Target Revitalisasi 100 Ribu Sekolah 2026, SMA Unik di Papua Jadi Sorotan Utama

Target Revitalisasi 100 Ribu Sekolah 2026, SMA Unik di Papua Jadi Sorotan Utama
Foto: Target Revitalisasi 100 Ribu Sekolah 2026, SMA Unik di Papua Jadi Sorotan Utama. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Program revitalisasi satuan pendidikan kini menjadi prioritas utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Inisiatif ini merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Target perbaikan sekolah mencakup wilayah yang sangat luas, mulai dari ujung Aceh hingga tanah Papua. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh fasilitas pendidikan di Indonesia layak digunakan.

Target Perbaikan Ratusan Ribu Sekolah

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa Presiden Prabowo berkomitmen memperbaiki seluruh sekolah dalam waktu lima tahun. Program ambisius ini telah dimulai sejak tahun 2025 dengan target awal sebanyak 16.167 sekolah.

Memasuki tahun 2026, Presiden meminta kuota perbaikan ditingkatkan secara signifikan menjadi 71.744 sekolah. Penambahan ini bertujuan agar percepatan kualitas sarana pendidikan bisa dirasakan lebih cepat oleh masyarakat.

Rincian target program revitalisasi sekolah pemerintah adalah sebagai berikut:

  • Target awal pembangunan dan perbaikan pada tahun 2025 sebanyak 16.167 satuan pendidikan.
  • Penambahan target besar-besaran pada tahun 2026 yang menyasar 71.744 sekolah.
  • Total akumulasi sasaran perbaikan dalam dua tahun pemerintahan mencapai hampir 100 ribu sekolah.

Data tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengejar ketertinggalan infrastruktur pendidikan secara nasional. Abdul Mu'ti menegaskan bahwa akumulasi perbaikan ini akan memberikan dampak besar bagi dunia pendidikan.

Prioritas Pembangunan di Wilayah Indonesia Timur

Dalam kunjungannya ke Papua, Mendikdasmen menekankan bahwa wilayah Indonesia Timur menjadi fokus utama pembangunan manusia. Pemerintah berupaya keras untuk menghapus kesenjangan pendidikan yang selama ini terjadi.

Wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) akan mendapatkan perlakuan khusus dalam pengajuan unit sekolah baru. Prioritas ini diberikan agar standar pendidikan di daerah terpencil bisa sejajar dengan daerah perkotaan.

Langkah ini juga dipersiapkan sebagai landasan penerapan program Wajib Belajar 13 Tahun. Program tersebut mewajibkan anak-anak untuk mengenyam pendidikan mulai dari jenjang taman kanak-kanak (TK).

Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Ali Bahan Temongmere, menyambut positif kehadiran pemerintah pusat di wilayahnya. Ia yakin bahwa peningkatan kualitas pendidikan adalah kunci utama dalam membangun karakter SDM di Papua.

Keunikan SMA Muhammadiyah Conservation di Manokwari

Salah satu sekolah yang menarik perhatian dalam program revitalisasi ini adalah SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari. Proses renovasi sekolah ini berlangsung sangat cepat, hanya memakan waktu 3 bulan dari target awal 10 bulan.

Sekolah ini menonjol karena tingkat inklusivitasnya yang tinggi di tengah keberagaman. Sekitar 60 hingga 70 persen siswanya adalah putra daerah asli Papua yang mayoritas beragama nonmuslim.

Informasi mengenai SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari:

Aspek Keunikan Deskripsi Informasi
Waktu Revitalisasi Selesai dalam 3 bulan (lebih cepat dari target 10 bulan).
Profil Siswa Didominasi oleh anak asli Papua dan siswa nonmuslim.
Metode Belajar Menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning.
Falsafah Sekolah Mengadopsi nilai kearifan lokal "Igya Ser Hanjop".

Tabel di atas merangkum bagaimana SMAMCO menjadi contoh sekolah yang mengintegrasikan pendidikan modern dengan nilai budaya lokal. Konsep ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas namun tetap menjaga jati diri.

Falsafah "Igya Ser Hanjop" yang dipegang sekolah ini berasal dari nilai masyarakat Pegunungan Arfak. Tradisi ini merupakan komitmen kuat untuk menjaga kelestarian hutan sebagai sumber utama kehidupan mereka.

Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, revitalisasi ini diharapkan tidak hanya memperbaiki fisik bangunan. Lebih dari itu, diharapkan siswa dapat meraih cita-citanya tanpa melupakan tanggung jawab menjaga lingkungan.

Artikel terkait

Rekomendasi