Riset Terbaru: Pemilik Golongan Darah Ini Berisiko Tinggi Stroke di Usia Muda

Riset Terbaru: Pemilik Golongan Darah Ini Berisiko Tinggi Stroke di Usia Muda
Foto: Riset Terbaru: Pemilik Golongan Darah Ini Berisiko Tinggi Stroke di Usia Muda. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Sebuah temuan ilmiah mengungkapkan bahwa golongan darah yang dimiliki seseorang ternyata dapat berkaitan erat dengan risiko kesehatan tertentu. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah potensi munculnya serangan stroke di usia muda.

Studi yang telah diterbitkan dalam jurnal Neurology pada tahun 2022 ini memaparkan data yang cukup spesifik mengenai hal tersebut. Hasil riset menunjukkan bahwa individu dengan golongan darah A memiliki kecenderungan risiko stroke yang lebih tinggi sebelum menginjak usia 60 tahun.

Penelitian ini dianggap sangat krusial karena memperkuat dugaan para ahli mengenai peran faktor biologis bawaan dalam memicu stroke. Golongan darah disebut menjadi salah satu variabel yang ikut menentukan profil kesehatan jangka panjang seseorang.

Mark Gladwin, seorang ilmuwan sekaligus dokter dari Maryland University, Amerika Serikat, memberikan pandangannya terkait temuan ini. Ia menyebutkan bahwa hasil studi tersebut sangat penting dan cukup mengejutkan bagi dunia medis.

Menurut Gladwin, riset ini memberikan pengetahuan baru mengenai faktor risiko stroke yang tidak dapat dimodifikasi atau diubah secara genetik. Salah satu faktor utama yang dimaksud tentu saja adalah golongan darah yang dibawa sejak lahir.

Analisis Genetik dan Variasi Golongan Darah

Secara biologis, golongan darah seperti A, B, AB, dan O ditentukan oleh keberadaan antigen atau penanda kimia pada sel darah merah. Di luar klasifikasi umum tersebut, terdapat variasi genetik lain yang memengaruhi bagaimana tubuh merespons kondisi tertentu.

Dalam proses riset ini, para peneliti melakukan analisis mendalam terhadap data dari 48 penelitian genetik yang berbeda. Cakupan studinya sangat luas, melibatkan sekitar 17 ribu pasien stroke dan hampir 600 ribu orang yang tidak memiliki riwayat stroke.

Seluruh partisipan yang dilibatkan dalam pengamatan ini berada dalam rentang usia produktif, yakni antara 18 hingga 59 tahun. Melalui analisis tersebut, ditemukan adanya kaitan yang sangat kuat antara gen subgolongan darah A1 dengan insiden stroke dini.

Steven Kittner, seorang ahli neurologi vaskular dari Maryland University, menyoroti tren peningkatan kasus stroke pada kelompok usia muda. Sebagai penulis senior dalam studi ini, ia mencermati bahwa angka kejadian stroke dini terus merangkak naik.

Kittner menjelaskan bahwa penderita stroke di usia muda memiliki risiko kematian yang lebih tinggi akibat kejadian medis yang mengancam jiwa. Selain itu, para penyintas sering kali harus menghadapi dampak kecacatan fisik dalam jangka waktu yang sangat lama.

Ironisnya, meskipun dampaknya sangat serius bagi kehidupan produktif, penelitian mengenai pemicu stroke di usia muda masih tergolong minim. Hal inilah yang mendorong para ilmuwan untuk menggali lebih dalam melalui pemetaan genom manusia.

Temuan Risiko Berdasarkan Jenis Golongan Darah

Penelusuran genom dalam riset ini berhasil mengidentifikasi dua lokasi genetik yang memiliki kaitan erat dengan risiko serangan stroke usia dini. Salah satu lokasi genetik yang paling menonjol terletak di area gen yang menentukan golongan darah seseorang.

Berdasarkan data analisis tersebut, berikut adalah rincian persentase risiko stroke yang berkaitan dengan jenis golongan darah:

  • Individu dengan golongan darah A memiliki risiko 16 persen lebih tinggi untuk mengalami stroke sebelum usia 60 tahun dibandingkan golongan darah lainnya.
  • Pemilik golongan darah O menunjukkan kondisi yang lebih aman dengan risiko 12 persen lebih rendah dibandingkan kelompok lainnya.
  • Individu dengan golongan darah B memiliki peluang sekitar 11 persen lebih tinggi mengalami stroke, baik pada usia muda maupun usia tua.

Meskipun data menunjukkan adanya peningkatan, para peneliti menekankan bahwa tambahan risiko ini sebenarnya masih tergolong skala kecil. Oleh karena itu, masyarakat yang memiliki golongan darah A tidak perlu merasa panik secara berlebihan.

Para ahli juga menyatakan bahwa pemilik golongan darah A tidak diwajibkan menjalani pemeriksaan khusus hanya berdasarkan faktor genetik ini saja. Kewaspadaan tetap diperlukan, namun gaya hidup sehat jauh lebih berperan dalam pencegahan penyakit.

Mekanisme Biologis di Balik Risiko Stroke

Hingga saat ini, para ilmuwan masih berupaya membedah alasan pasti mengapa golongan darah A memiliki risiko stroke yang lebih tinggi. Steven Kittner menduga faktor ini berkaitan erat dengan proses pembekuan darah dalam sistem sirkulasi tubuh.

Komponen seperti trombosit, sel-sel yang melapisi pembuluh darah, serta protein sirkulasi lainnya diduga memainkan peran penting. Semua elemen tersebut berkontribusi dalam mekanisme pembentukan bekuan darah yang bisa memicu penyumbatan di otak.

Studi ini juga menemukan adanya perbedaan mekanisme yang cukup kontras antara stroke pada usia muda dan stroke pada lansia. Pada kelompok usia di atas 60 tahun, kaitan risiko dengan golongan darah A justru tidak lagi terlihat signifikan.

Penyebab utama stroke pada lansia biasanya dipicu oleh aterosklerosis, yakni kondisi penumpukan lemak atau plak di dinding arteri. Sebaliknya, stroke pada usia muda lebih sering berkaitan dengan gangguan dalam proses pembentukan bekuan darah secara mendadak.

Berikut adalah tabel ringkasan perbandingan karakteristik risiko stroke berdasarkan kategori usia penderita:

Kategori Usia Faktor Pemicu Utama Kaitan dengan Golongan Darah A
Usia Muda (< 60 tahun) Proses pembentukan bekuan darah secara biologis Sangat Signifikan
Usia Lanjut (> 60 tahun) Penumpukan lemak atau aterosklerosis pada arteri Tidak Terlalu Signifikan

Data dalam tabel di atas menunjukkan bahwa faktor genetik golongan darah lebih banyak berpengaruh pada insiden stroke di masa muda. Sementara itu, faktor gaya hidup dan penuaan lebih mendominasi penyebab stroke pada kelompok usia senja.

Implikasi Kesehatan dan Penelitian Lanjutan

Sebelum riset ini dilakukan, beberapa studi lain sebenarnya sudah pernah mengaitkan gen ABO dengan berbagai masalah kardiovaskular. Beberapa di antaranya meliputi risiko kalsifikasi arteri koroner, gangguan aliran darah, hingga potensi serangan jantung secara tiba-tiba.

Variasi genetik pada golongan darah A dan B juga sering disebut berkaitan dengan peningkatan risiko trombosis vena. Kondisi ini merupakan sebuah keadaan di mana terjadi pembekuan darah yang menyumbat pembuluh darah vena penderitanya.

Meski banyak bukti yang mulai terkumpul, tim peneliti menegaskan bahwa perjalanan untuk memahami fenomena ini masih cukup panjang. Masih diperlukan banyak studi lanjutan untuk memperjelas mekanisme biologis yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh.

Kittner menutup penjelasannya dengan menekankan pentingnya riset masa depan guna mengungkap secara detail hubungan golongan darah dengan stroke. Pengetahuan ini diharapkan dapat membantu dalam pengembangan strategi pencegahan stroke yang lebih efektif di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi