Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan hampir separuh dari total persediaan rudal pencegat anti-balistik miliknya untuk melindungi Israel. Langkah ini dilakukan guna meredam serangan besar-besaran yang diluncurkan oleh Iran baru-baru ini.
Besarnya penggunaan amunisi tersebut memicu kekhawatiran mendalam di internal Pentagon. Para pejabat militer cemas terhadap kemampuan AS dalam menghadapi ancaman di wilayah lain, terutama dari China dan Korea Utara.
Stok Rudal Pencegat AS Terkuras Signifikan
Laporan dari The Telegraph pada Kamis (21/5/2026) mengungkapkan bahwa AS telah menembakkan sekitar 200 unit rudal pencegat. Jumlah tersebut setara dengan setengah dari total stok sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang mereka miliki.
Selain sistem THAAD, kekuatan militer Amerika Serikat juga meluncurkan ratusan rudal canggih lainnya ke udara. Berikut adalah rincian amunisi yang dikerahkan dalam upaya pertahanan tersebut:
Daftar penggunaan rudal pertahanan udara oleh militer Amerika Serikat:
- Lebih dari 100 unit rudal tipe Standard Missile-3 (SM-3) telah diluncurkan.
- Rudal tipe Standard Missile-6 (SM-6) juga dikerahkan dalam jumlah yang mencapai lebih dari 100 unit.
- Total penggunaan rudal pencegat AS tercatat 120 unit lebih banyak dibandingkan jumlah yang digunakan Israel.
Data ini menunjukkan beban pertahanan yang dipikul AS sangat besar dalam menghadapi serangan Iran. AS tercatat harus melumpuhkan ancaman rudal Iran dengan jumlah dua kali lipat lebih banyak daripada yang dihadapi sistem internal Israel.
Perbandingan Kekuatan Pertahanan di Lapangan
Meskipun Israel memiliki sistem pertahanan udara mandiri, ketergantungan pada dukungan Amerika Serikat tetap terlihat sangat tinggi. Hal ini terlihat dari perbedaan jumlah rudal yang diluncurkan oleh kedua negara dalam konflik tersebut.
Perbandingan jumlah penggunaan rudal pencegat antara Amerika Serikat dan Israel:
| Kategori Rudal | Negara Pengguna | Estimasi Jumlah |
|---|---|---|
| THAAD, SM-3, dan SM-6 | Amerika Serikat | Sekitar 300+ Unit |
| Rudal Arrow | Israel | Sekitar 100 Unit |
| David’s Sling | Israel | Sekitar 90 Unit |
Tabel di atas menunjukkan bahwa intensitas operasional militer AS melampaui penggunaan rudal Arrow dan David’s Sling milik Israel. Selisih jumlah penggunaan amunisi ini menjadi dasar munculnya perdebatan mengenai ketahanan stok senjata Washington.
Kekhawatiran Negara Sekutu di Kawasan Asia
Menipisnya stok pertahanan udara Amerika Serikat secara cepat mulai menimbulkan kecemasan di kalangan negara sekutu lainnya. Jepang dan Korea Selatan disebut sebagai pihak yang paling khawatir terhadap dampak situasi ini.
Kedua negara tersebut sangat bergantung pada payung keamanan AS untuk menghadapi ancaman dari China dan Korea Utara. Berkurangnya persediaan rudal pencegat dianggap dapat melemahkan stabilitas keamanan di kawasan Asia Timur.
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan bahwa Israel dan AS telah berbagi tanggung jawab secara adil. Ia menegaskan bahwa beban pertahanan yang dipikul kedua negara berada pada porsi yang seimbang.
Parnell menambahkan bahwa rudal pencegat balistik sebenarnya hanyalah salah satu komponen dari sistem yang lebih besar. AS mengklaim memiliki jaringan pertahanan udara berlapis yang sangat terintegrasi untuk menangani berbagai ancaman.
Perspektif Israel dan Kritik Terhadap Kebijakan Trump
Pihak Kedutaan Besar Israel di Washington memberikan pembelaan terhadap kerja sama militer yang sangat intensif ini. Mereka mengklaim bahwa konfrontasi melawan Iran memberikan keuntungan strategis bagi kedua negara serta sekutu-sekutu mereka.
Menurut juru bicara kedutaan, AS tidak memiliki mitra lain dengan kesiapan dan kemampuan militer sehebat Israel. Kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas kawasan menjadi alasan utama di balik kolaborasi pertahanan yang masif ini.
Di sisi lain, kebijakan luar negeri ini tidak lepas dari tekanan politik domestik di Amerika Serikat. Presiden Donald Trump, yang mulai melancarkan serangan terhadap Iran sejak akhir Februari, kini menghadapi kritik dari basis pendukungnya sendiri terkait efektivitas strategi tersebut.