Neurolog Ingatkan Bahaya Gangguan Saraf Akibat Asal Minum Suplemen, Ini Gejala Terbarunya 2026

Neurolog Ingatkan Bahaya Gangguan Saraf Akibat Asal Minum Suplemen, Ini Gejala Terbarunya 2026
Foto: Neurolog Ingatkan Bahaya Gangguan Saraf Akibat Asal Minum Suplemen, Ini Gejala Terbarunya 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Aksi seorang influencer yang mengonsumsi 11 jenis suplemen sekaligus dalam satu waktu baru-baru ini memicu perdebatan hangat di media sosial. Banyak warganet mulai mempertanyakan keamanan serta dampak kesehatan dari kebiasaan mengonsumsi suplemen dalam jumlah banyak secara bersamaan.

Menanggapi fenomena tersebut, neurolog Prof. Dr. Rizaldy Taslim Pinzon menjelaskan bahwa penggunaan suplemen seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap orang. Ia menekankan pentingnya memperhatikan kandungan, dosis, serta potensi tumpang tindih zat gizi antarsuplemen yang dikonsumsi.

Risiko Gangguan Saraf Akibat Dosis Berlebih

Prof. Rizaldy menyoroti vitamin B6 sebagai salah satu nutrisi yang perlu diperhatikan dosisnya karena berperan besar pada fungsi saraf dan metabolisme. Meski bermanfaat bagi imun, penggunaan vitamin ini tanpa aturan yang jelas dapat memicu efek samping yang merugikan tubuh.

Beberapa neurolog mencatat adanya risiko neuropati perifer, yaitu gangguan pada saraf tepi, meskipun kasus ini tergolong jarang terjadi. Kondisi ini biasanya muncul pada individu yang mengonsumsi berbagai jenis suplemen secara bersamaan tanpa memantau total dosis yang masuk.

Gejala umum yang sering dirasakan penderita neuropati perifer meliputi:

  • Sensasi kesemutan pada area tangan atau kaki.
  • Munculnya rasa baal atau mati rasa.
  • Penurunan sensitivitas terhadap rangsangan fisik.

Gejala-gejala di atas umumnya dapat membaik jika penyebab utamanya segera diidentifikasi dan asupan suplemen disesuaikan kembali. Langkah medis yang tepat adalah dengan menyeimbangkan kebutuhan nutrisi berdasarkan anjuran ahli kesehatan.

Kebutuhan Harian dan Kelompok Prioritas

Pada dasarnya, orang dewasa hanya memerlukan sekitar 1,3 hingga 2 miligram vitamin B6 setiap harinya. Kebutuhan ini sebenarnya bisa dipenuhi dengan mudah melalui pola makan sehat yang mencakup ikan, daging unggas, telur, kacang-kacangan, hingga pisang.

Berikut adalah kelompok individu yang biasanya membutuhkan asupan suplemen tambahan:

  • Ibu hamil dan ibu yang sedang dalam masa menyusui.
  • Lansia dan pengidap penyakit kronis seperti diabetes atau ginjal.
  • Pasien yang mengonsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang.
  • Individu yang memiliki masalah pada sistem penyerapan nutrisi tubuh.

Bagi kelompok tersebut, suplemen tetap diperlukan namun harus tetap berbasis pada ilmu pengetahuan. Penggunaan yang tepat sasaran akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan sekadar mengikuti tren konsumsi suplemen dalam jumlah banyak.

Pentingnya Memahami Fungsi Suplemen

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Zullies Ikawati, menyatakan tidak ada batasan jumlah suplemen yang kaku. Hal yang paling krusial adalah memahami apakah tubuh memang benar-benar membutuhkan tambahan zat gizi tersebut atau tidak.

Prof. Zullies mengingatkan bahwa suplemen hanyalah pelengkap dan bukan pengganti makanan bergizi yang dikonsumsi sehari-hari. Penggunaannya menjadi relevan hanya jika tubuh mengalami kekurangan nutrisi yang tidak bisa dipenuhi dari menu makanan rutin.

Masyarakat juga diminta waspada terhadap risiko tumpang tindih kandungan zat gizi saat meminum berbagai produk kesehatan sekaligus. Membaca label kemasan dan berkonsultasi dengan dokter adalah langkah bijak agar manfaat kesehatan yang diharapkan tidak berbalik menjadi risiko penyakit.

Artikel terkait

Rekomendasi