Pengelola Candi Borobudur, InJourney Destination Management (IDM), melakukan penyesuaian operasional layanan wisata pada puncak perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE. Kebijakan ini diberlakukan tepat pada Minggu, 31 Mei 2026, guna memastikan kekhusyukan umat Buddha dalam menjalankan rangkaian ibadah.
Selama periode tersebut, wisatawan umum dilarang untuk menaiki struktur candi maupun memasuki area pelataran utama. Selain itu, layanan khusus seperti Borobudur Sunrise, Sunset, hingga paket Dagi Abhinaya Picnic ditiadakan sementara waktu demi mendukung kelancaran acara.
Ketentuan Jam Operasional dan Akses Terbatas
Meski terdapat pembatasan, wisatawan reguler tetap diizinkan berkunjung ke kawasan Borobudur mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WIB. Namun, akses kunjungan hanya dibatasi sampai pada kawasan Zona 2 saja.
Setelah pukul 14.00 WIB, seluruh akses di kawasan Candi Borobudur akan ditutup total bagi publik. Area tersebut selanjutnya hanya diperuntukkan bagi umat Buddha serta peserta resmi yang mengikuti rangkaian ritual keagamaan Waisak.
Informasi mengenai alur masuk dan fasilitas transportasi bagi peserta Waisak:
- Peserta yang memiliki izin resmi dapat memasuki kawasan melalui gerbang Kampung Seni Borobudur.
- Tersedia moda transportasi ramah lingkungan berupa bus listrik (EV) dan kendaraan listrik kecil untuk menuju lokasi utama.
- Pengunjung juga diperbolehkan berjalan kaki melalui jalur pedestrian yang telah disediakan oleh pengelola.
Pengelola telah mengatur alur pergerakan peserta sedemikian rupa agar tidak terjadi penumpukan di satu titik. Fasilitas transportasi listrik disiagakan untuk menjamin mobilitas peserta tetap efisien dan nyaman selama berada di area candi.
Kapasitas Parkir dan Fasilitas Penunjang
IDM telah menyiapkan area parkir luas di kawasan Museum dan Kampung Seni Borobudur yang sanggup menampung ratusan kendaraan sekaligus. Fasilitas ini mencakup lahan parkir untuk 448 mobil, 432 sepeda motor, serta 55 bus pariwisata.
Guna mengantisipasi lonjakan kendaraan, pihak pengelola juga menjalin kerja sama dengan warga lokal untuk menyediakan kantong parkir tambahan. Lahan swadaya ini tersebar di Dusun Sabrangrowo, Dusun Kujon, dan Dusun Kangan dengan kapasitas ekstra sekitar 405 mobil.
Berikut adalah detail infrastruktur dan layanan pendukung yang disiapkan pihak IDM:
| Jenis Fasilitas | Detail Kapasitas / Jumlah |
|---|---|
| Transportasi Listrik | 14 Unit EV (23 penumpang) & 2 Bus EV (50 penumpang) |
| Penerangan & Navigasi | 90 Lampu sorot tambahan & 25 Signage penunjuk arah |
| Keamanan | 80 Personel gabungan internal dan eksternal |
| Layanan Kesehatan | 3 Ambulans dan akses rumah sakit rujukan terdekat |
| Keselamatan Kebakaran | 2 Unit pemadam kebakaran & 20 alat APAR |
Gistang Panutur, selaku Direktur Komersial IDM, menjelaskan bahwa optimalisasi jalur pedestrian dilakukan agar pengunjung merasa teduh dan nyaman. Pihaknya bersama WALUBI juga memastikan penerangan di sepanjang jalur utama mencukupi untuk kegiatan malam hari.
Teknologi Navigasi dan Layanan Prioritas
Untuk mempermudah mobilitas di lapangan, IDM meluncurkan aplikasi digital bernama My Candi Guide yang bisa diunduh di perangkat Android maupun iOS. Aplikasi ini berfungsi sebagai panduan digital bagi wisatawan dalam memahami alur kunjungan secara teratur.
Di dalam aplikasi tersebut, pengguna bisa mengakses peta digital, informasi arus pengunjung, hingga lokasi fasilitas umum terdekat. Hal ini diharapkan dapat meminimalkan kebingungan pengunjung saat mencari titik-titik layanan tertentu di kawasan yang luas.
Selain teknologi, layanan fisik seperti penyediaan kursi roda dan EV priority service juga disediakan secara siaga. Petugas akan memprioritaskan pengunjung dengan kebutuhan khusus agar tetap bisa mengikuti rangkaian acara dengan layak.
Instalasi Seni dan Pengalaman Spiritual
Perayaan Waisak tahun ini juga dimeriahkan dengan instalasi seni bertajuk Shanti Padma Borobudur atau Teratai Perdamaian Borobudur. Karya ini dirancang untuk menciptakan atmosfer tenang dan penuh harapan bagi siapa pun yang memandangnya.
Tersedia pula ruang interaktif bernama Light of Intention bagi para pengunjung yang ingin berpartisipasi secara simbolis. Di sini, masyarakat dapat menyalakan lilin harapan serta menuliskan pesan kebaikan sebagai bentuk penyebaran energi positif.
Rangkaian kegiatan spiritual tambahan yang dapat diikuti oleh para peserta:
- Program Unveiling Borobudur Sunset Meditation yang berlangsung dari 29 Mei hingga 1 Juni 2026.
- Aktivitas mindful walking atau Pradaksina mengelilingi candi saat matahari terbit.
- Meditasi matahari terbenam di Bukit Dagi untuk mendapatkan ketenangan batin yang mendalam.
- Prosesi pelepasan lentera perdamaian sebagai simbol penerangan jiwa.
Kegiatan meditasi ini dipandu oleh tokoh-tokoh spiritual ternama, di antaranya Bhiksu Lobpon Dorji Sherab dan Bhiksuni Rev. Ervinna Myoufu. Kehadiran para pembimbing ini bertujuan untuk memberikan pengalaman spiritual yang autentik bagi para peserta.
Wisata Kuliner di Pasar Medang
Sambil menikmati suasana Waisak, pengunjung dapat mengeksplorasi kekayaan kuliner lokal di gelaran Pasar Medang. Acara yang berlangsung pada 29-31 Mei 2026 ini menghadirkan puluhan pelaku UMKM pilihan dengan berbagai produk unggulan.
Berlokasi di area Plaza Beringin, Pasar Medang menawarkan mulai dari makanan tradisional hingga menu vegan yang sehat. Tak hanya kuliner, pengunjung juga bisa menyaksikan pertunjukan seni, mengikuti workshop, atau mencoba pengalaman unik ramalan Jawa di Klinik Klenik.
Gistang menambahkan bahwa Pasar Medang difungsikan sebagai area penyangga (buffer zone) yang nyaman bagi masyarakat. Tempat ini menjadi lokasi interaksi budaya yang ideal sebelum atau sesudah menyaksikan prosesi pelepasan lampion di malam hari.
Tema Waisak dan Aturan Berbusana
Perayaan Waisak 2570 BE kali ini mengusung tema besar "Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan". Melalui tema ini, pengelola ingin memperkuat citra Candi Borobudur sebagai pusat ziarah spiritual dunia yang penuh makna.
IDM menegaskan bahwa perayaan ini bersifat inklusif dan dapat diikuti oleh masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan. Semangat "Enlightened in Harmony" menjadi landasan untuk menciptakan keharmonisan antar sesama manusia di situs bersejarah ini.
Meski terbuka untuk umum, terdapat aturan berpakaian yang harus ditaati demi menghormati kesucian acara. Panitia mewajibkan setiap pengunjung untuk mengenakan busana yang sopan dan didominasi warna putih selama mengikuti rangkaian prosesi Waisak.