Mikha Angelo Ungkap Alasan The Overtunes Merasa Stuck di Panggung yang Kurang Tepat

Mikha Angelo Ungkap Alasan The Overtunes Merasa Stuck di Panggung yang Kurang Tepat
Foto: Ilustrasi Mikha Angelo Ungkap Alasan The Overtunes Merasa Stuck di Panggung yang Kurang Tepat.
Ukuran teks

Grup musik The Overtunes baru-baru ini berbagi keresahan mereka mengenai pengalaman manggung selama ini. Mikha Angelo, vokalis sekaligus anggota band tersebut, mengungkapkan bahwa mereka sering kali merasa terjebak di panggung yang tidak sesuai dengan identitas musik mereka.

Kondisi ini biasanya terjadi ketika mereka diundang ke festival-festival besar yang menuntut performa berenergi tinggi. Mikha merasa lagu-lagu The Overtunes yang cenderung tenang justru kurang cocok untuk suasana yang mengharuskan penonton terus melompat atau bergerak aktif.

Perasaan Terjebak di Panggung yang Kurang Tepat

Dalam sebuah sesi konferensi pers yang berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026, Mikha menceritakan bagaimana bandnya sering menghadapi situasi canggung saat tampil di depan publik. Banyak penyelenggara acara mengharapkan The Overtunes bisa memacu adrenalin penonton agar suasana menjadi sangat meriah.

Padahal, Mikha menilai bahwa esensi dari karya-karya mereka lebih kepada penyampaian pesan melalui suasana yang tenang dan kontemplatif. Ia merasa ada ketidakcocokan antara ekspektasi penyelenggara festival dengan karakter asli musik yang mereka usung.

“Secara pribadi, aku merasa The Overtunes sering berada di posisi yang kurang nyaman sebagai penampil,” ujar Mikha di hadapan media. Ia menjelaskan bahwa lagu-lagu mereka sebenarnya lebih nikmat didengar oleh penonton yang sedang dalam suasana santai dan ingin benar-benar menyimak lirik.

Mikha juga merasa bahwa selama ini mereka seolah terjebak untuk terus membawakan lagu dengan tempo cepat di berbagai panggung. Hal tersebut dilakukan demi memenuhi keinginan penonton yang ingin bersenang-senang dan melompat bersama, meskipun itu bukan jati diri utama mereka.

Menemukan Kecocokan dengan Komunitas Literasi

Titik terang mulai muncul ketika The Overtunes terlibat dalam acara Jakarta Literasi Festival atau yang dikenal dengan sebutan Jalkot. Di momen tersebut, Mikha dan anggota lainnya merasa telah menemukan kelompok pendengar yang benar-benar bisa terkoneksi dengan musik mereka.

Keikutsertaan mereka dalam pesta literasi tersebut menyadarkan Mikha bahwa audiens pembaca buku memiliki kesamaan frekuensi dengan band mereka. Ia merasa karakter para penikmat buku sangat sejalan dengan cara The Overtunes mengekspresikan seni melalui musik dan lirik.

“Kemarin di Jalkot adalah momen pertama kali kami merasa sangat cocok,” tutur Mikha saat menjelaskan pengalamannya di acara tersebut. Ia menganggap bahwa karakter mereka sebagai seniman menemukan tempat yang tepat di tengah-tengah masyarakat yang mencintai literasi.

Mikha menambahkan bahwa ada alasan mendalam mengapa mereka merasa lebih dihargai di lingkungan pembaca buku. Menurutnya, orang-orang yang gemar membaca biasanya memiliki kepekaan yang lebih tinggi dalam menangkap maksud dan emosi dari sebuah tulisan, termasuk lirik lagu.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa The Overtunes merasa lebih cocok tampil di hadapan para pecinta buku:

  • Apresiasi terhadap Penulisan: Pembaca buku cenderung lebih menghargai kualitas penulisan lirik yang mendalam dan penuh makna.
  • Kepekaan Emosional: Audiens ini dianggap lebih mampu menangkap intensi atau niat asli yang ingin disampaikan oleh penulis lagu.
  • Suasana yang Tenang: Lingkungan literasi biasanya lebih santai, sehingga sangat mendukung performa musik yang bersifat kontemplatif.
  • Koneksi Narasi: Terdapat kemiripan cara antara penulis buku dan penulis lagu dalam membangun sebuah cerita atau emosi melalui kata-kata.

Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa The Overtunes ingin setiap kata yang mereka rangkai tidak hanya sekadar menjadi pengiring musik, tetapi juga dipahami maknanya secara utuh oleh para pendengarnya.

Kolaborasi Baru dan Rencana Comeback

Ketertarikan Mikha pada dunia literasi juga didasari oleh pengalamannya sendiri saat membaca sebuah buku. Ia mengaku bisa merasakan intensitas emosi sang penulis, apakah narasi tersebut dibawa dengan emosional atau secara linear dan tenang.

Pengalaman inilah yang akhirnya menginspirasi The Overtunes untuk mencoba pendekatan baru dalam merilis karya terbaru mereka. Setelah sempat vakum dalam waktu yang cukup lama, band ini siap kembali menyapa penggemar dengan strategi yang unik dan tidak biasa.

Untuk menandai kembalinya mereka ke industri musik, The Overtunes menjalin kolaborasi spesial dengan Gramedia Pustaka Utama. Kerjasama ini bertujuan untuk mengadakan sesi mendengarkan atau listening session untuk lagu terbaru mereka yang berjudul "Sampai Kapan".

Rincian mengenai langkah baru The Overtunes dalam merilis karya mereka dapat dilihat pada tabel berikut:

Aspek Kolaborasi Detail Informasi
Judul Lagu Baru Sampai Kapan
Mitra Kolaborasi Gramedia Pustaka Utama
Bentuk Kegiatan Listening Session (Sesi Mendengarkan)
Target Audiens Penikmat Musik dan Komunitas Literasi
Tujuan Utama Menghubungkan lirik lagu dengan apresiasi seni tulisan

Tabel di atas merangkum bagaimana The Overtunes mencoba keluar dari pola promosi musik konvensional. Mereka memilih pendekatan yang lebih intim dengan menggandeng institusi literasi terbesar di Indonesia demi menjangkau pendengar yang tepat.

Langkah ini diharapkan dapat mengobati rasa rindu para penggemar yang telah lama menantikan karya orisinal dari band yang digawangi oleh bersaudara ini. Dengan berfokus pada kualitas lirik dan kedekatan emosional, The Overtunes optimis bisa menemukan tempat yang lebih tepat bagi musik mereka.

Proyek ini juga menjadi penanda penting bagi karier The Overtunes yang ingin lebih jujur dalam berekspresi. Mereka tidak lagi hanya ingin sekadar menghibur di panggung megah, tetapi ingin karya mereka benar-benar hidup dalam pemikiran setiap orang yang mendengarkannya.

Artikel terkait

Rekomendasi