Ritual Yadnya Kasada, Penutupan Gunung Bromo Dimulai 30 Mei 2026, Banyak Dicari Wisatawan

Ritual Yadnya Kasada, Penutupan Gunung Bromo Dimulai 30 Mei 2026, Banyak Dicari Wisatawan
Foto: Ritual Yadnya Kasada, Penutupan Gunung Bromo Dimulai 30 Mei 2026, Banyak Dicari Wisatawan. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Gunung Bromo akan ditutup sementara dari aktivitas wisata mulai 30 Mei hingga 2 Juni 2026 untuk pelaksanaan ritual Yadnya Kasada. Penutupan ini diumumkan oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melalui Instagram resmi dan surat edaran terkait. Menurut Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, penutupan dilakukan sesuai arahan dari Ketua Paruman Dukun Pandita Kawasan Tengger.

Rudijanta menjelaskan bahwa selama penutupan, hanya masyarakat Tengger dan mereka yang terlibat dalam ritual Yadnya Kasada yang diizinkan memasuki kawasan Bromo. Penutupan juga dimaksudkan untuk kegiatan pembersihan kawasan setelah ritual selesai pada 2 Juni 2026. Wisata Gunung Bromo direncanakan dibuka kembali untuk umum mulai 3 Juni 2026, pukul 01.00 WIB. Pengelola wisata mengimbau pengunjung menyesuaikan jadwal perjalanan mereka selama masa penutupan ini.

Yadnya Kasada adalah ritual tahunan masyarakat Tengger di Gunung Bromo untuk bersyukur kepada Sang Hyang Widhi, sekaligus bentuk penghormatan terhadap leluhur. Ritual ini berawal dari legenda pengorbanan anak oleh leluhur orang Tengger dan biasanya berpusat di Pura Luhur Poten di lautan pasir kaki Gunung Bromo. Masyarakat Tengger berkumpul di segara wedhi sebelum menuju kawah Gunung Bromo dengan membawa sesajen.

Sesaji yang dibawa umumnya berupa hasil bumi, seperti buah, sayur, dan hewan ternak, yang kemudian dilemparkan ke kawah sebagai simbol persembahan suci. Ritual ini mencerminkan pengabdian kepada Tuhan, penyucian diri, dan menjaga hubungan harmonis dengan alam semesta. Ritual ini diwariskan dari masa Kerajaan Majapahit dan kebanyakan masyarakat Tengger adalah petani yang hidup di pegunungan, menggantungkan hidup dari alam sekitar.

Yadnya Kasada terdiri dari tiga tahap besar. Tahap pertama melibatkan pengambilan air suci dan persiapan alat kasada. Tahap kedua adalah pembukaan kasada dengan pertunjukan seni tari. Tahap ketiga, masyarakat membuang sesajen ke kawah secara berbaris. Ritual ini juga dihadiri oleh orang dari luar dengan latar belakang agama berbeda, meskipun dipenuhi ajaran Hindu.

Tambahan acara dalam Yadnya Kasada dimulai sejak 1980-an, termasuk tarian tradisional dan pengukuhan warga kehormatan Tengger. Prosesi ini terbuka untuk orang Tengger dari agama apa pun, memperlihatkan inklusivitas ritual yang melintasi batasan agama. Dengan demikian, Yadnya Kasada tidak hanya menjadi tradisi sakral bagi masyarakat Tengger, tetapi juga atraksi budaya yang mengundang pengunjung dari berbagai kalangan.

Artikel terkait

Rekomendasi