Kasus pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI kembali memicu kontroversi di industri kreatif karena dianggap merugikan pekerja manusia. Kali ini, seorang model bernama Francheska Pujols (28) melayangkan gugatan terhadap sebuah toko pakaian karena merasa wajah dan citranya disalahgunakan.
Pujols mendapati bahwa foto-foto aslinya diduga telah direkayasa menggunakan teknologi AI untuk menciptakan materi promosi yang tidak pantas. Hasil suntingan tersebut menampilkan dirinya dalam pose yang jauh lebih vulgar dibandingkan dengan sesi pemotretan asli yang ia jalani.
Model asal Republik Dominika yang berdomisili di New York ini awalnya melakukan sesi pemotretan profesional untuk peritel pakaian Rainbow USA. Dalam sesi tersebut, ia berpose dengan latar belakang putih polos dan mengenakan berbagai koleksi pakaian dari merek tersebut.
Kerja sama antara Pujols dan pihak peritel ini didasari oleh kontrak resmi yang ditandatangani pada September 2024. Berdasarkan kesepakatan tertulis, kontrak kerja tersebut seharusnya sudah berakhir sepenuhnya pada 15 Maret 2026.
Pada foto-foto orisinalnya, Pujols menampilkan kesan yang sangat profesional dan elegan dengan tatapan netral ke arah kamera. Ia hanya berpose sederhana dengan posisi tangan di samping tubuh tanpa gaya yang berlebihan.
Namun, dalam materi iklan yang beredar, muncul sosok yang sangat identik dengan dirinya namun dalam situasi yang berbeda. Gugatan tersebut menyatakan bahwa AI telah menempatkan wajah Pujols pada tubuh dengan pose-pose seksi yang provokatif.
Salah satu gambar hasil rekayasa AI tersebut memperlihatkan "kembaran digital" Pujols mengenakan atasan bermotif macan tutul dan rok pendek. Ia ditampilkan sedang berbaring di pangkuan wanita lain sambil memegang segelas minuman koktail.
Iklan lainnya menunjukkan sosok buatan AI tersebut menggunakan rok mini denim dengan posisi kaki terbuka lebar di atas sebuah kursi bar. Gambar hiper-realistis itu juga memperlihatkan dirinya tengah memegang kamera dan minuman di tangan lainnya.
Pujols sendiri bukanlah model amatir, ia tercatat pernah tampil di panggung bergengsi seperti New York Swim Week. Wajahnya bahkan pernah menghiasi sampul majalah mode asal Kanada, Vigour, yang memperkuat reputasinya di dunia modeling.
Melalui kuasa hukumnya, Pujols menuduh pihak Rainbow tetap menayangkan iklan-iklan hasil rekayasa tersebut meskipun masa kontrak telah habis. Hal ini dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap hak citra diri dan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.
Detail Pelanggaran dan Dampak Karakter
Pihak penggugat menegaskan bahwa gambar-gambar yang dianggap "kasar" tersebut telah merusak reputasi profesional yang telah dibangun Pujols. Sebagai model papan atas, citra vulgar yang dihasilkan AI sangat bertolak belakang dengan nilai personal yang ia usung.
Kontrak asli memang memberikan izin bagi perusahaan untuk melakukan sedikit penyuntingan, seperti pemotongan gambar atau perubahan gaya minimal. Namun, kontrak tersebut sama sekali tidak memberi wewenang bagi perusahaan untuk menciptakan foto baru menggunakan teknologi AI.
Pujols menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memberikan izin untuk penggunaan nama, potret, maupun kemiripan dirinya dalam bentuk apa pun setelah kontrak selesai. Hal ini termasuk larangan keras bagi penggambaran yang diubah atau dihasilkan sepenuhnya oleh kecerdasan buatan.
Meskipun sudah melayangkan surat peringatan pada Maret 2026, pihak peritel diduga tetap membandel dan terus menggunakan gambar tersebut. Iklan digital dan cetak tetap terpampang di situs web serta berbagai gerai fisik milik merek pakaian tersebut.
Dalam materi gugatannya, tindakan tersebut dianggap telah merugikan Pujols secara finansial akibat kehilangan potensi biaya lisensi. Selain itu, kerusakan pada citra profesionalnya dianggap sebagai kerugian imateriel yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Pujols mengajukan tuntutan melalui persidangan juri dengan beberapa poin tuduhan utama terhadap pihak Rainbow. Poin-poin dalam gugatan hukum tersebut meliputi beberapa hal berikut ini:
- Pencemaran nama baik atas penggunaan foto yang dianggap vulgar.
- Penyalahgunaan identitas dan citra tanpa izin resmi.
- Dukungan palsu (false endorsement) yang menyesatkan publik.
- Pelanggaran terhadap Undang-Undang Hak Privasi wilayah New York.
Tuntutan ini menyoroti perlindungan terhadap nama dan gambar seseorang agar tidak dieksploitasi untuk kepentingan komersial tanpa persetujuan. Hukum di New York memang mengatur perlindungan ketat bagi individu dari penyalahgunaan iklan seperti ini.
Tanggapan Perusahaan dan Perkembangan Kasus
Di sisi lain, pihak Rainbow USA memberikan bantahan keras terhadap seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada perusahaan mereka. Juru bicara departemen hukum perusahaan mengklaim bahwa penggunaan gambar telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar.
Menurut mereka, tidak ada satu pun hak model yang dilanggar selama materi iklan tersebut dipublikasikan. Perusahaan merasa telah bertindak sesuai dengan koridor hukum dan kesepakatan yang pernah ada sebelumnya.
Namun, sebuah perkembangan mengejutkan terjadi pada Jumat, 29 Mei 2026, ketika diketahui bahwa Pujols mencabut gugatannya secara tiba-tiba. Saat dimintai keterangan lebih lanjut oleh media, model yang bersangkutan memilih untuk tidak berkomentar.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah pencabutan gugatan ini terjadi karena adanya kesepakatan damai di balik layar. Pengacara Pujols, Richard Altman, hanya menyebutkan bahwa kedua belah pihak sedang mengupayakan penyelesaian masalah secara privat.
Kasus ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana perkembangan AI yang sangat cepat sering kali tidak diimbangi dengan regulasi hukum yang memadai. Para ahli menilai industri modeling sedang menghadapi tantangan besar yang bisa merusak struktur kerja yang ada.
Joshua R. Bressler, seorang pengacara kekayaan intelektual, menyebut bahwa teknologi saat ini melaju jauh lebih kencang daripada aturan hukum. Hal ini membuat penyelesaian sengketa terkait penyalahgunaan AI menjadi sangat kompleks dan sering kali melelahkan bagi korban.
Sebagai respons atas ancaman ini, organisasi Modeling Alliance sedang memperjuangkan regulasi yang lebih ketat bagi pekerja mode di New York. Terdapat beberapa aspek penting yang akan diatur dalam undang-undang baru tersebut:
- Persyaratan persetujuan tertulis yang jauh lebih ketat bagi penggunaan gambar model.
- Pemberian kekuasaan lebih besar bagi model untuk mengontrol konten digital mereka.
- Perlindungan khusus terhadap pembuatan "replika digital" yang dihasilkan oleh AI.
- Kewajiban perusahaan untuk meminta izin ulang jika ingin mengkloning identitas model.
Aturan yang akan mulai berlaku pada 19 Juni 2026 ini diharapkan menjadi benteng pertahanan bagi para pekerja kreatif. Dengan adanya payung hukum ini, model memiliki hak mutlak atas versi digital dari diri mereka sendiri di masa depan.
Masa Depan Industri Modeling di Bawah Bayang-Bayang AI
Sejumlah pakar hukum memprediksi bahwa keberadaan AI akan segera menggeser peran manusia, terutama dalam kategori model katalog. Sektor ini dianggap paling rentan karena proses kerjanya yang repetitif dan bisa digantikan oleh algoritma.
Anthony Lupo, seorang tokoh hukum mode ternama, memperingatkan bahwa AI memiliki potensi untuk menghancurkan ekosistem industri modeling tradisional. Menurutnya, perubahan ini akan berdampak besar pada cara perusahaan fashion menjalankan bisnis mereka.
Dalam dunia industri mode cepat (fast-fashion), konsumen cenderung tidak terlalu peduli dengan siapa sosok yang mengenakan pakaian tersebut. Hal inilah yang membuat penggunaan AI menjadi pilihan yang jauh lebih ekonomis bagi perusahaan ritel besar.
Lupo menjelaskan pembagian segmentasi industri yang akan terdampak oleh teknologi ini di masa depan. Berikut adalah proyeksi pembagian peran antara manusia dan teknologi AI:
| Kategori | Pangsa Pasar | Keterangan Masa Depan |
|---|---|---|
| Supermodel & Runway | 15% | Tetap menggunakan manusia karena nilai prestise dan eksklusivitas. |
| Model Katalog & Harian | 85% | Kemungkinan besar akan digantikan sepenuhnya oleh teknologi AI. |
Data di atas menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan modeling harian berada dalam posisi yang sangat terancam. Hanya model-model papan atas yang memiliki nilai jual tinggi yang mungkin bisa bertahan dari gempuran teknologi kloning digital.
Bagi para model yang baru merintis karier atau yang kurang mapan, mencari nafkah di dunia modeling akan menjadi tantangan yang sangat berat. Kebutuhan perusahaan akan model manusia untuk sekadar mengenakan baju harian diprediksi akan terus menurun drastis.
Situasi ini memicu kekhawatiran global mengenai etika penggunaan kecerdasan buatan dalam menggantikan peran manusia secara total. Tanpa regulasi yang kuat, hak-hak pekerja kreatif seperti Francheska Pujols akan terus terancam oleh kemajuan teknologi yang tanpa batas.