Merasakan Sensasi Rebahan di STOVIA pada Hari Kebangkitan Nasional 2026 yang Viral

Merasakan Sensasi Rebahan di STOVIA pada Hari Kebangkitan Nasional 2026 yang Viral
Foto: Merasakan Sensasi Rebahan di STOVIA pada Hari Kebangkitan Nasional 2026 yang Viral. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2026 yang berlangsung di Museum Kebangkitan Nasional hadir dengan suasana yang jauh berbeda dari biasanya. Acara ini tidak hanya diwarnai oleh semangat nasionalisme melalui upacara bendera dengan busana daerah, tetapi juga memperkenalkan berbagai inovasi menarik.

Salah satu terobosan terbaru yang menjadi sorotan adalah rencana peluncuran program unik bernama "Rebahan di STOVIA". Program ini dirancang khusus untuk menghidupkan kembali suasana sejarah di bangunan yang berlokasi di Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh No. 26, Senen, Jakarta Pusat tersebut.

Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB), Indira Estiyanti Nurjadin, menjelaskan bahwa pihaknya ingin menghadirkan pengalaman yang benar-benar imersif bagi para pengunjung. Menurut sosok yang akrab disapa Esti ini, pengalaman mendalam tidak selalu harus bergantung pada kecanggihan teknologi digital terbaru.

Esti menegaskan bahwa konsep imersif yang ingin ditonjolkan justru berupa perjalanan kembali ke masa lalu secara autentik. Fokus utama mereka adalah memperlihatkan kondisi asrama dan ranjang asli yang digunakan oleh para pelajar kedokteran STOVIA di masa lampau.

Melalui program "Rebahan di STOVIA", pengunjung nantinya akan mendapatkan kesempatan langka untuk menginap di museum dari sore hingga pagi hari. Peserta akan diajak merasakan secara langsung ritme kehidupan sebagai siswa sekolah kedokteran di era kolonial Belanda tersebut.

Fakta menariknya, siswa STOVIA tingkat pertama saat itu rata-rata masih berusia 15 tahun, yang setara dengan usia pelajar SMA pada zaman sekarang. Hal ini diharapkan bisa memberikan perspektif baru bagi generasi muda mengenai perjuangan para pahlawan sejak usia dini.

Esti berharap para peserta bisa merefleksikan bagaimana para pendiri bangsa di usia yang masih sangat belia sudah memiliki kesadaran nasional yang kuat. Mereka telah memikirkan kemerdekaan bangsa saat kawan-kawan seusianya di masa kini mungkin masih fokus pada hal-hal lain.

Meskipun sudah diumumkan, konsep program ini masih dalam tahap pematangan sebelum secara resmi dibuka untuk masyarakat umum. Esti belum memberikan tanggal pasti peluncurannya, namun ia memastikan program ini akan tersedia dalam waktu dekat dengan biaya tambahan tertentu.

Fasilitas dan Pengalaman Menarik Selama Menginap

Rencananya, paket "Rebahan di STOVIA" akan disusun secara komprehensif agar peserta bisa benar-benar merasakan kehidupan asrama yang sesungguhnya. Fasilitas yang disediakan tidak hanya tempat tidur, tetapi juga mencakup paket makan dan minum selama kegiatan berlangsung.

Program ini kemungkinan akan diadakan secara berkala, misalnya satu kali dalam setiap bulan, meskipun jadwal detailnya masih disusun. Wacana ini sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun lalu dan akhirnya diumumkan bertepatan dengan momentum Hari Museum Internasional.

Sembari menunggu paket menginap tersebut siap diluncurkan, pihak museum telah menyediakan fasilitas pendukung berupa rekaman audio bertajuk "Cerita di STOVIA". Fasilitas ini dapat dinikmati pengunjung di area Ruang Asrama yang berada di sayap kanan bangunan museum.

Di ruangan tersebut, tersedia lebih dari delapan ranjang sejarah yang telah ditata rapi sedemikian rupa. Saat ini, sudah ada empat ranjang yang dilengkapi dengan perangkat audio untuk mendengarkan dongeng pendek dengan durasi sekitar lima menit.

Produser audio "Cerita di STOVIA", Hilman Handoni, mengungkapkan bahwa proses pengerjaan konten audio ini memakan waktu sekitar satu tahun. Terdapat empat buah cerita yang direkam dengan pendekatan unik, yakni menggunakan sudut pandang benda-benda yang ada di asrama.

Benda-benda yang menjadi narator dalam cerita audio tersebut memiliki makna filosofis tersendiri bagi sejarah perjuangan pelajar STOVIA. Berikut adalah rincian empat objek yang digunakan sebagai sudut pandang cerita:

Daftar Cerita Audio Berdasarkan Sudut Pandang Benda:
  • Lonceng: Menggambarkan disiplin ketat yang diterapkan untuk mengatur waktu, raga, dan pikiran para mahasiswa kedokteran setiap harinya.
  • Koran: Menjelaskan peran krusial media cetak pada masa itu dalam menyebarkan gagasan kemerdekaan dan pemikiran progresif di kalangan terpelajar.
  • Blangkon: Mengisahkan tentang penggunaan pakaian tradisional sebagai simbol identitas diri yang kemudian membentuk identitas kolektif sebuah bangsa.
  • Ranjang: Mengangkat sisi manusiawi tentang kesehatan mental mahasiswa serta perjuangan Prof. dr. Jonas Andreas Latumeten dalam bidang ilmu jiwa.

Penjelasan mengenai Prof. dr. Jonas Andreas Latumeten menjadi bagian penting karena beliau merupakan ahli jiwa pertama di Indonesia. Melalui sudut pandang ranjang, dikisahkan pula bagaimana beliau gigih melawan berbagai teori semu atau pseudo sains pada zamannya.

Hilman menambahkan bahwa konten audio ini akan tersedia sepanjang tahun bagi seluruh pengunjung museum yang datang. Namun, khusus untuk pertunjukan monolog langsung, saat ini hanya ditampilkan pada momen-momen tertentu seperti peringatan Hari Kebangkitan Nasional.

Pengunjung yang ingin menyimak kisah-kisah ini dapat menggunakan headset yang telah disediakan secara offline di area asrama. Selain itu, pihak pengelola juga menyediakan pilihan akses melalui pemindaian kode QR yang akan terhubung langsung ke platform Spotify.

Dengan adanya opsi digital tersebut, siapapun bisa mendengarkan narasi sejarah ini melalui gawai pribadi tanpa batasan ruang. Masyarakat bisa menikmati cerita STOVIA baik saat sedang berada di dalam kompleks museum maupun ketika berada di rumah masing-masing.

Pameran Koleksi 165 Meriam Bersejarah

Selain pengenalan program asrama, peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini juga dimeriahkan dengan peresmian Pameran Meriam Joseph L. Spartz. Peresmian tersebut dilakukan secara langsung oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, sebagai bagian dari pelestarian cagar budaya.

Pameran ini menampilkan sebanyak 165 meriam yang merupakan koleksi dari mendiang Joseph L. Spartz, seorang pakar Indonesia asal Luxembourg. Spartz memutuskan untuk menyerahkan seluruh koleksi berharganya kepada negara agar bisa dipelajari dan dinikmati oleh publik luas.

Fadli Zon menyampaikan bahwa koleksi ini sangat beragam, mulai dari meriam era Portugis, masa VOC, hingga zaman Hindia Belanda. Setiap meriam memiliki keunikan desain yang mencerminkan perkembangan teknik manufaktur dari abad ke abad di wilayah Nusantara.

Pihak museum menegaskan bahwa fokus utama pameran ini bukanlah untuk menonjolkan fungsi meriam sebagai alat perang yang mematikan. Esti menjelaskan bahwa pameran ini lebih bertujuan untuk memperlihatkan pencapaian teknologi dan kecakapan engineering masyarakat di masa lalu.

Banyak meriam peninggalan nenek moyang ternyata dibuat dengan spesifikasi yang sangat rumit serta dihiasi ukiran indah pada material logamnya. Hal ini membuktikan bahwa penguasaan teknik pengecoran logam dan seni dekoratif bangsa kita sudah sangat maju pada zaman itu.

Koleksi hibah dari Spartz ini semakin berharga karena dilengkapi dengan berbagai dokumen pendukung berupa arsip-arsip dan sketsa asli. Keberadaan dokumen tersebut memberikan konteks sejarah yang lebih utuh bagi masyarakat umum mengenai proses pembuatan dan penggunaan meriam tersebut.

Program-program baru ini diharapkan dapat menjadikan Museum Kebangkitan Nasional sebagai ruang publik yang edukatif sekaligus menyenangkan. Dengan pendekatan yang lebih segar, nilai-nilai sejarah diharapkan bisa lebih mudah terserap oleh generasi muda Indonesia.

Program/Kegiatan Fitur Utama Status Ketersediaan
Rebahan di STOVIA Menginap, paket makan, pengalaman asrama asli. Segera hadir (Wacana bulanan).
Cerita di STOVIA Audio dongeng 5 menit (Lonceng, Koran, Blangkon, Ranjang). Tersedia di lokasi & Spotify.
Pameran Meriam Koleksi 165 meriam Joseph L. Spartz & arsip teknik. Sudah dibuka untuk umum.

Data di atas merangkum berbagai inovasi yang diperkenalkan di Museum Kebangkitan Nasional untuk memperingati momen bersejarah bangsa. Pengunjung kini memiliki lebih banyak pilihan cara untuk mempelajari sejarah, mulai dari pameran artefak hingga pengalaman tinggal di asrama.

Artikel terkait

Rekomendasi