Musikal Senja Teduh Pelita 2026 Usung Sci-Fi, Hadirkan Dua Versi Gender Terbaru yang Unik

Musikal Senja Teduh Pelita 2026 Usung Sci-Fi, Hadirkan Dua Versi Gender Terbaru yang Unik
Foto: Musikal Senja Teduh Pelita 2026 Usung Sci-Fi, Hadirkan Dua Versi Gender Terbaru yang Unik. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Jakarta Movin kembali menggebrak dunia seni pertunjukan dengan mengadaptasi karya musik populer ke dalam panggung teater. Kali ini, mereka memilih deretan lagu milik grup musik legendaris Maliq & D’Essentials sebagai pondasi utama cerita.

Pertunjukan musikal yang diberi tajuk "Senja Teduh Pelita" ini dijadwalkan menyapa penonton pada 3-5 Juli 2026 serta 7-12 Juli 2026. Proyek ini terasa sangat spesial karena mengusung genre fiksi ilmiah atau science fiction (sci-fi) yang jarang dieksplorasi dalam musikal lokal.

Dalam konferensi pers yang digelar di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia pada Rabu (3/6/2026), Nuya Susantono memberikan penjelasan mendalam. Selaku produser sekaligus sutradara, ia memaparkan visi unik di balik kolaborasi lintas seni ini.

Konsep Sci-Fi dan Eksplorasi Dua Gender

Meski mengusung tema masa depan dan teknologi khas genre sci-fi, Nuya menegaskan bahwa elemen cinta tidak akan hilang dari pertunjukan ini. Hal tersebut dilakukan demi menjaga identitas lagu-lagu Maliq & D’Essentials yang selama ini sangat kental dengan nuansa romantis.

Namun, definisi cinta dalam "Senja Teduh Pelita" akan dibawa ke ranah yang lebih luas dan mendalam. Penonton akan diajak melihat perspektif kasih sayang terhadap keluarga, sesama manusia, hingga kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Satu hal yang paling mencuri perhatian adalah keputusan tim produksi untuk menghadirkan dua versi karakter utama dengan gender yang berbeda. Keputusan ini diambil setelah melalui proses diskusi panjang mengenai siapa yang paling pantas menjadi wajah utama cerita ini.

Nuya menjelaskan bahwa kisah ini pada dasarnya adalah tentang pengalaman universal manusia, bukan terbatas pada gender tertentu saja. Oleh karena itu, tim produksi memutuskan untuk memberikan fleksibilitas kepada para calon penonton dalam memilih pengalaman menonton mereka.

“Anak-anak, dewasa, manusia, semuanya bisa relate dengan journey dan perjuangan ini, sehingga, ‘Ya udah deh, gimana kalau kita gak usah pilih aja, kita berikan opsi.’ Jadi untuk teman-teman yang pengin nonton hero-nya perempuan, bisa menonton yang versi perempuan. Yang mau nonton versi laki-laki, bisa nonton versi laki-laki,” ungkap Nuya di hadapan awak media.

Langkah ini dianggap sebagai inovasi segar dalam dunia teater tanah air yang memberikan nilai tambah bagi para penikmatnya. Dengan dua versi ini, penonton bisa mendapatkan perspektif yang berbeda meski tetap berada dalam alur cerita yang sama.

Menghadirkan 20 Lagu dari Katalog Maliq & D’Essentials

Widi Puradiredja, salah satu personil Maliq & D’Essentials, turut memberikan bocoran mengenai aransemen musik dalam pertunjukan ini. Ia mengungkapkan bahwa akan ada sekitar 20 lagu yang diambil dari berbagai album perjalanan karier mereka selama ini.

Menariknya, pemilihan lagu tidak hanya didominasi oleh deretan tembang hits yang sering terdengar di radio. Tim produksi justru menggali lebih dalam dengan menyertakan lagu-lagu yang tergolong jarang dibawakan atau hidden gems dari diskografi mereka.

Beberapa judul lagu yang dipastikan akan muncul dalam pertunjukan ini adalah:
  • Sayap: Salah satu lagu yang memiliki kedalaman makna namun jarang masuk dalam daftar set panggung biasa.
  • Idola: Lagu yang akan membawa warna tersendiri dalam membangun suasana cerita musikal.
  • Senandung Senandika: Karya yang dinilai memiliki struktur unik untuk dipresentasikan dalam bentuk teater.
  • Senja Teduh Pelita: Lagu yang menjadi judul utama sekaligus inti dari nuansa pertunjukan ini.

Widi mengaku sangat penasaran melihat bagaimana lagu-lagu tersebut dipresentasikan dengan cara yang lebih naratif di atas panggung. Ia mengenang bahwa saat menciptakan lagu-lagu itu, mereka seringkali hanya mengikuti insting tanpa memikirkan konsep visual jangka panjang.

Alur cerita "Senja Teduh Pelita" sendiri berfokus pada petualangan seorang anak bernama Arah. Arah merupakan salah satu penyintas yang mencoba bertahan hidup di tengah kondisi bumi yang sudah mengalami kehancuran parah.

Ia tinggal bersama sekumpulan anak-anak lain yang ditinggalkan oleh orang tua mereka dengan sebuah harapan besar. Para orang tua tersebut berjanji akan membangun kembali dunia yang lebih layak dan segera menjemput mereka kembali.

Namun, waktu berlalu begitu lama tanpa ada tanda-tanda kehadiran para orang tua tersebut di lokasi pengungsian. Hal ini memicu kekhawatiran besar dalam diri Arah hingga akhirnya ia memutuskan untuk melakukan perjalanan berbahaya demi mencari kebenaran.

Menjaga Warisan Karya Lewat Medium Baru

Indah Wisnuwardhana, vokalis Maliq & D’Essentials, melihat proyek musikal ini sebagai pencapaian yang sangat emosional. Baginya, ini adalah langkah nyata agar karya-karya yang mereka bangun selama 24 tahun terakhir tidak lekang oleh waktu.

Ia sangat bersemangat karena lagu-lagu mereka kini memiliki "napas baru" di luar platform musik digital atau konser musik biasa. Musikal dianggap sebagai wadah yang tepat agar lagu tersebut bisa terus relevan dan dinikmati lintas generasi.

Informasi jadwal pertunjukan musikal Senja Teduh Pelita:

Periode Pertunjukan Lokasi Acara Kategori Genre
3 - 5 Juli 2026 Jakarta (Segera Diumumkan) Sci-Fi / Musikal
7 - 12 Juli 2026 Jakarta (Segera Diumumkan) Sci-Fi / Musikal

Tabel di atas merinci waktu pelaksanaan pertunjukan yang terbagi menjadi dua pekan untuk mengakomodasi tingginya minat penonton. Penggemar disarankan untuk terus memantau informasi terbaru mengenai lokasi pasti dan ketersediaan tiket tambahan.

Indah menilai proyek kolaborasi dengan Jakarta Movin ini sebagai sebuah pengalaman yang sangat menarik sekaligus menantang. Melihat lagu yang biasa ia nyanyikan di panggung konser berubah menjadi dialog dan aksi teatrikal memberikan kepuasan tersendiri baginya.

Melalui "Senja Teduh Pelita", Maliq & D’Essentials dan Jakarta Movin berharap bisa memberikan kontribusi besar bagi industri kreatif Indonesia. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bukti bahwa musik lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi narasi fiksi ilmiah yang kompleks.

Artikel terkait

Rekomendasi