Sisi Kelam Hollywood: Upaya Mengejutkan LA Sembunyikan Tunawisma Jelang Piala Dunia 2026

Sisi Kelam Hollywood: Upaya Mengejutkan LA Sembunyikan Tunawisma Jelang Piala Dunia 2026
Foto: Sisi Kelam Hollywood: Upaya Mengejutkan LA Sembunyikan Tunawisma Jelang Piala Dunia 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Menjelang perhelatan Piala Dunia 2026, Los Angeles mulai melakukan pembersihan besar-besaran terhadap tenda-tenda kumuh di trotoar kota. Langkah ini diambil untuk memberikan kesan rapi saat menyambut tim nasional dan suporter dari berbagai belahan dunia.

Wali Kota Los Angeles, Karen Bass, telah memindahkan ribuan tunawisma ke sebuah hunian prefabrikasi yang sangat mungil seluas 6 meter persegi. Proyek hunian yang dikenal dengan sebutan "tiny homes" ini menelan anggaran fantastis mencapai USD 300 juta atau sekitar Rp 4,8 triliun.

Kontroversi Hunian Mini untuk Tunawisma

Salah satu penghuni, Michael Gilpin (44), memberikan kesan yang beragam terhadap tempat tinggal barunya tersebut. Ia merasa ruangan satu petak itu mirip dengan sel penjara karena ukurannya yang sangat terbatas.

Meski begitu, Gilpin mengakui bahwa hunian ini masih jauh lebih manusiawi dibandingkan harus tidur di dalam mobil. Ia merasa lebih tenang karena tidak lagi harus berurusan dengan kecoak dan kerasnya kehidupan jalanan.

Program sterilisasi kota ini perlahan mulai menunjukkan hasil yang signifikan di beberapa kawasan ikonik. Area populer seperti Hollywood dan Pantai Venice kini mulai bersih dari kluster tenda-tenda liar yang sebelumnya menjamur.

Berdasarkan data sensus terbaru, jumlah tunawisma yang hidup di jalanan menurun sebesar 17,5% dalam dua tahun terakhir. Penurunan ini tercatat sebagai yang paling konsisten sejak pendataan pertama kali dilakukan 20 tahun silam.

Kesenjangan Antara Kapasitas dan Realitas

Meskipun ada klaim kesuksesan, banyak pihak menilai proyek ini hanya solusi instan yang tidak menyentuh akar masalah. Skala krisis tunawisma di Los Angeles County tetap berada di angka yang mengkhawatirkan.

Data tunawisma di wilayah Los Angeles :
  • Terdapat sekitar 72.000 orang yang tidak memiliki tempat tinggal tetap.
  • Sebanyak 47.000 orang di antaranya masih telantar dan hidup di jalanan.
  • Kapasitas tempat tidur penampungan di San Fernando Valley kalah jauh dibandingkan jumlah tunawisma.
  • Banyak tenda baru muncul kembali hanya sesaat setelah petugas melakukan pembongkaran.

Data di atas menunjukkan bahwa ketersediaan hunian belum mampu mengimbangi jumlah warga yang membutuhkan bantuan. Kondisi ini membuat banyak tunawisma harus mengantre dalam waktu yang sangat lama tanpa kepastian.

Harapan dan Aturan yang Mengekang

Keterbatasan kuota hunian dialami langsung oleh seorang wanita bernama Maggie yang sudah sepuluh tahun hidup luntang-lantung. Ia mengaku sudah berada dalam daftar tunggu selama tiga bulan terakhir untuk mendapatkan tempat tinggal.

Maggie hanya bisa berharap pemerintah setempat segera memberinya hunian permanen agar hidupnya lebih stabil. Namun, bagi mereka yang sudah mendapatkan hunian mungil, masalah baru justru muncul akibat aturan yang kaku.

Fasilitas hunian tersebut menerapkan larangan bagi penghuni untuk membawa tamu atau pengunjung ke dalam ruangan. Aturan ketat ini disinyalir menjadi penyebab program tidak berjalan maksimal dalam jangka panjang.

Statistik pada akhir tahun 2025 menunjukkan sekitar 40% penghuni memilih keluar dan kembali ke jalanan. Mereka merasa tertekan dengan aturan kaku dan mahalnya biaya hidup yang terus meroket di California.

Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintah

Michael Reyes (59), seorang pekerja pemeliharaan, juga merasakan betapa beratnya beban hidup di kota tersebut. Setelah mengalami kecelakaan kerja, ia terpaksa tidur di kursi belakang mobil karena tidak sanggup membayar sewa.

Reyes mengkritik sistem yang ada karena tunjangan yang ia terima tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup. Ia merasa ada yang salah dengan kebijakan pemerintah dalam menangani kesejahteraan warganya.

Rincian estimasi biaya hidup dan dampak sosial :
Kategori Masalah Deskripsi Kondisi
Sewa Apartemen Studio Mencapai rata-rata USD 1.800 atau sekitar Rp 29 juta per bulan.
Tingkat Retensi Hunian Hanya 60% penghuni yang bertahan, sisanya kembali ke jalanan.
Tujuan Pembersihan Dinilai lebih mengutamakan estetika demi turis Piala Dunia.

Tabel tersebut menggambarkan betapa mahalnya tarif sewa di Los Angeles yang menjadi faktor utama krisis hunian. Hal ini memicu kecurigaan bahwa pembenahan kota hanya bersifat sementara demi menjaga citra di mata dunia.

Reyes bahkan dengan sinis menyebut bahwa upaya pembersihan Hollywood dilakukan hanya demi kenyamanan turis asing. Ia meragukan komitmen pemerintah untuk mempertahankan ketertiban ini setelah ajang Piala Dunia berakhir nanti.

Artikel terkait

Rekomendasi