Studi Terbaru: Trauma Masa Kecil Tingkatkan Risiko Kanker di Tahun 2026

Studi Terbaru: Trauma Masa Kecil Tingkatkan Risiko Kanker di Tahun 2026
Foto: Studi Terbaru: Trauma Masa Kecil Tingkatkan Risiko Kanker di Tahun 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa pengalaman kekerasan pada masa kecil dapat meningkatkan risiko penyakit serius di usia dewasa, termasuk kanker. Meskipun kekerasan masa kecil sering kali berhubungan dengan gangguan emosional dan mental, penelitian terbaru menunjukkan dampak yang lebih serius.

Menurut laman Everyday Health, para peneliti di Kanada mendapati bahwa orang dewasa yang mengalami kekerasan saat kecil memiliki risiko kanker yang lebih tinggi. Risiko meningkat tajam pada korban kekerasan seksual yang melibatkan ancaman atau pemaksaan, hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidak mengalami kekerasan serupa.

"Studi ini menambah bukti bahwa pengalaman masa kecil sangat penting bagi kesehatan di masa depan," kata Katie Ports dari AIR. Ports menjelaskan bahwa kesehatan seseorang banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, baik positif maupun negatif.

Data dan Temuan Penelitian

Penelitian melibatkan 2.636 warga Kanada di atas 65 tahun, yang ikut serta dalam survei nasional terkait kesehatan mental. Mereka adalah individu yang mengalami berbagai bentuk kekerasan di masa kecil, seperti kekerasan fisik, menyaksikan kekerasan antar orang tua, dan kekerasan seksual. Kekerasan seksual dibagi menjadi dua kategori: sentuhan yang tidak diinginkan dan kekerasan seksual berat.

Para peneliti juga memperhitungkan faktor lain yang dapat memengaruhi risiko kanker, seperti jenis kelamin, ras, status imigran, status pernikahan, pendidikan, pendapatan, kebiasaan, dan kondisi kesehatan lainnya. Dari data ini, sekitar 21 persen partisipan didiagnosis menderita kanker, dengan prevalensi lebih tinggi pada penyintas kekerasan masa kecil.

Di kalangan mereka yang menyaksikan kekerasan rumah tangga, prevalensi kanker mencapai 27 persen, sementara pada korban kekerasan fisik mencapai 28 persen. Korban kekerasan seksual berat tercatat memiliki risiko tertinggi dengan prevalensi 35,5 persen.

Mekanisme Trauma dan Risiko Kanker

Para peneliti menduga bahwa trauma masa kecil mempengaruhi respons tubuh terhadap stres dan dapat mengganggu sistem kekebalan dan peradangan. Stres beracun yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker.

"Trauma berulang dapat menyebabkan stres beracun, yaitu ketika tubuh terus menerus dalam mode siaga," ungkap Ports. Kondisi ini dapat mempengaruhi perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan respons fisik seseorang.

Fenomena ini dikenal sebagai biological embedding, di mana pengalaman masa kecil tertanam dalam sistem biologis tubuh dan dapat mempengaruhi hormon dan sistem kekebalan. Peneliti dari Universitas Toronto, Esme Fuller-Thomson, mencatat bahwa hubungan ini memperlihatkan pola perubahan jangka panjang pada tubuh yang berisiko terhadap penyakit kronis.

Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya mengenai kekerasan seksual di masa kecil yang berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan dewasa. Kendati demikian, peneliti menegaskan bahwa tidak semua penyintas kekerasan masa kecil pasti menderita kanker. "Mayoritas penyintas tidak mengalaminya. Penelitian ini menjelaskan tentang peningkatan risiko, bukan kepastian," tambah Fuller-Thomson.

Artikel terkait

Rekomendasi