Negosiasi Nuklir Buntu, AS dan Iran Masih Berselisih Sengit soal Poin Terbaru 2026

Negosiasi Nuklir Buntu, AS dan Iran Masih Berselisih Sengit soal Poin Terbaru 2026
Foto: Negosiasi Nuklir Buntu, AS dan Iran Masih Berselisih Sengit soal Poin Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Upaya untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik dengan Iran mengalami perlambatan pada Senin (25/5/2026). Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran berselisih mengenai program nuklir Teheran dan pencabutan sanksi ekonomi. Kedua belah pihak, menurut para mediator, saat ini saling mempertahankan posisi mereka masing-masing dalam pembahasan draf kesepakatan.

Negosiasi ini melambat walaupun Presiden AS Donald Trump dan pejabat pemerintahannya sempat optimis dapat mencapai kesepakatan damai. Trump menegaskan tidak akan terburu-buru dalam menyetujui perjanjian yang dianggap belum sesuai. “Kesepakatan dengan Iran akan menjadi kesepakatan yang hebat dan bermakna, atau tidak akan ada kesepakatan sama sekali,” kata Trump di media sosial, dikutip dari Wall Street Journal.

Amerika Serikat dan Iran kini tengah menyusun nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan pertempuran. Selain itu, ada usaha untuk melonggarkan pembatasan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz selama 30 hari. Kesepakatan ini diharapkan menjadi jalan bagi pembicaraan tahap kedua mengenai program nuklir Iran.

Seorang pejabat senior AS menuturkan bahwa pencabutan sanksi sangat tergantung pada kemajuan pembicaraan tersebut. Washington menginginkan komitmen lebih jelas dari Iran terkait program nuklir. Sementara itu, delegasi Iran menghendaki rincian lebih konkret dari AS mengenai pencabutan sanksi dan pembekuan aset.

Pejabat AS khawatir Iran akan melambatkan pembicaraan isu nuklir setelah mendapat keringanan ekonomi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa ada kemajuan dalam berbagai isu, tetapi kesepakatan akhir belum akan tercapai dalam waktu dekat.

Media Iran melaporkan bahwa dua negosiator utama, Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, berangkat ke Qatar. Tujuannya adalah mencoba menyelesaikan sejumlah poin yang masih menjadi hambatan. Tekanan untuk segera mencapai kesepakatan datang dari kedua belah pihak, Trump ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer di AS, serta mengatasi kenaikan harga bensin.

Iran membutuhkan keringanan ekonomi akibat perang dan blokade AS yang memperburuk krisis ekonomi mereka. Negara-negara Teluk mendukung upaya damai ini, meski khawatir AS bisa menarik diri sebelum masalah keamanan di kawasan benar-benar terselesaikan.

Artikel terkait

Rekomendasi