Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren negatif pada penutupan perdagangan hari Kamis (28/5/2026). Mata uang Garuda tercatat mengalami penyusutan nilai di tengah meningkatnya tekanan global.
Mengutip data dari Bloomberg, rupiah berakhir di posisi Rp 17.845 per dollar AS pada sore hari ini. Angka tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 44,5 poin atau setara dengan 0,25 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Sepanjang sesi perdagangan hari ini, pergerakan rupiah sempat mengalami tekanan yang cukup dalam hingga menyentuh titik terendah. Tercatat pada pukul 10.58 WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.906 per dollar AS.
Analisis Penyebab Pelemahan Rupiah
Ibrahim Assuaibi, seorang analis mata uang dan komoditas, menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Ketegangan geopolitik internasional menjadi motor utama yang menekan posisi mata uang domestik.
Dari sisi eksternal, konflik antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan semakin memanas setelah adanya serangan baru dari pihak AS. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu serangan balasan dari Iran dalam waktu dekat.
Situasi semakin pelik setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman terhadap Oman. Negara tersebut terancam diserang karena posisinya sebagai mediator yang mendukung upaya perdamaian antara Iran dan AS.
Sementara itu, kondisi di Eropa Timur juga tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Ukraina saat ini tengah mengajukan permintaan bantuan kepada AS untuk menghadapi serangan intensif dari Rusia.
Ibrahim menyebutkan bahwa ibu kota Ukraina, Kyiv, terus digempur menggunakan ratusan pesawat nirawak (drone) serta rudal. Hal ini membuat suhu politik global semakin mendidih baik di kawasan Timur Tengah maupun Eropa.
Berikut adalah faktor utama yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah hari ini:
- Meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat pascaserangan terbaru.
- Ancaman militer Amerika Serikat terhadap Oman yang bertindak sebagai negara negosiator.
- Permintaan bantuan militer Ukraina kepada AS akibat serangan drone dan rudal Rusia ke Kyiv.
- Lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh ketidakstabilan geopolitik global.
- Ekspektasi pasar terkait kebijakan suku bunga tinggi oleh bank sentral AS atau The Fed.
Daftar poin di atas merangkum berbagai isu strategis yang secara kolektif memberikan sentimen negatif terhadap pasar keuangan dalam negeri.
Dampak Geopolitik terhadap Harga Minyak dan Inflasi
Ibrahim menambahkan bahwa meningkatnya tensi dunia secara langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah internasional. Saat ini, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan telah menyentuh angka 96 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga energi ini diprediksi akan menjadi pemantik inflasi di tingkat global, termasuk di Amerika Serikat sendiri. Kondisi inflasi yang tinggi membuat pelaku pasar memproyeksikan kebijakan moneter yang ketat.
Bank sentral AS atau The Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini dilakukan guna meredam laju kenaikan harga barang dan jasa di negara tersebut.
Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari. Beliau menekankan bahwa fokus utama Bank Sentral saat ini adalah mengendalikan inflasi yang tinggi.
Menurut Kashkari, masalah inflasi saat ini menjadi prioritas yang lebih mendesak dibandingkan kekhawatiran soal penurunan kondisi pasar tenaga kerja. Penegasan ini memberikan sinyal kuat bahwa kebijakan suku bunga ketat masih akan berlanjut.
Data ringkasan pergerakan kurs dan indikator pasar pada perdagangan hari ini:
| Indikator Pasar | Keterangan Data |
|---|---|
| Posisi Penutupan Rupiah | Rp 17.845 per dollar AS |
| Level Terendah Harian | Rp 17.906 per dollar AS |
| Persentase Pelemahan | 0,25 Persen (44,5 Poin) |
| Harga Minyak WTI | 96 Dollar AS per barrel |
Data dalam tabel di atas memperlihatkan korelasi antara pelemahan nilai tukar dengan lonjakan harga komoditas energi dunia yang terjadi secara bersamaan.