Rekor Terbaru 2026: Antrean Panjang di Zona Kematian Everest Mengejutkan Dunia

Rekor Terbaru 2026: Antrean Panjang di Zona Kematian Everest Mengejutkan Dunia
Foto: Rekor Terbaru 2026: Antrean Panjang di Zona Kematian Everest Mengejutkan Dunia. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Rekor baru dalam dunia pendakian baru saja tercipta di puncak tertinggi dunia, Gunung Everest. Sebanyak 274 orang dilaporkan berhasil mencapai puncak melalui jalur Nepal dalam kurun waktu satu hari saja.

Pencapaian luar biasa ini terjadi pada Rabu, 20 Mei 2026, setelah musim pendakian sempat terhambat di awal tahun. Kendala tersebut disebabkan oleh keberadaan bongkahan es raksasa yang menutupi jalur pendakian utama.

Khimlal Gautam, pejabat dari Departemen Pariwisata Nepal, menyampaikan bahwa cuaca yang sangat mendukung menjadi alasan utama para pendaki berbondong-bondong menuju puncak. Kesempatan langka ini tidak disia-siakan oleh ratusan petualang dari berbagai penjuru dunia.

Proses pendakian massal tersebut dimulai sejak pukul 03.00 waktu setempat dan berlangsung secara terus-menerus selama 11 jam. Antrean panjang pun tidak terelakkan demi bisa menginjakkan kaki di titik tertinggi bumi tersebut.

Angka 274 pendaki ini secara resmi mematahkan rekor sebelumnya yang tercatat pada 22 Mei 2019. Kala itu, sebanyak 223 orang berhasil mencapai puncak melalui jalur selatan yang terletak di wilayah Nepal.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2019 sebenarnya ada tambahan 113 orang yang mendaki dari sisi utara melalui Tibet. Namun, untuk musim tahun ini, pemerintah China memutuskan untuk menutup jalur utara bagi para pendaki dari luar negeri.

Kepadatan di Zona Kematian dan Risiko Keselamatan

Tahun 2026 menjadi tahun yang sibuk bagi Gunung Everest karena hampir 500 pendaki asing telah mendapatkan izin resmi. Jumlah pemberian izin ini merupakan salah satu yang tertinggi dalam sejarah industri pariwisata pegunungan Nepal.

Meski menjadi prestasi, para ahli keselamatan mulai menyuarakan kekhawatiran mengenai kepadatan manusia di lereng gunung setinggi 8.849 meter tersebut. Risiko kecelakaan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah orang yang berada di jalur sempit secara bersamaan.

Umumnya, setiap pendaki asing akan didampingi oleh minimal satu pemandu lokal atau Sherpa. Menariknya, para pemandu profesional ini tidak memerlukan izin khusus untuk mendaki, sehingga jumlah orang di atas gunung sebenarnya jauh lebih banyak.

Berbagai foto yang tersebar di media sosial memperlihatkan pemandangan yang cukup mengerikan sekaligus menakjubkan. Terlihat barisan panjang pendaki yang mengular di area yang dikenal dengan sebutan "zona kematian".

Zona kematian adalah wilayah yang berada di ketinggian lebih dari 8.000 meter di atas permukaan laut. Pada titik ini, kadar oksigen sangatlah tipis sehingga hampir semua pendaki harus bergantung pada tabung oksigen tambahan untuk bertahan hidup.

Para pakar pendakian memperingatkan bahwa manusia tidak boleh berada di zona berbahaya ini lebih dari 20 jam. Jika terlalu lama, risiko mengalami penyakit ketinggian yang mematikan atau kelelahan ekstrem akan meningkat drastis.

Kenaikan Biaya Izin Pendakian yang Tak Menyurutkan Minat

Meskipun biaya untuk mendaki Everest terus melonjak, minat para petualang tampaknya tidak pernah surut. Fenomena ini menunjukkan bahwa daya tarik puncak dunia tetap menjadi magnet bagi para pendaki profesional maupun amatir.

Sejak bulan September tahun lalu, pemerintah Nepal telah menaikkan tarif izin pendakian secara signifikan. Biaya yang sebelumnya dipatok sebesar USD 11.000 kini telah naik menjadi USD 15.000 atau setara dengan Rp265,5 juta per orang.

Ini adalah kenaikan harga pertama yang dilakukan dalam hampir sepuluh tahun terakhir. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya pengelolaan manajemen pendakian yang lebih baik di masa depan.

Di tengah keramaian tersebut, para penyelenggara ekspedisi tetap optimis bahwa situasi kepadatan masih bisa dikendalikan. Mereka yakin bahwa perencanaan yang matang dapat meminimalisir risiko bagi para klien mereka.

Lukas Furtenbach dari Furtenbach Adventures menyatakan bahwa jumlah 274 orang sebenarnya relatif kecil jika dibandingkan dengan luas gunung. Menurutnya, asalkan persediaan oksigen mencukupi, risiko kepadatan tersebut tidak akan menjadi masalah yang fatal.

Ia bahkan membandingkan Everest dengan pegunungan Alpen di Eropa yang bisa dikunjungi ribuan orang setiap harinya. Mengingat ukuran Everest sepuluh kali lebih besar, ia menilai angka ratusan pendaki tersebut masih dalam batas wajar.

Catatan Prestasi dan Kabar Duka di Musim Pendakian 2026

Musim pendakian kali ini juga diwarnai dengan pencapaian individu yang sangat luar biasa dari para pendaki lokal. Beberapa nama besar kembali mengukir sejarah baru di lereng Everest.

Daftar pendaki yang berhasil mencatatkan rekor fenomenal pada musim ini :

  • Kami Rita Sherpa: Pemandu legendaris berusia 56 tahun ini mendaki untuk ke-32 kalinya dan memecahkan rekor dunia atas namanya sendiri.
  • Lhakpa Sherpa: Sosok yang dijuluki "Ratu Gunung" ini sukses mencapai puncak untuk ke-11 kalinya, memperkuat posisinya sebagai pendaki wanita tersukses.
  • Rustam Nabiev: Pendaki asal Rusia yang kehilangan kedua kakinya ini berhasil mencapai puncak tanpa bantuan kaki palsu (prostetik).

Keberhasilan para pendaki di atas membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menaklukkan puncak tertinggi. Namun, di balik kegembiraan tersebut, Gunung Everest juga kembali meminta korban jiwa.

Kabar duka datang dari Bijay Ghimere, pendaki dari komunitas Hindu Dalit di Nepal yang berhasil mencapai puncak namun meninggal karena penyakit ketinggian. Selain itu, Phura Gyaljen Sherpa yang baru berusia 21 tahun tewas setelah jatuh ke dalam celah es di dekat Camp 3.

Pemandu senior lainnya, Lakpa Dendi Sherpa, juga dilaporkan meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju Base Camp awal Mei lalu. Rentetan kejadian ini menjadi pengingat betapa ganasnya alam liar di pegunungan Himalaya.

Pemberlakuan Aturan dan Syarat Baru bagi Pendaki

Melihat tingginya angka kunjungan dan risiko yang ada, pemerintah Nepal kini sedang mempersiapkan regulasi yang lebih ketat. Majelis Nasional Nepal telah menyetujui rancangan undang-undang pariwisata terbaru secara bulat.

Aturan ini bertujuan untuk memastikan bahwa hanya pendaki yang benar-benar kompeten yang diizinkan mencoba menaklukkan Everest. Langkah ini diharapkan dapat menekan angka kecelakaan dan kematian di masa mendatang.

Berikut adalah ringkasan aturan baru yang diusulkan dalam rancangan undang-undang tersebut :

Kategori Persyaratan Detail Aturan Baru
Pengalaman Mendaki Wajib pernah mendaki setidaknya satu gunung di Nepal dengan ketinggian di atas 7.000 meter.
Kesehatan Harus menyertakan sertifikat kesehatan terbaru untuk mencegah darurat medis di ketinggian.
Administrasi Menyerahkan rencana pendakian detail, dokumen pendukung, dan bukti pembayaran biaya terkait.

Aturan baru ini kemungkinan besar akan mulai berlaku setelah pemilihan umum dan sidang Dewan Perwakilan Rakyat pada Maret 2026 mendatang. Departemen Pariwisata nantinya memiliki wewenang penuh untuk menolak permohonan yang dianggap berisiko tinggi.

Mendaki Everest memang bukan perkara mudah karena rata-rata membutuhkan waktu sekitar 70 hari dari Base Camp. Kondisi cuaca ekstrem, suhu di bawah nol derajat, hingga ancaman longsor salju adalah tantangan nyata yang harus dihadapi setiap pendaki.

Dengan adanya aturan yang lebih ketat, diharapkan citra Everest sebagai tantangan utama bagi para pendaki serius tetap terjaga. Keselamatan nyawa manusia harus tetap menjadi prioritas utama di atas sekadar pencapaian rekor atau keuntungan ekonomi.

Artikel terkait

Rekomendasi