Sourdough Benar Lebih Sehat dari Roti Biasa? Simak Fakta Terbaru 2026

Sourdough Benar Lebih Sehat dari Roti Biasa? Simak Fakta Terbaru 2026
Foto: Sourdough Benar Lebih Sehat dari Roti Biasa? Simak Fakta Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Beberapa tahun belakangan ini, roti sourdough semakin populer dan menjadi primadona di kalangan pecinta gaya hidup sehat. Banyak orang meyakini bahwa roti ini jauh lebih sehat dibandingkan roti biasa, terutama karena klaim kemampuannya yang lebih ramah terhadap sistem pencernaan.

Para ahli gizi pun mengonfirmasi bahwa sourdough cenderung lebih mudah dicerna oleh tubuh jika disandingkan dengan roti yang menggunakan ragi instan. Fenomena ini membuat banyak orang mulai beralih mengonsumsi roti dengan tekstur khas tersebut untuk menjaga kesehatan perut mereka.

Melansir dari Real Simple, sourdough merupakan jenis roti yang dihasilkan melalui mekanisme fermentasi alami. Proses ini menggunakan starter, yakni perpaduan tepung dan air yang secara alami memicu pertumbuhan ragi serta bakteri baik dari udara bebas.

Perbedaan mendasar sourdough terletak pada durasi produksinya, di mana proses fermentasinya memakan waktu jauh lebih lama dibandingkan pembuatan roti pada umumnya. Hal inilah yang memberikan karakteristik unik baik dari segi rasa maupun manfaat kesehatannya.

Ahli gizi Jordan Langhough menjelaskan bahwa durasi fermentasi yang panjang tersebut menjadi kunci mengapa sourdough lebih mudah diterima oleh tubuh manusia. Bakteri baik dan ragi yang terkandung di dalamnya bekerja melakukan "pencernaan awal" sebelum roti tersebut dikonsumsi.

Secara alami, mikroorganisme tersebut memecah struktur pati dan gluten saat adonan masih dalam proses fermentasi. Dampaknya, mereka yang sering merasa kembung atau begah setelah makan roti biasa justru merasa lebih nyaman saat menyantap sourdough.

Selain masalah kenyamanan perut, proses fermentasi ini juga berdampak signifikan pada struktur pati di dalam roti. Menurut ahli gizi Jackie Bridson, perubahan struktur tersebut mampu memperlambat proses pencernaan karbohidrat di dalam tubuh.

Bridson menambahkan bahwa melambatnya penyerapan gula ini sangat membantu dalam menjaga stabilitas kadar gula darah. Sourdough diketahui memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan roti putih konvensional yang sering memicu lonjakan energi sesaat.

Seorang ahli gizi lainnya, Megan Huff, menyoroti peran penting bakteri asam laktat yang muncul selama masa fermentasi. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar fitat, yaitu senyawa alami yang sering menghambat penyerapan nutrisi penting oleh tubuh.

Dengan menurunnya kadar fitat tersebut, tubuh manusia menjadi lebih efisien dalam menyerap berbagai zat gizi esensial. Nutrisi penting seperti vitamin B, zat besi, hingga selenium yang terdapat dalam roti pun bisa terserap secara maksimal ke dalam aliran darah.

Perbandingan Nutrisi Sourdough dengan Jenis Roti Lain

Berdasarkan data dari Martha Stewart, berikut adalah perbandingan nutrisi sourdough dengan beberapa varian roti populer jika menggunakan jenis tepung yang serupa:

Jenis Roti Kalori (per 100g) Protein (gram) Serat (gram)
Sourdough 319 13 3,1
Roti Putih 238 10,7 9,2
Roti Gandum 252 12,4 6
Biji-bijian Utuh 265 13,4 7,4

Data di atas menunjukkan bahwa sourdough memiliki kepadatan kalori dan protein yang cukup tinggi dibandingkan roti putih biasa. Namun, dari sisi kandungan lemak, sourdough memiliki kadar sekitar 2,14 gram yang relatif serupa dengan kandungan lemak pada roti putih.

Meskipun kaya akan manfaat, perlu diingat bahwa sourdough bukanlah makanan yang boleh dikonsumsi tanpa batasan. Kandungan karbohidratnya tetap harus diawasi, terutama bagi individu yang sedang menjalankan program penurunan berat badan atau pengendalian gula darah.

Untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih maksimal, para ahli menyarankan agar sourdough dikombinasikan dengan bahan pangan lainnya. Anda bisa menyajikannya bersama sumber protein dan lemak sehat seperti telur, alpukat, sayuran segar, selai kacang, atau minyak zaitun.

Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah sourdough tetap mengandung gluten meskipun strukturnya sudah mengalami pemecahan selama fermentasi. Oleh karena itu, roti ini tetap tidak direkomendasikan bagi mereka yang memiliki kondisi medis intoleransi gluten atau penyakit celiac.

Dengan memahami karakteristik dan kandungan gizinya, Anda dapat menjadikan sourdough sebagai bagian dari pola makan sehat yang seimbang. Pilihan ini sangat cocok bagi Anda yang menginginkan roti dengan kualitas nutrisi lebih baik namun tetap memperhatikan kenyamanan pencernaan.

Artikel terkait

Rekomendasi