Temuan Mengejutkan Kemenkes: 30 Persen Lansia RI Terindikasi Demensia 2026

Temuan Mengejutkan Kemenkes: 30 Persen Lansia RI Terindikasi Demensia 2026
Foto: Temuan Mengejutkan Kemenkes: 30 Persen Lansia RI Terindikasi Demensia 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merilis data terbaru mengenai kondisi kesehatan penduduk lanjut usia di Indonesia. Hasil skrining kesehatan pada tahun 2025 menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan terkait fungsi otak para lansia.

Sekitar 30 persen lansia yang telah menjalani pemeriksaan terdeteksi memiliki indikasi gangguan kognitif. Kondisi ini mencakup potensi penyakit demensia dan Alzheimer yang kian mengancam seiring bertambahnya usia.

Pertumbuhan Populasi Lansia di Indonesia

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa jumlah lansia di tanah air terus mengalami lonjakan. Berdasarkan Survei Penduduk Antar-Sensus (SUPAS), populasi lansia pada 2024 mencapai 34 juta jiwa atau sekitar 12 persen dari total penduduk.

Persentase ini diprediksi akan terus merangkak naik hingga menyentuh angka 20 persen pada tahun 2045 mendatang. Jika tren ini berlanjut, diperkirakan satu dari setiap lima orang di Indonesia nantinya adalah kelompok lanjut usia.

Berikut adalah data perkembangan populasi lansia serta angka harapan hidup di Indonesia:

Kategori Data Capaian Saat Ini Prediksi Tahun 2045
Persentase Populasi Lansia 12% (34 Juta Jiwa) 20% dari Total Penduduk
Angka Harapan Hidup ± 73 Tahun Terus Meningkat
Angka Harapan Hidup Sehat 61,5 Tahun Perlu Intervensi Medis

Tabel di atas menggambarkan adanya kesenjangan antara usia harapan hidup dengan masa hidup dalam kondisi sehat. Hal ini menjadi peringatan bagi sistem kesehatan nasional untuk lebih memperhatikan kualitas hidup lansia.

Tantangan Kualitas Hidup dan Masa Tua

Meskipun masyarakat Indonesia kini memiliki umur yang lebih panjang hingga rata-rata 73 tahun, kualitas kesehatannya belum optimal. Masa hidup sehat rata-rata penduduk ternyata hanya mencapai usia 61,5 tahun saja.

Ini berarti ada rentang waktu sekitar 11 tahun yang dihabiskan para lansia dalam kondisi fisik yang tidak prima. Imran menekankan bahwa situasi ini memicu risiko penurunan fungsi kognitif yang lebih besar di masa tua.

Kemenkes mencatat bahwa dari 34 juta lansia, baru sekitar 7 juta orang yang berhasil menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Temuan indikasi gangguan kognitif pada 30 persen peserta skrining tersebut menjadi sinyal waspada bagi pemerintah.

Beban Ekonomi dan Biaya Perawatan

Kondisi kesehatan mental lansia juga berdampak langsung pada sektor ekonomi, baik bagi keluarga maupun anggaran negara. Beban biaya medis akan melonjak drastis jika pasien demensia juga menderita penyakit penyerta atau komorbid.

Beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan biaya perawatan lansia antara lain:

  • Kehadiran penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi secara bersamaan.
  • Kebutuhan pendampingan intensif selama 24 jam untuk pasien dengan gangguan daya ingat.
  • Biaya obat-obatan rutin dan terapi jangka panjang yang tidak murah.
  • Peningkatan kebutuhan tenaga medis spesialis di luar rumah sakit.

Imran mengungkapkan bahwa biaya penanganan bisa membengkak hingga lima kali lipat saat demensia menyertai penyakit kronis lainnya. Hal ini menuntut adanya strategi perawatan yang lebih efisien dan tepat sasaran bagi masyarakat.

Adaptasi Layanan Kesehatan Masa Depan

Sistem layanan kesehatan di Indonesia kini mulai diarahkan untuk beradaptasi dengan kebutuhan perawatan jangka panjang. Tren global menunjukkan adanya pergeseran pola perawatan dari fasilitas panti atau rumah sakit menuju perawatan berbasis rumah (home care).

Pemerintah juga mulai melirik pemanfaatan teknologi digital untuk menjangkau lansia di daerah terpencil. Inovasi berupa aplikasi pemantauan dan edukasi dianggap menjadi solusi efektif bagi keterbatasan fasilitas medis di kota-kota kecil.

Melalui integrasi teknologi dan keterlibatan komunitas, diharapkan lansia tetap mendapatkan perawatan yang layak meski jauh dari pusat kota. Dukungan keluarga tetap menjadi faktor kunci agar lansia di Indonesia bisa tetap berdaya dan berkualitas di masa senja.

Artikel terkait

Rekomendasi