Status UNESCO Raja Ampat Dipertaruhkan, Kemenpar Siapkan Langkah Terbaru Jelang Revalidasi 2026

Status UNESCO Raja Ampat Dipertaruhkan, Kemenpar Siapkan Langkah Terbaru Jelang Revalidasi 2026
Foto: Status UNESCO Raja Ampat Dipertaruhkan, Kemenpar Siapkan Langkah Terbaru Jelang Revalidasi 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kini tengah mempercepat berbagai langkah strategis untuk menghadapi proses revalidasi status Raja Ampat. Upaya ini dilakukan guna memastikan kawasan di Papua Barat Daya tersebut tetap menyandang gelar UNESCO Global Geopark.

Fokus utama pemerintah saat ini adalah memperkuat tata kelola destinasi berbasis pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism. Langkah ini diambil agar keindahan alam Raja Ampat tetap terjaga di tengah meningkatnya arus kunjungan wisatawan.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menjelaskan bahwa dirinya telah meninjau langsung kondisi di lapangan. Peninjauan tersebut melibatkan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah serta para pelaku industri pariwisata setempat.

Salah satu aspek paling krusial dalam pembenahan ini adalah perhitungan daya dukung lingkungan atau carrying capacity. Hal ini sangat penting terutama untuk mengatur aktivitas wisata selam yang menjadi daya tarik utama Raja Ampat.

Widiyanti menekankan perlunya pendataan jumlah kapal yang ideal agar tidak melebihi kapasitas di setiap lokasi penyelaman. Pernyataan ini disampaikan usai membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata di Jakarta, Rabu (20/5).

Strategi Perlindungan Ekosistem Laut

Untuk menjaga kelestarian terumbu karang dari kerusakan fisik, pemerintah telah merancang dua kebijakan utama. Fokus kebijakan ini adalah pada perbaikan sarana prasarana serta standardisasi layanan bagi para pelancong.

Langkah konkret pemerintah dalam melindungi ekosistem bawah laut Raja Ampat meliputi:

  • Pemasangan 136 mooring buoys atau pelampung tambat di berbagai titik strategis agar kapal wisata tidak perlu menjatuhkan jangkar yang dapat merusak karang.
  • Penerapan standardisasi akomodasi hijau untuk semua jenis penginapan, mulai dari hotel berbintang hingga homestay milik penduduk lokal.

Fasilitas pelampung tambat tersebut diharapkan menjadi solusi efektif untuk mencegah kerusakan mekanis pada dasar laut. Di sisi lain, standarisasi akomodasi bertujuan agar seluruh rantai industri pariwisata menerapkan prinsip ramah lingkungan.

Penanganan Masalah Sampah dan Limbah

Selain perlindungan karang, tata kelola limbah menjadi tantangan besar yang tengah dicarikan solusinya oleh Kemenpar. Regulasi ketat akan diberlakukan bagi kapal-kapal wisata agar tidak membuang sampah sembarangan di tengah laut.

Widiyanti juga menyoroti masalah sampah domestik yang sering terbawa arus sungai dari daratan menuju laut. Isu sampah ini telah menjadi perhatian nasional karena dampaknya yang merusak ekosistem perairan Raja Ampat secara luas.

Salah satu rencana teknis yang dipertimbangkan adalah pemasangan jaring khusus di setiap muara sungai untuk menjaring sampah dari darat. Namun, rencana ini masih memerlukan perhitungan biaya operasional dan koordinasi yang sangat matang.

Tim asesor dari UNESCO dijadwalkan akan datang langsung ke Raja Ampat pada Agustus mendatang untuk melakukan penilaian. Kunjungan ini merupakan momen penentu bagi komitmen pengelolaan kawasan tersebut di mata internasional.

Melalui proses revalidasi ini, pemerintah berharap predikat UNESCO Global Geopark tetap melekat pada Raja Ampat. Hal ini bukan sekadar gelar, melainkan simbol keberhasilan Indonesia dalam menjaga warisan alam dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi