Siapa yang tidak mengenal KFC, jaringan restoran cepat saji raksasa yang terkenal dengan hidangan ayam gorengnya yang mendunia? Meski kini sangat sukses, ternyata ada satu menu populer yang sempat mendapat kritik sangat pedas dari pendirinya sendiri, Kolonel Harland Sanders.
Kolonel Sanders diketahui telah menjual kepemilikan perusahaannya kepada sekelompok investor pada tahun 1964 silam. Meski sudah tidak memiliki kendali penuh, ia tetap dipertahankan sebagai sosok publik dan juru bicara resmi bagi merek tersebut.
Melansir laporan dari media kuliner The Takeout dan NY Post, sang pendiri ternyata sering menyuarakan kegelisahannya terkait perubahan kualitas makanan di restoran miliknya. Salah satu menu yang paling membuat sang Kolonel merasa kecewa adalah saus gravy atau saus kental khas KFC.
Dalam sebuah sesi wawancara bersama Courier-Journal di Louisville, Kentucky pada tahun 1978, Sanders tidak ragu memberikan penilaian yang sangat tajam. Ia bahkan menyebut kualitas saus pendamping tersebut sudah jauh menurun dibandingkan resep aslinya.
Pernyataan tajam Kolonel Sanders mengenai kualitas saus gravy KFC kala itu:
- Menyebut rasa saus gravy tersebut sangat buruk dan tidak layak dikonsumsi.
- Membandingkan tekstur saus tersebut dengan lem yang digunakan untuk memasang kertas dinding.
- Mengkritik proses pembuatan yang dianggap hanya menggunakan air keran murah dicampur tepung dan pati.
- Menyatakan bahwa produk tersebut tidak memiliki nilai nutrisi sama sekali bagi pelanggan.
- Menuntut agar perusahaan tidak diperbolehkan menjual saus dengan kualitas seperti itu kepada masyarakat.
Kritik yang disampaikan secara terbuka ini menunjukkan betapa Sanders sangat menjunjung tinggi standar rasa yang ia ciptakan sejak awal. Baginya, saus gravy seharusnya menjadi pelengkap yang kaya rasa, bukan sekadar cairan kental tanpa identitas kuliner yang jelas.
Perselisihan Hukum Akibat Kritik Pedas Sang Kolonel
Kritik keras dari sang pendiri ini rupanya berbuntut panjang hingga memicu ketegangan di internal perusahaan. Sebuah waralaba KFC yang berlokasi di Bowling Green, Kentucky, merasa dirugikan oleh pernyataan Sanders tersebut.
Pihak waralaba tersebut akhirnya memutuskan untuk menggugat Kolonel Sanders serta surat kabar yang mempublikasikan hasil wawancara itu ke pengadilan. Namun, upaya hukum tersebut tidak membuahkan hasil karena gugatan mereka ditolak oleh pihak berwenang.
Kasus ini bahkan sempat mencapai Mahkamah Agung Kentucky yang kemudian menguatkan keputusan penolakan gugatan tersebut. Hakim menilai bahwa pernyataan Sanders bersifat umum terhadap merek KFC secara keseluruhan, bukan spesifik menyerang waralaba di Bowling Green.
Meski mendapatkan kritik habis-habisan dari sang pencetus resep, nyatanya menu saus gravy ini tetap bertahan hingga puluhan tahun kemudian. Bahkan, menu pendamping ini masih memiliki basis penggemar setia di berbagai penjuru dunia hingga saat ini.
Di platform media sosial seperti Reddit, para penggemar KFC sering berdebat mengenai kualitas saus yang kontroversial ini. Beberapa orang setuju dengan pendapat Sanders, sementara yang lain merasa saus tersebut adalah makanan penghibur yang nikmat.
Beberapa fakta menarik mengenai perdebatan saus gravy KFC di kalangan pelanggan:
- Banyak warganet yang menganggap saus ini sebagai makanan cepat saji paling nikmat untuk dinikmati saat santai.
- Muncul klaim bahwa resep di era Kolonel Sanders memang jauh berbeda karena menggunakan susu, krim, dan kulit ayam asli.
- Komunitas kuliner daring sering membagikan resep tiruan (copycat) untuk membuat saus gravy versi asli di dapur rumah.
- Ada perbedaan pendapat yang tajam mengenai tekstur saus antara generasi lama dan generasi pelanggan masa kini.
Diskusi mengenai resep asli ini membuktikan bahwa dedikasi Kolonel Sanders terhadap detail rasa masih terus dikenang. Walaupun industri makanan cepat saji telah banyak berubah, standar kualitas yang ia tetapkan tetap menjadi tolok ukur bagi banyak orang.
Perkembangan Bisnis KFC di Indonesia pada Tahun 2026
Beralih ke kondisi bisnis di dalam negeri, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) sebagai pengelola resmi KFC di Indonesia menunjukkan performa yang cukup menarik. Berdasarkan data hingga Maret 2026, perusahaan ini berhasil mencatatkan pertumbuhan pada sisi pendapatan.
Melalui dokumen keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan melaporkan perolehan pendapatan mencapai Rp 1,42 triliun. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 18,59 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Seiring dengan peningkatan pendapatan tersebut, beban pokok penjualan juga tercatat naik menjadi Rp 598,59 miliar. Meski demikian, laba bruto perusahaan tetap mengalami pertumbuhan positif sebesar 15,40 persen menjadi Rp 824,52 miliar.
Rincian laporan keuangan PT Fast Food Indonesia Tbk pada kuartal pertama 2026:
| Indikator Keuangan | Nilai (Kuartal I 2026) | Persentase Perubahan |
|---|---|---|
| Pendapatan Total | Rp 1,42 Triliun | Naik 18,59% |
| Laba Bruto | Rp 824,52 Miliar | Naik 15,40% |
| Beban Umum & Administrasi | Rp 141,32 Miliar | Turun 15,4% |
| Laba Usaha | Rp 30,13 Miliar | Membaik dari Rugi |
| Laba Tahun Berjalan | Rp 13,28 Miliar | Membaik dari Rugi |
Tabel di atas menunjukkan bahwa manajemen perusahaan telah melakukan berbagai langkah efisiensi yang cukup efektif. Salah satunya terlihat dari penurunan beban umum dan administrasi yang cukup signifikan guna mendukung kesehatan finansial perusahaan.
Selain itu, perusahaan juga berhasil menekan beban operasional lainnya yang turun sekitar 11 persen dibandingkan tahun lalu. Keberhasilan dalam menekan pengeluaran ini akhirnya membawa perusahaan mencetak laba usaha sebesar Rp 30,13 miliar.
Pemulihan Finansial Setelah Masa Sulit Tahun 2025
Pencapaian positif pada awal tahun 2026 ini menjadi angin segar mengingat kondisi perusahaan yang sempat merosot pada tahun 2025. Sebagai perbandingan, pada periode kuartal pertama tahun lalu, KFC Indonesia sempat mengalami kerugian hingga Rp 35,96 miliar.
Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk kini mencapai Rp 13,28 miliar. Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kerugian sebesar Rp 36,77 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini juga berdampak langsung pada nilai laba per saham dasar yang kini berada di angka Rp 3. Sebelumnya, para pemegang saham harus menghadapi nilai kerugian per saham sebesar Rp 9 pada tahun 2025 lalu.
Ringkasan posisi aset dan liabilitas perusahaan hingga Maret 2026:
- Ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp 464,69 miliar dari posisi akhir tahun sebelumnya.
- Total aset perusahaan naik cukup stabil mencapai angka Rp 5,19 triliun.
- Jumlah liabilitas atau kewajiban perusahaan tercatat berada di angka Rp 4,72 triliun.
- Cadangan kas dan setara kas mengalami penguatan signifikan menjadi Rp 243,90 miliar.
Peningkatan jumlah kas yang cukup besar menunjukkan bahwa likuiditas perusahaan berada dalam kondisi yang jauh lebih baik. Hal ini memberikan ruang bagi pengelola KFC di Indonesia untuk terus melakukan ekspansi atau inovasi layanan di masa mendatang.
Meskipun tantangan industri kuliner terus berganti, KFC tampaknya tetap menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia. Transformasi dari masa rugi menuju keuntungan ini membuktikan daya tahan merek tersebut di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.