Trump Sebut Israel Bakal Lenyap Jika Ia Tak Menang di Pilpres 2026

Trump Sebut Israel Bakal Lenyap Jika Ia Tak Menang di Pilpres 2026
Foto: Trump Sebut Israel Bakal Lenyap Jika Ia Tak Menang di Pilpres 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membantah keras tudingan bahwa dirinya telah dimanipulasi oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menyerang Iran. Dalam sebuah wawancara terbaru, Trump menegaskan bahwa langkah militer tersebut diambil murni atas dasar keputusannya sendiri.

Pernyataan ini disampaikan Trump saat berbicara dalam program "Pod Force One" milik New York Post pada Rabu (3/6/2026). Ia menekankan bahwa prioritas utamanya adalah mencegah Iran memiliki akses terhadap senjata nuklir yang dianggap membahayakan dunia.

Motivasi di Balik Serangan Terhadap Iran

Kekhawatiran Trump terhadap pengembangan nuklir Iran sebenarnya sudah muncul sejak periode pertama kepemimpinannya. Hal inilah yang mendasari keputusannya untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir tahun 2015 yang dirancang di era Barack Obama.

Trump berargumen bahwa ancaman nuklir Iran akan berdampak langsung pada keamanan Israel sebagai target pertama. Ia bahkan mengklaim bahwa tanpa campur tangan dan kebijakannya, eksistensi Israel saat ini mungkin sudah terancam.

Ketegangan Hubungan Trump dan Netanyahu

Meski dikenal sebagai sekutu dekat, Trump secara terbuka mengakui adanya perselisihan yang cukup tajam dengan Netanyahu. Ia bahkan dikabarkan sempat melontarkan kata-kata kasar kepada pemimpin Israel tersebut dalam sebuah percakapan pribadi.

Trump merasa sangat terganggu dengan konflik berkepanjangan yang melibatkan Israel di wilayah Lebanon. Ia khawatir ketegangan tersebut justru akan merusak upaya pembicaraan damai dengan Teheran yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Beberapa poin penting mengenai keretakan hubungan kedua pemimpin tersebut antara lain:

  • Trump merasa frustrasi dengan sikap Netanyahu terkait eskalasi militer di perbatasan Lebanon.
  • Adanya kekhawatiran bahwa konflik regional yang meluas akan menghambat diplomasi jangka panjang.
  • Munculnya keinginan Trump untuk membuka jalur komunikasi langsung dengan pemimpin tertinggi Iran yang baru.

Setelah perseteruannya dengan Netanyahu mencuat, Trump mengungkapkan niatnya untuk bertemu dengan Mojtaba Khamenei. Ia menyatakan kemungkinan pertemuan tersebut sangat bergantung pada perkembangan situasi politik ke depannya.

Reaksi Keras Iran dan Penghentian Dialog

Di sisi lain, pihak Iran merespons ketegangan ini dengan mengambil langkah diplomatik yang tegas. Teheran secara resmi menghentikan seluruh proses dialog dan negosiasi yang melibatkan mediator Amerika Serikat.

Langkah ini diambil menyusul serangan militer Israel yang terus berlanjut di wilayah Lebanon. Iran menganggap tindakan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap prasyarat gencatan senjata yang selama ini sedang diupayakan.

Tuntutan utama Iran untuk memulai kembali proses diplomasi mencakup:

  • Penghentian segera seluruh operasi militer Israel di wilayah Jalur Gaza.
  • Penarikan pasukan dan penghentian serangan udara di Lebanon.
  • Kepatuhan penuh terhadap syarat-syarat gencatan senjata yang telah dibahas sebelumnya.

Tim perunding Iran menegaskan bahwa pertukaran teks dan komunikasi melalui pihak ketiga tidak akan dilanjutkan selama aksi militer tetap berlangsung. Kondisi ini semakin memperkeruh peta stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah yang saat ini tengah berada dalam titik kritis.

Artikel terkait

Rekomendasi