Remaja Pengidap Sindrom Tourette Diusir dari Pesawat Usai Sebut Kata Bom, Kejadiannya Mengejutkan

Remaja Pengidap Sindrom Tourette Diusir dari Pesawat Usai Sebut Kata Bom, Kejadiannya Mengejutkan
Foto: Remaja Pengidap Sindrom Tourette Diusir dari Pesawat Usai Sebut Kata Bom, Kejadiannya Mengejutkan. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Seorang remaja berusia 13 tahun yang menderita Sindrom Tourette terpaksa menelan pil pahit setelah dilarang naik ke pesawat British Airways (BA) di Bandara Gatwick, Inggris. Remaja bernama Mason Entwistle tersebut bahkan harus dikawal keluar area bandara oleh polisi bersenjata karena gejala medis yang dialaminya.

Insiden ini bermula ketika Mason secara tidak sengaja meneriakkan kata "bom" di tengah antrean keberangkatan. Ucapan tersebut merupakan "tik" atau gerakan dan suara spontan yang tidak bisa ia kendalikan akibat gangguan saraf yang dideritanya.

Melansir laporan dari Stuff, peristiwa traumatis ini memicu protes keras dari pihak keluarga Mason. Mereka menuduh maskapai nasional Inggris tersebut telah melakukan diskriminasi nyata terhadap penumpang penyandang disabilitas.

Memahami Sindrom Tourette dan Pemicunya

Sindrom Tourette sendiri merupakan kondisi neurologis yang menyebabkan seseorang mengeluarkan suara atau gerakan mendadak secara berulang yang disebut sebagai tik. Kondisi ini biasanya muncul tanpa disengaja dan sering kali dipicu oleh luapan emosi tertentu.

Faktor-faktor seperti tingkat stres yang tinggi, rasa cemas yang berlebihan, kelelahan, hingga rasa gembira bisa menjadi pemicu utama munculnya tik tersebut. Dalam kasus Mason, rasa cemas menghadapi penerbangan menjadi pemicu utama gejala sarafnya kambuh di bandara.

Keluarga Entwistle sebenarnya telah mengantisipasi kondisi ini dengan membawa rombongan besar sebanyak 10 orang untuk berlibur ke Alicante, Spanyol. Ayah Mason, Martyn Entwistle (39), mengaku sudah melaporkan kondisi putranya kepada pihak British Airways jauh sebelum hari keberangkatan.

Upaya keluarga dalam mempersiapkan perjalanan medis Mason di antaranya:

  • Melaporkan kondisi disabilitas kepada maskapai jauh sebelum jadwal penerbangan dilakukan.
  • Membekali Mason dengan kalung tali sunflower sebagai simbol internasional untuk disabilitas tersembunyi.
  • Membawa surat diagnosis resmi dari dokter sebagai bukti kondisi medis Mason.
  • Memberikan pendampingan keluarga secara penuh selama proses antrean di bandara.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pihak keluarga telah berupaya kooperatif agar perjalanan udara tersebut dapat berlangsung dengan lancar. Namun, rasa cemas Mason justru semakin memuncak saat mereka mulai mengantre di gerbang keberangkatan.

Konfrontasi di Gerbang Keberangkatan

Di bawah tekanan rasa cemas yang luar biasa, Mason mendadak berteriak kata "bom" berkali-kali secara histeris di luar kendalinya. Saat keluarga mencoba memasuki garbarata, seorang manajer British Airways langsung mengadang dan melarang seluruh rombongan keluarga untuk ikut terbang.

Situasi sempat memanas ketika terjadi konfrontasi antara pihak keluarga dan petugas maskapai yang terekam dalam video. Petugas tersebut bersikeras bahwa keputusan mereka bukan didasari oleh status disabilitas yang dimiliki oleh sang remaja.

"Kami tidak menolaknya karena dia memiliki disabilitas," tegas petugas maskapai dalam rekaman tersebut. Ia berdalih bahwa ada ancaman mengenai bom yang berasal dari tas remaja tersebut sehingga prosedur keamanan harus ditegakkan.

Pihak maskapai mengklaim bahwa tindakan tersebut murni demi keamanan dan keselamatan pelanggan lain. Mereka juga menyatakan pertimbangan kesejahteraan awak kabin menjadi alasan utama penolakan terbang bagi Mason dan keluarganya.

Keputusan kaku dari maskapai tersebut seketika menghancurkan mental Mason yang saat itu sedang dalam kondisi emosional tidak stabil. Remaja malang ini dilaporkan langsung terduduk lemas di lantai bandara sambil menangis tersedu-sedu.

Sambil menangis, Mason terus meminta maaf kepada semua orang di sekitarnya karena merasa sangat bersalah. Ia merasa kondisi medisnya telah mengacaukan rencana liburan keluarga yang sudah dinanti-nantikan sejak lama.

Tindakan Aparat dan Kerugian Materiil

Suasana di terminal bandara semakin mencekam ketika aparat kepolisian dengan senjata lengkap tiba di lokasi kejadian. Polisi mengawal Mason beserta ayah, ibu, dan adiknya yang masih bayi keluar dari area terminal layaknya pelaku kriminal.

Sementara itu, anak sulung keluarga tersebut yang berusia 16 tahun diizinkan untuk tetap melanjutkan penerbangan bersama teman-temannya. Akibat kejadian ini, keluarga Entwistle harus merugi sebesar 4.000 pound sterling atau setara Rp83 juta karena tiket mereka hangus.

Meski istri dan anak-anaknya merasa trauma dan ingin pulang ke rumah, Martyn Entwistle menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia memutuskan untuk tetap memberangkatkan keluarganya ke Spanyol keesokan harinya melalui maskapai lain.

Martyn harus merogoh kocek tambahan sebesar 2.400 pound sterling atau sekitar Rp50 juta untuk memesan tiket baru dari maskapai Vueling. Berikut adalah rincian biaya yang dikeluarkan keluarga akibat insiden penolakan tersebut:

Komponen Biaya Jumlah (Pound Sterling) Estimasi (Rupiah)
Tiket British Airways yang Hangus £4.000 Rp83 Juta
Tiket Pengganti (Vueling) £2.400 Rp50 Juta
Total Kerugian £6.400 Rp133 Juta

Data di atas menunjukkan beban biaya yang sangat besar yang harus ditanggung keluarga hanya karena gejala medis seorang anak. Namun bagi Martyn, keputusan untuk tetap berangkat bukan lagi sekadar urusan liburan semata.

Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bagian dari edukasi bagi putranya agar tidak merasa rendah diri karena kondisinya. "Saya ingin mengajarkan kepadanya bahwa dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan," ungkap Martyn dengan nada emosional.

Martyn tidak ingin Mason tumbuh dengan pemikiran bahwa dirinya tidak akan pernah bisa pergi berlibur karena Sindrom Tourette. Baginya, hal ini adalah soal prinsip untuk memperjuangkan hak anaknya sebagai manusia yang setara.

Di sisi lain, British Airways dalam pernyataan resminya hanya menyampaikan rasa penyesalan atas ketidaknyamanan yang terjadi. Maskapai tersebut berdalih bahwa situasi di lapangan saat itu sangat kompleks dan melibatkan banyak faktor keselamatan komersial.

Pihak keluarga kini berharap agar insiden pahit ini bisa menjadi pelajaran penting bagi industri penerbangan global. Mereka menginginkan adanya perbaikan dalam cara staf maskapai menangani penumpang dengan kebutuhan khusus agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Artikel terkait

Rekomendasi