
Kondisi ini memaksa India sebagai tuan rumah hanya mengeluarkan pernyataan ketua sebagai pengganti konsensus resmi. Melansir laporan Reuters pada Jumat (15/5/2026), situasi ini mengungkap adanya keretakan internal yang nyata di dalam blok ekonomi tersebut.
Konflik memuncak setelah Teheran mendesak kelompok BRICS untuk secara terbuka mengutuk tindakan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Iran juga melontarkan tuduhan serius terhadap UEA yang dianggap terlibat langsung dalam operasi militer tersebut.
Pihak Teheran memandang UEA, yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, sebagai pihak yang memusuhi kepentingan mereka di kawasan. Ketegangan ini membuat pembahasan agenda ekonomi dan kerja sama lainnya menjadi terhambat selama pertemuan dua hari itu.
Dampak Krisis Bagi Perekonomian India
India menghadapi dilema besar karena statusnya sebagai importir sekaligus konsumen minyak terbesar ketiga di dunia. Blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah mengganggu pasokan energi global secara signifikan.
Jalur perairan tersebut sangat krusial karena biasanya dilewati oleh seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan di wilayah ini memberikan tekanan ekonomi yang berat bagi pemerintah India.
Keamanan warga negara India juga terancam akibat serangan yang terjadi di jalur perdagangan internasional tersebut. Laporan menyebutkan sedikitnya tiga personel asal India tewas dalam insiden kekerasan di perairan itu.
Bahkan, sebuah kapal berbendera India dilaporkan tenggelam pada pekan yang sama saat diplomat Iran tiba di Delhi. Insiden ini menambah beban diplomasi India dalam menengahi konflik di antara anggota BRICS.
Dukungan Modi Terhadap Uni Emirat Arab
Perdana Menteri India, Narendra Modi, langsung bertolak menuju UEA untuk melakukan kunjungan singkat pada hari Jumat. Dalam kesempatan tersebut, Modi secara tegas mengecam serangan-serangan yang menargetkan negara Teluk tersebut.
Modi menyatakan bahwa tindakan menjadikan UEA sebagai sasaran militer sama sekali tidak dapat dibenarkan. Ia juga memberikan apresiasi atas sikap tenang yang ditunjukkan oleh otoritas UEA dalam menghadapi krisis.
Rincian situasi ketegangan yang terjadi antara Iran dan UEA mencakup poin-poin berikut:
- Serangan intensif menggunakan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) oleh Iran ke wilayah UEA.
- Perselisihan yang mulai pecah secara terbuka sejak konflik meletus pada 28 Februari lalu.
- Adanya tuduhan keterlibatan UEA dalam mendukung operasi militer AS dan Israel.
- Terganggunya stabilitas jalur logistik minyak mentah di Selat Hormuz yang berdampak global.
Poin-poin di atas menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara dua negara tersebut yang kini berada dalam satu aliansi BRICS. Hal ini menjadi tantangan besar bagi masa depan blok ekonomi tersebut dalam menjaga solidaritas antar anggota.
Upaya Mediasi yang Terhambat
India selaku mediator berusaha memperhalus narasi dalam dokumen hasil pertemuan tersebut untuk meredam tensi. Pemerintah India mengakui adanya perbedaan pandangan yang tajam di antara para anggota terkait situasi di Timur Tengah.
Berikut adalah ringkasan dampak konflik terhadap kepentingan strategis India:
| Aspek Terdampak | Detail Informasi |
|---|---|
| Keamanan Energi | Gangguan pasokan minyak dan gas melalui Selat Hormuz. |
| Logistik Maritim | Tenggelamnya kapal berbendera India di perairan konflik. |
| Korban Jiwa | Tiga personel warga negara India dilaporkan tewas. |
| Posisi Diplomatik | Tekanan untuk memihak antara mitra energi (Iran) dan sekutu strategis (UEA). |
Tabel ini merangkum kerugian dan tantangan yang harus dihadapi India sebagai tuan rumah pertemuan BRICS. Krisis ini membuktikan bahwa perbedaan politik regional masih menjadi ganjalan besar bagi kerja sama ekonomi multilateral.
Hingga pertemuan berakhir, belum ada tanda-tanda rekonsiliasi antara Teheran dan Abu Dhabi. Kondisi ini membuat masa depan konsensus dalam BRICS menjadi semakin tidak menentu di tengah dinamika geopolitik yang terus memanas.