Penyanyi populer Olivia Rodrigo akhirnya memberikan tanggapan tegas terkait kritik yang menyerang penampilannya baru-baru ini. Ia menjadi pusat perhatian setelah mengenakan gaun babydoll bermotif bunga merah muda dan putih saat tampil di atas panggung.
Komentar tersebut disampaikan Rodrigo saat hadir sebagai tamu dalam podcast The New York Times pada Rabu, 27 Mei 2026. Dalam potongan video yang dibagikan sebelum episode penuhnya rilis, ia mengungkapkan perasaan tidak nyamannya terhadap reaksi publik.
Pernyataan Olivia Rodrigo mengenai kritik busana yang diterimanya:
- Rodrigo merasa sangat kesal dengan kritik tersebut, meski ia tidak terlalu memikirkan opini pribadi orang lain terhadap dirinya.
- Ia merasa heran karena sebelumnya pernah memakai pakaian yang jauh lebih terbuka tanpa mendapatkan reaksi negatif yang sama.
- Pelantun lagu "The Cure" tersebut menegaskan bahwa memiliki hak penuh untuk memilih gaya berpakaian sesuai keinginan hatinya.
- Ia merasa keren dan nyaman saat memakai pakaian panggung yang berkilauan, namun bingung mengapa gaun tertutup justru dianggap tidak pantas.
Penyanyi berusia 23 tahun ini menilai ada standar ganda yang aneh dalam cara masyarakat memandang pakaian perempuan. Menurutnya, menganggap gaun babydoll yang tertutup sebagai sesuatu yang salah justru menunjukkan adanya normalisasi perilaku seksual yang menyimpang dalam budaya saat ini.
Rodrigo juga mengkritik retorika yang sering diberikan kepada perempuan sejak kecil agar tidak berpakaian tertentu demi menghindari seksualisasi dari pria. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab atas pikiran negatif orang lain seharusnya bukan berada di pundak perempuan yang mengenakan pakaian tersebut.
Sudut Pandang Mengenai Gaun Babydoll
Bagi Olivia Rodrigo, mengenakan gaun babydoll sama sekali tidak membuatnya merasa seksi atau provokatif. Ia justru merasa tampil sangat keren dan menganggap gaya tersebut sebagai bentuk ekspresi seni yang terinspirasi dari idolanya.
Beberapa tokoh inspirasi yang ia sebutkan antara lain Kathleen Hanna dari band Bikini Kill serta musisi legendaris Courtney Love. Kedua musisi tersebut memang dikenal kerap menggunakan gaun serupa saat tampil di panggung pada era 1990-an.
Rodrigo menyatakan bahwa ia sangat melindungi perasaan gadis-gadis muda agar tidak terbebani oleh pemikiran yang salah mengenai penampilan mereka. Ia tidak ingin generasi muda merasa harus membatasi ekspresi fashion hanya karena takut akan persepsi negatif orang asing.
Perdebatan mengenai gaya busana ini mencuat tepat sebelum peluncuran album studio ketiganya yang sangat dinanti. Album bertajuk You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love tersebut dijadwalkan akan segera menyapa penggemar pada 12 Juni 2026 mendatang.
Informasi mengenai konten album terbaru Olivia Rodrigo:
- Album ini akan mengeksplorasi perjalanan emosional mengenai pasang surutnya sebuah hubungan asmara yang kompleks.
- Selain soal cinta, liriknya juga akan menyoroti hubungan mendalam antara Rodrigo dengan jati dirinya sendiri selama proses pendewasaan.
Melalui karya terbarunya, Rodrigo tampak ingin terus jujur dalam menyampaikan keresahan pribadinya, baik lewat lagu maupun prinsip berpakaian. Baginya, kenyamanan diri di atas panggung adalah prioritas utama yang tidak bisa diganggu gugat oleh komentar miring di media sosial.
Sejarah dan Evolusi Gaun Babydoll
Fenomena gaun babydoll yang kembali viral berkat Olivia Rodrigo sebenarnya memiliki latar belakang sejarah yang sangat panjang dalam dunia mode. Busana ini pertama kali diperkenalkan secara luas pada tahun 1942 oleh seorang desainer pakaian dalam ternama bernama Sylvia Pedlar.
Munculnya desain ini sebenarnya merupakan solusi kreatif di tengah masa sulit Perang Dunia II. Pada waktu itu, penjatahan kain diberlakukan secara ketat, sehingga desainer dituntut untuk menciptakan pakaian yang lebih hemat penggunaan bahan.
Fakta menarik seputar sejarah gaun babydoll:
| Era / Tokoh | Peran dan Pengaruh |
|---|---|
| 1942 / Sylvia Pedlar | Pencipta siluet babydoll modern dengan memotong gaun tidur menjadi lebih pendek. |
| 1956 / Film Baby Doll | Mempopulerkan istilah "babydoll" lewat penampilan ikonik aktris Carroll Baker. |
| 1960-an / Mary Quant | Membawa tren ini ke budaya pop London dengan sentuhan yang lebih playful. |
| 1990-an / Grunge | Diadaptasi menjadi gaya pemberontakan oleh musisi seperti Courtney Love. |
Meskipun nama "babydoll" kini sudah sangat melekat, konon Sylvia Pedlar sendiri sebenarnya kurang menyukai istilah tersebut. Namun, terlepas dari ketidaksukaannya, desain tersebut berhasil bertahan melintasi berbagai dekade dan tetap menjadi tren hingga hari ini.
Gaun ini memiliki ciri khas yang sangat spesifik, yaitu siluet longgar dengan potongan pinggang tinggi atau tipe empire waist. Desain tersebut memberikan kesan feminin, ringan, dan sangat praktis untuk digunakan dalam berbagai aktivitas santai.
Dalam sejarah pergerakan perempuan, pakaian pendukung seperti bloomers yang sering dipakai bersama gaun ini juga punya makna mendalam. Item tersebut pernah dianggap sebagai simbol kebebasan karena memberikan ruang gerak lebih luas bagi perempuan dibandingkan korset yang mengekang.
Kini, Olivia Rodrigo membawa kembali gaya tersebut ke panggung modern dengan membawa pesan tentang otonomi tubuh. Bagi sang bintang pop, fashion bukan sekadar tren, melainkan cara untuk menghormati sejarah musik dan tetap menjadi diri sendiri tanpa tekanan sosial.