Prinsip ESG Jadi Kunci Investasi Pariwisata Berkelanjutan 2026, Makin Dicari Investor!

Prinsip ESG Jadi Kunci Investasi Pariwisata Berkelanjutan 2026, Makin Dicari Investor!
Foto: Prinsip ESG Jadi Kunci Investasi Pariwisata Berkelanjutan 2026, Makin Dicari Investor!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menekankan bahwa penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) kini menjadi kunci utama dalam menarik minat investor di sektor pariwisata. Saat ini, para mitra internasional tidak lagi hanya terpaku pada keuntungan ekonomi semata saat menanamkan modalnya.

Widiyanti menjelaskan bahwa para investor global kini sangat memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan, dampak sosial bagi warga lokal, serta tata kelola perusahaan yang transparan. Pergeseran pola pikir ini menjadikan standar ESG sebagai instrumen penting dalam pembangunan industri pariwisata masa depan.

"Kami menaruh harapan besar agar semakin banyak pelaku industri pariwisata yang mulai menerapkan prinsip ESG secara serius. Hal ini harus dipandang sebagai sebuah investasi strategis jangka panjang bagi bisnis mereka," ujar Menpar dalam pembukaan Eco Tourism Week – Wonderful Indonesia Sustainable Tourism Industry Forum (WI-STIF) 2026 di Bali.

Pemerintah Indonesia sendiri berkomitmen untuk terus mengambil langkah nyata guna mempercepat terciptanya ekosistem pariwisata yang lebih hijau. Upaya ini diwujudkan melalui pembangunan berbagai infrastruktur yang bersahabat dengan lingkungan di sejumlah destinasi unggulan.

Beberapa contoh konkret yang sudah berjalan adalah sistem pengelolaan limbah yang canggih di Labuan Bajo serta revitalisasi kawasan Waterfront City Pangururan di Danau Toba. Selain pembangunan fisik, pemerintah juga rutin melakukan kajian mendalam terkait daya dukung lingkungan di setiap kawasan wisata.

Kementerian Pariwisata juga gencar mengampanyekan Gerakan Wisata Bersih untuk memupuk kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan. Inisiatif ini merupakan bagian dari visi besar Gerakan Indonesia ASRI yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.

Gerakan tersebut memiliki tujuan utama untuk meningkatkan standar sanitasi dan pengelolaan sampah di tingkat nasional. Dengan lingkungan yang lebih resik dan sehat, kenyamanan bagi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara dapat terjamin dengan baik.

"Saya ingin forum ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi kita semua dalam menjaga kelestarian pariwisata. Kita butuh kolaborasi aktif dari seluruh lintas sektor agar dampak positifnya terasa nyata," tambah Menpar Widiyanti.

Upaya Pemerataan Investasi di Luar Pulau Bali

Widiyanti juga menyoroti pentingnya pemerataan sebaran investasi agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata tidak hanya tertumpu di wilayah tertentu. Selama ini, aktivitas bisnis dan pembangunan memang masih sangat terkonsentrasi di Pulau Dewata.

Co-Founder Eco Tourism Bali, Suzy Hutomo, turut memberikan pandangannya dalam kesempatan yang sama mengenai acara Eco Tourism Week tersebut. Ia menegaskan bahwa forum ini dirancang bukan sekadar untuk mendiskusikan teori atau konsep semata.

"Kami ingin beralih dari sekadar wacana menuju solusi nyata dan implementasi di lapangan. Diskusi kami akan mencakup banyak hal, mulai dari operasional bisnis yang berkelanjutan hingga cara memberikan dampak positif bagi komunitas sekitar," jelas Suzy.

Dalam pertemuan Investor Roundtable 2026 yang berlangsung pada 29 Mei lalu, Menpar kembali mengajak para pemilik modal untuk melirik potensi di luar Bali. Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah dan tersebar dari Sabang sampai Merauke.

"Penting untuk diingat bahwa Indonesia bukan hanya tentang Bali saja. Banyak destinasi lain yang memiliki potensi investasi luar biasa besar dan sedang menunggu untuk dikembangkan secara bertanggung jawab," kata Menpar di hadapan para investor.

Data terbaru mencatat bahwa kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia telah menembus angka 15,39 juta jiwa. Namun, hampir separuh dari total kunjungan tersebut, yakni sekitar 7 juta orang, masih terfokus di wilayah Bali saja.

Meski angka ini membuktikan bahwa kepercayaan dunia terhadap pariwisata Indonesia terus meningkat, ada tantangan besar terkait kepadatan. Bali tetap menjadi pusat pertumbuhan utama, tetapi persebaran keuntungan ekonomi belum sepenuhnya merata ke daerah lain.

Konsentrasi investasi yang sangat padat terlihat jelas di kawasan populer seperti Seminyak, Canggu, Ubud, hingga Uluwatu. Oleh karena itu, pemerintah memerlukan strategi jitu agar daerah-daerah lain juga bisa menikmati kue ekonomi dari sektor pelancongan ini.

Daftar Destinasi Prioritas dan Strategi Masa Depan

Sebagai solusi atas ketimpangan tersebut, Kementerian Pariwisata telah menetapkan daftar wilayah yang menjadi fokus utama pengembangan. Terdapat 13 wilayah yang disiapkan untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di masa mendatang.

Daftar 10 Destinasi Pariwisata Prioritas yang dikembangkan pemerintah adalah sebagai berikut:

  • Kawasan Danau Toba di Sumatera Utara.
  • Lombok dan wilayah Gili Tramena di Nusa Tenggara Barat.
  • Labuan Bajo yang berada di Nusa Tenggara Timur.
  • Kawasan bersejarah Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan.
  • Kepulauan Bangka Belitung dengan keindahan pantainya.
  • Kawasan Gunung Bromo, Tengger, dan Semeru di Jawa Timur.
  • Manado Likupang yang menjadi andalan Sulawesi Utara.
  • Morotai di Maluku Utara serta Wakatobi di Sulawesi Tenggara.
  • Raja Ampat di Papua Barat yang mendunia.

Selain daftar tersebut, pemerintah juga menetapkan tiga wilayah sebagai Destinasi Pariwisata Regeneratif. Wilayah tersebut meliputi Bali, area Greater Jakarta, serta Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Pengembangan 13 destinasi ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi warga lokal. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk menjaga kesejahteraan masyarakat melalui distribusi manfaat ekonomi yang lebih inklusif.

Menpar mengajak para investor untuk mulai mengalihkan pandangan mereka ke arah wisata yang mengedepankan pengalaman autentik. Tren dunia saat ini sedang bergeser ke arah wellness tourism dan perjalanan yang memberikan makna mendalam bagi pelancong.

Melalui ajang Investor Roundtable, Kementerian Pariwisata juga aktif mendengarkan berbagai kendala yang dihadapi para pelaku usaha. Masukan dari asosiasi, pemerintah daerah, dan investor menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga.

Informasi tersebut akan digunakan untuk menyusun regulasi atau kebijakan yang lebih kompetitif dan ramah lingkungan. Pemerintah ingin menciptakan iklim investasi yang "hijau" namun tetap mampu bersaing di kancah internasional.

Plt. Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, menyampaikan bahwa masukan tersebut sangat krusial bagi kementeriannya. Hal ini menjadi bahan pembelajaran penting agar ekosistem investasi di Indonesia semakin kuat dan merata.

Pemerintah optimistis bahwa dengan kolaborasi yang baik, industri pariwisata Indonesia dapat bertransformasi menjadi lebih tangguh. Fokus pada keberlanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga masa depan pariwisata nasional.

Ringkasan strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan Indonesia:

Aspek Fokus Langkah Strategis
Investasi Penerapan wajib prinsip ESG dan pemerataan modal ke luar Bali.
Infrastruktur Pembangunan fasilitas ramah lingkungan dan pengelolaan sampah terpadu.
Destinasi Pengembangan 10 Destinasi Prioritas dan 3 Destinasi Regeneratif.
Kebijakan Penyusunan regulasi investasi hijau berdasarkan masukan pemangku kepentingan.

Melalui langkah-langkah di atas, Indonesia menargetkan posisi sebagai pemimpin pasar pariwisata berkelanjutan di Asia Tenggara. Transformasi ini diharapkan tidak hanya mendatangkan devisa, tetapi juga menjaga warisan alam untuk generasi mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi