Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, memberikan tanggapan terkait kebijakan Amerika Serikat yang memutuskan untuk menarik sekitar 5.000 personel tentaranya dari kawasan Eropa.
Rutte menegaskan bahwa langkah ini tidak akan melemahkan kekuatan pertahanan aliansi tersebut secara keseluruhan.
Menurut penjelasannya, personel yang ditarik merupakan pasukan rotasi, sehingga kepulangan mereka tidak memberikan dampak negatif terhadap rencana strategis NATO.
Pernyataan ini disampaikan Rutte kepada awak media pada Rabu (20/5/2026) guna meredakan kekhawatiran yang muncul pascapengumuman mendadak dari Washington.
Ketegangan Diplomatik AS dan Jerman
Penarikan ribuan tentara ini disinyalir merupakan buntut dari memanasnya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Jerman dalam beberapa waktu terakhir.
Perselisihan bermula dari kritik tajam Kanselir Jerman, Friedrich Merz, terhadap kebijakan militer Amerika Serikat dalam konflik di Iran.
Presiden Donald Trump merespons hal tersebut dengan menginstruksikan pengurangan pasukan di Jerman, yang kemudian memicu kebingungan di kalangan negara-negara Eropa.
Hingga kini, masih belum ada kepastian mengenai apakah pemangkasan jumlah personel ini hanya akan menyasar Jerman atau juga berdampak pada penempatan di Polandia.
Pergeseran Fokus Strategis Amerika Serikat
Pemerintahan Trump sebenarnya telah lama memberikan sinyal akan adanya pengurangan kehadiran militer AS di Benua Biru demi prioritas keamanan lainnya.
Mark Rutte menjelaskan bahwa Amerika Serikat perlu melakukan penyesuaian fokus militer, salah satunya untuk lebih mengawasi dinamika di kawasan Asia.
Ia memastikan bahwa proses pergeseran ini tidak akan terjadi secara instan, melainkan dilakukan lewat tahapan yang terukur dan terstruktur.
Langkah ini diambil di tengah seringnya Trump melontarkan kritik terhadap negara-negara Eropa terkait kontribusi mereka dalam isu keamanan global.
Kebijakan Pentagon dan Penempatan Pasukan
Berikut adalah beberapa poin penting terkait perubahan struktur militer Amerika Serikat di kawasan Eropa:
- Pentagon resmi mengurangi jumlah brigade tentara AS di Eropa, dari semula empat brigade menjadi hanya tiga brigade.
- Kebijakan ini mengembalikan level penempatan personel militer Amerika ke posisi yang sama seperti pada tahun 2021.
- Wakil Presiden AS, JD Vance, mengklarifikasi bahwa rencana pengiriman 4.000 tentara ke Polandia hanya mengalami penundaan, bukan pembatalan total.
- AS diperkirakan akan mengurangi jumlah tentara cadangan yang disiapkan untuk merespons krisis di bawah koordinasi NATO.
Perubahan ini mencerminkan dinamika politik internal AS yang menuntut pembagian beban pertahanan yang lebih adil di antara anggota aliansi.
Upaya Diplomasi NATO di Masa Transisi
Para anggota NATO di Eropa kini tengah berupaya mencari kejelasan lebih lanjut dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pertemuan di Swedia.
Pertemuan tersebut bertujuan untuk mendinginkan tensi diplomatik sebelum digelarnya KTT para pemimpin NATO di Turkiye pada Juli mendatang.
Selain masalah personel di lapangan, para diplomat memprediksi adanya pengurangan kontribusi AS dalam "model kekuatan" NATO yang biasanya disiapkan untuk kondisi darurat.
Model kekuatan ini merujuk pada jumlah pasukan yang harus siap dimobilisasi oleh negara anggota dalam jangka waktu 180 hari saat terjadi konflik.
Meski terdapat penyesuaian besar-besaran, Rutte menganggap hal tersebut sebagai bagian dari dinamika organisasi yang wajar dan sudah diantisipasi sebelumnya.
Ia menilai keputusan Amerika Serikat untuk menyeimbangkan kembali kekuatannya di berbagai belahan dunia adalah langkah yang tepat bagi masa depan aliansi.