Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS seharusnya menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk menggenjot volume ekspor. Secara teori, pelemahan mata uang lokal dapat membuat harga produk dalam negeri jauh lebih bersaing di pasar internasional.
Sayangnya, peluang emas ini justru belum terlihat pada realitas kinerja ekspor nasional saat ini. Alih-alih meningkat, performa ekspor Indonesia justru tercatat mengalami perlambatan pada awal tahun 2026.
Kontradiksi Pelemahan Rupiah dan Kinerja Ekspor
Ekonom senior dari INDEF, Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah idealnya membuat harga produk ekspor Indonesia lebih kompetitif. Hal ini dikarenakan harga barang menjadi lebih terjangkau bagi pembeli dari luar negeri dibandingkan produk negara kompetitor.
Tauhid memberikan contoh bagaimana China secara sengaja melakukan devaluasi atau penurunan nilai mata uang mereka. Langkah tersebut diambil agar produk-produk manufaktur China tetap mendominasi pasar global dengan harga yang murah.
Berikut adalah rincian pergerakan nilai tukar rupiah berdasarkan data pasar terbaru:
| Periode Pengamatan | Nilai Tukar Rupiah (per Dolar AS) | Keterangan Perubahan |
|---|---|---|
| Senin, 25 Mei 2026 | Rp 17.796 | Posisi penutupan pasar spot |
| Selasa, 26 Mei 2026 | Rp 17.804 | Melemah 0,05 persen |
Data di atas menunjukkan tren pelemahan rupiah yang terus berlanjut di pasar spot dalam beberapa bulan terakhir. Hingga akhir Mei 2026, nilai tukar rupiah terus tertekan dan hampir mendekati level psikologis baru.
Momentum yang Terbuang di Pasar Global
Meski Indonesia tidak sengaja menurunkan nilai mata uang, pelemahan yang terjadi secara alami ini seharusnya tetap menjadi keuntungan bagi eksportir. Kondisi ini dipandang sebagai momentum yang tepat untuk memperluas jangkauan pasar ekspor nasional.
Tauhid menyayangkan mengapa pertumbuhan ekspor justru melesu di tengah kondisi rupiah yang sedang terdepresiasi. Menurutnya, situasi yang dialami Indonesia saat ini sangat bertolak belakang dengan prinsip dasar perdagangan internasional.
Beberapa poin penting mengenai dampak pelemahan mata uang bagi perdagangan:
- Daya Saing Harga: Produk domestik menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri sehingga permintaan seharusnya meningkat.
- Keuntungan Eksportir: Pendapatan dalam dolar AS akan menghasilkan nilai rupiah yang lebih besar saat dikonversi.
- Anomali Data: Penurunan pertumbuhan ekspor saat rupiah melemah menunjukkan adanya masalah struktural atau hambatan produksi.
Daftar di atas merangkum bagaimana mekanisme pasar seharusnya bekerja saat sebuah mata uang kehilangan nilainya terhadap dolar. Jika pertumbuhan ekspor justru menurun, hal ini menjadi indikasi adanya ketidaksiapan industri dalam memanfaatkan situasi pasar.
Tauhid menegaskan bahwa anomali ini perlu mendapat perhatian serius karena tren yang terjadi saat ini dianggap terbalik. Pemanfaatan momentum secara alami sangat penting agar ekonomi nasional bisa tetap tangguh menghadapi fluktuasi nilai tukar.