Penyanyi sekaligus aktor ternama, Pradikta Wicaksono atau yang lebih populer dengan sapaan Dikta, bersiap menyapa kembali para penggemarnya lewat karya musik terbaru. Setelah sempat vakum selama kurang lebih empat tahun dari industri musik, Dikta akhirnya merilis mini album (EP) bertajuk Unapologetic pada Jumat (15/5/2026).
Album perdana ini terdiri dari enam lagu baru yang masing-masing membawa cerita tersendiri bagi pria kelahiran Jakarta tersebut. Namun, momen emosional tak terduga justru terjadi saat sesi mendengarkan album (hearing session) yang digelar di Krapela, Jakarta Selatan, pada Rabu (13/5/2026).
Suasana hangat dan santai mendadak berubah menjadi penuh haru sesaat setelah lagu berjudul "Papa Tenang Aja" diputar di hadapan para undangan. Dikta yang biasanya dikenal dengan karakternya yang jenaka dan penuh celetukan receh, tiba-tiba terdiam seribu bahasa.
Mantan vokalis Yovie & Nuno ini tampak tertunduk lesu sambil sesekali mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. Kesedihan tersebut tampak begitu nyata hingga membuat para tamu yang hadir ikut merasakan kedalaman makna di balik lagu tersebut.
Ungkapan Kerinduan Mendalam kepada Sang Ayah
Tak lama setelah lagu berakhir, Dikta sempat terdiam selama beberapa detik untuk menenangkan diri sebelum suara dukungan terdengar dari para tamu. Walaupun ia mencoba mencairkan suasana dengan candaan kecil, raut wajahnya tetap tidak bisa menyembunyikan emosi yang meluap.
Dikta mengungkapkan bahwa sosok ayahnya merupakan inspirasi sekaligus alasan utama mengapa ia memilih untuk berkecimpung di dunia musik. Baginya, musik adalah bahasa komunikasi yang menghubungkan dirinya dengan sang ayah sejak kecil.
Berikut adalah beberapa poin emosional yang disampaikan Dikta mengenai lagunya:
- Lagu ini dibuat saat Dikta berada dalam kondisi fisik dan mental yang sangat lelah.
- Ia merindukan momen di mana ia bisa berdiskusi dan bercerita tentang banyak hal kepada ayahnya.
- Dikta merasa kesulitan jika nantinya harus membawakan lagu ini secara langsung di atas panggung.
- Liriknya merupakan bentuk pesan bahwa kini anak-anaknya sudah hidup dengan baik dan bahagia.
Informasi di atas merangkum alasan mengapa lagu "Papa Tenang Aja" menjadi track yang paling personal bagi Dikta dalam album ini. Kehilangan sang ayah pada tahun 2016 karena sakit diakui sebagai salah satu titik terendah dalam perjalanan hidupnya.
Ia menceritakan bahwa lagu ini sebenarnya adalah cara dirinya untuk memberikan kabar terbaru kepada sang ayah di alam sana. Melalui nada dan lirik, ia ingin menyampaikan bahwa dirinya dan saudara-saudaranya kini sudah dalam keadaan yang baik-baik saja.
Menolak Drama dan Tidak Ingin Menjual Kesedihan
Meski lagu tersebut lahir dari rasa kehilangan yang sangat dalam, Dikta menegaskan bahwa ia tidak memiliki niat untuk mengeksploitasi kesedihan demi popularitas. Baginya, "Papa Tenang Aja" murni merupakan ungkapan rasa kangen yang ia tujukan kepada mendiang ayahnya.
Ia berharap lagu ini bisa menjadi teman bagi siapa saja yang juga telah kehilangan sosok ayah dalam hidup mereka. Dikta ingin lagu ini memberikan kekuatan bagi orang-orang yang merasakan duka yang sama untuk tetap melanjutkan hidup dengan tegar.
Beberapa fakta menarik terkait proses kreatif lagu ini antara lain:
- Dikta mengaku sebagai orang yang sangat jarang menangis dan lebih suka menunjukkan sisi cerianya.
- Sempat muncul rasa penyesalan saat membuat lagu ini karena ia merasa terlalu membuka sisi rapuhnya ke publik.
- Ia merasa sedihnya cukup disimpan sendiri, sementara orang lain cukup melihat tawa dan kebahagiaannya saja.
- Lagu ini akhirnya tetap dirilis karena ia merasa butuh satu persembahan khusus untuk sosok yang mengenalkannya pada musik.
Pernyataan tersebut menunjukkan sisi lain Dikta yang sangat tertutup mengenai masalah pribadi, terutama terkait kesedihan. Ia ingin masyarakat tetap mengenalnya sebagai sosok yang positif, meskipun ia baru saja merilis karya yang begitu melankolis.
Keinginan Dikta untuk mempersembahkan sesuatu yang bisa disukai oleh ayahnya menjadi dorongan terkuat untuk menyelesaikan lagu ini. Ia sering membayangkan bagaimana reaksi sang ayah jika bisa mendengar langsung karya yang ia buat khusus tersebut.
Proses Rekaman Penuh Air Mata dan Spontanitas
Cerita di balik bilik rekaman ternyata tidak kalah mengharukan dibandingkan saat lagu tersebut diperdengarkan kepada media. Dikta membagikan kisah perjuangannya menyelesaikan proses rekaman yang berkali-kali harus terhenti karena tangisannya pecah.
Sesi rekaman tersebut diakui sebagai salah satu proses tersulit yang pernah ia jalani selama berkarier di dunia tarik suara. Emosi yang terlalu kuat membuat Dikta sulit untuk menjaga fokus dan teknik vokalnya agar tetap stabil sepanjang lagu.
| Aspek Rekaman | Detail Cerita dari Dikta |
|---|---|
| Durasi Pengulangan | Hampir tidak ada banyak pengulangan (take) karena emosi yang mentah. |
| Kondisi Vokal | Bagian yang terdengar serak atau pecah sengaja tidak diperbaiki agar tetap jujur. |
| Peran Produser | Tim produksi, termasuk Oliv, ikut terharu dan menangis saat mengarahkan Dikta. |
| Alasan Spontanitas | Jika direkam ulang, rasa dan nyawa dari lagunya akan terasa sangat berbeda. |
Data di atas menjelaskan betapa orisinalnya perasaan yang dituangkan Dikta ke dalam lagu "Papa Tenang Aja". Ia membiarkan ketidaksempurnaan vokal tetap ada di dalam rekaman akhir demi menjaga kejujuran rasa yang ingin disampaikan.
Meski ceritanya sangat menyentuh, Dikta kembali melempar candaan saat menceritakan bagaimana tim produksinya ikut menangis bersamanya. Suasana yang tadinya sunyi di lokasi hearing session pun perlahan mencair berkat selera humor Dikta yang kembali muncul.
EP Unapologetic sendiri dijadwalkan akan meluncur secara resmi di berbagai platform musik digital pada 15 Mei 2026 mendatang. Bagi para penggemar yang ingin mengenal sisi emosional Dikta lebih dalam, lagu ini diprediksi akan menjadi salah satu karya yang paling membekas.
Mini album ini tidak hanya menjadi penanda kembalinya Dikta ke dunia musik, tetapi juga menjadi bukti kedewasaannya dalam berkarya. Dengan menggabungkan kerapuhan dan kejujuran, Dikta berhasil menciptakan sebuah album yang sangat personal sekaligus berani.