Sejarah Gaun Babydoll dan Kontroversi Fashion yang Menjerat Olivia Rodrigo

Sejarah Gaun Babydoll dan Kontroversi Fashion yang Menjerat Olivia Rodrigo
Foto: Ilustrasi Sejarah Gaun Babydoll dan Kontroversi Fashion yang Menjerat Olivia Rodrigo.
Ukuran teks

Gaya busana Olivia Rodrigo kembali memicu perbincangan hangat di jagat maya setelah dirinya tampil dengan gaun babydoll yang ikonis. Penyanyi muda yang tengah mempromosikan EP terbarunya ini terlihat mengadopsi estetika retro era 1960-an dalam berbagai kesempatan penampilannya.

Gaun tersebut tampil dengan ciri khas yang feminin melalui siluet longgar, detail renda, serta kesan playful yang kuat. Dalam video musik terbarunya berjudul Drop Dead, Olivia bahkan mengenakan gaun tidur biru berenda karya desainer Chloe di sebuah lorong bergaya Versailles.

Penampilan visual tersebut disebut-sebut mengingatkan banyak orang pada kemewahan film klasik pertengahan abad ke-20, Valley of the Dolls. Tidak hanya dalam video musik, Olivia juga memilih gaun merah muda dengan kerah Peter Pan untuk sampul album teranyarnya.

Puncaknya, saat tampil di Barcelona pada awal Mei 2026, ia kembali mengenakan gaun babydoll bermotif bunga-bunga retro. Sayangnya, penampilan di atas panggung tersebut justru memantik perdebatan sengit di antara para pengguna media sosial di platform X dan Threads.

Beberapa netizen melontarkan kritik yang mengaitkan gaya busana tersebut dengan citra yang dianggap terlalu kekanak-kanakan. Padahal, Olivia menegaskan bahwa pilihan busananya memiliki akar sejarah yang kuat pada gerakan musik rock perempuan di masa lalu.

Beberapa inspirasi gaya yang menjadi dasar pilihan fesyen Olivia Rodrigo antara lain:

  • Kekagumannya pada sosok Courtney Love yang sering tampil dengan gaya serupa di atas panggung.
  • Pengaruh dari Kat Bjelland, musisi dari band punk beraliran riot grrrl yang mempopulerkan gaun ini.
  • Keinginan untuk menonjolkan rasa percaya diri melalui siluet gaun yang nyaman namun tetap eksentrik.
  • Kecintaan pada estetika retro yang menggabungkan elemen manis sekaligus memberontak.

Melalui wawancaranya dengan Vogue, Olivia menjelaskan bahwa ia sangat menyukai ide di balik gaun babydoll tersebut. Baginya, para musisi punk masa lalu telah berhasil mengubah gaun yang terlihat manis menjadi simbol keberanian di atas panggung.

Sejarah Lahirnya Gaun Babydoll di Tengah Krisis Dunia

Meski kini dikenal sebagai tren fesyen modern, gaun babydoll sebenarnya memiliki sejarah panjang yang bermula pada tahun 1942. Busana ini pertama kali dipopulerkan oleh Sylvia Pedlar, seorang desainer pakaian dalam yang sangat berpengaruh pada masanya.

Karya-karya Pedlar bahkan kini diabadikan sebagai bagian dari koleksi kostum di The Metropolitan Museum of Art (The Met) di New York. Menariknya, penciptaan siluet babydoll ini berawal dari situasi sulit selama masa Perang Dunia II melanda berbagai belahan dunia.

Pada saat itu, pemerintah melakukan kebijakan penjatahan kain untuk mendukung kebutuhan perang bagi tentara di lapangan. Hal ini memaksa para desainer untuk memutar otak agar tetap bisa memproduksi pakaian dengan bahan yang sangat terbatas.

Pedlar kemudian mengambil langkah inovatif dengan memotong panjang gaun tidur tradisional menjadi lebih pendek hingga sebatas lutut. Hasilnya adalah sebuah desain yang tidak hanya hemat bahan, tetapi juga terasa lebih ringan dan praktis bagi perempuan.

Meskipun desain ini kemudian dikenal secara luas dengan sebutan babydoll, Sylvia Pedlar dikabarkan secara pribadi kurang menyukai istilah tersebut. Namun, nama itu terlanjur melekat di hati masyarakat dan terus digunakan hingga menjadi salah satu istilah fesyen paling dikenal.

Ringkasan perkembangan awal gaun babydoll dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Aspek Sejarah Keterangan Detail
Tahun Muncul Sekitar tahun 1942 (Era Perang Dunia II)
Desainer Pelopor Sylvia Pedlar (Desainer pakaian dalam)
Latar Belakang Kebijakan penjatahan kain akibat situasi perang
Ciri Desain Awal Potongan pendek sebatas lutut, hemat bahan, dan ringan
Status Saat Ini Menjadi koleksi sejarah di Metropolitan Museum of Art

Tabel di atas merangkum bagaimana keterbatasan material di masa perang justru melahirkan sebuah gaya busana yang ikonik. Transformasi dari pakaian tidur praktis menjadi tren mode menunjukkan fleksibilitas desain babydoll sepanjang waktu.

Evolusi Menjadi Simbol Kebebasan dan Budaya Pop

Memasuki era 1950-an, popularitas busana ini melonjak tajam setelah penayangan film berjudul Baby Doll karya sutradara Tennessee Williams. Aktris Carroll Baker yang memerankan karakter utama tampil memukau dengan gaun tidur pendek yang sangat feminin.

Kehadiran film tersebut secara otomatis memperkuat istilah 'babydoll' dalam kamus fesyen global dan budaya populer masyarakat. Sejak saat itu, penggunaan gaun babydoll mulai meluas dari sekadar baju tidur menjadi busana yang layak dipakai sehari-hari.

Pada dekade 1960-an, gaya ini semakin diminati berkat pengaruh budaya Swinging London dan sentuhan kreatif dari desainer Mary Quant. Siluet pinggang empire dan potongan yang mengembang memberikan kesan bebas dan tidak mengekang tubuh perempuan pemakainya.

Selain gaunnya, penggunaan bloomers atau celana pendek longgar yang sering dipadukan dengan babydoll juga memiliki nilai sejarah. Item ini sempat menjadi simbol gerakan suffragette yang memperjuangkan hak-hak perempuan serta kebebasan dalam berpakaian.

Berikut adalah beberapa karakteristik utama yang membuat gaun babydoll tetap relevan hingga sekarang:

  • Potongan pinggang tinggi atau empire waist yang memberikan kesan jenjang pada kaki.
  • Siluet rok yang longgar dan melebar sehingga sangat nyaman untuk bergerak aktif.
  • Panjang gaun yang biasanya berada di atas lutut, menonjolkan kesan manis dan playful.
  • Detail dekoratif seperti renda, pita, atau kerah Peter Pan yang memperkuat aura retro.

Kombinasi antara sejarah perjuangan perempuan dan aspek estetika yang manis membuat gaun ini selalu punya tempat di hati para pecinta mode. Hingga saat ini, para desainer terus memberikan sentuhan baru pada siluet babydoll tanpa menghilangkan jati diri aslinya.

Perjalanan panjang gaun babydoll dari era krisis kain hingga menjadi kontroversi di tangan selebriti seperti Olivia Rodrigo menunjukkan kekuatan sebuah desain. Fesyen bukan sekadar soal pakaian, melainkan juga cerminan sejarah dan ekspresi diri pemakainya.

Artikel terkait

Rekomendasi