Museum Marsinah dan Rumah Singgah merupakan destinasi wisata sejarah terbaru yang ada di Desa Wisata Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Museum ini resmi dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto pada 16 Mei 2026 dan dibangun dengan biaya sebesar Rp3,8 miliar yang dikumpulkan dari dana koperasi.
Sejarah dan Koleksi Museum
Museum Marsinah berdiri sebagai penghormatan untuk mengenang Marsinah, aktivis buruh yang telah menjadi simbol perjuangan hak buruh di Indonesia. Di dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai memorabilia seperti sepeda onthel yang biasa digunakan Marsinah dan lemari kaca yang memajang blazer putih serta tas jinjing merah yang menjadi identitas dirinya dalam kesehariannya sebagai buruh pabrik.
Museum ini juga dilengkapi dengan layar digital yang menampilkan kumpulan kliping berita terkait kasus kematiannya yang sempat menggegerkan bangsa. Diorama yang menceritakan perjalanan hidup Marsinah – termasuk momen ketika ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 – turut menghiasi museum ini.
Fasilitas Rumah Singgah
Kompleks museum ini memiliki rumah singgah yang bisa diakses secara gratis oleh para buruh. Pengunjung pun bebas menikmati museum memorabilia setiap hari dari pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, tanpa biaya masuk.
Museum Hidup di Rumah Masa Kecil
Sebuah rumah masa kecil Marsinah yang tak jauh dari museum juga dibuka untuk umum dan disebut sebagai 'museum hidup'. Di sana, pengunjung dapat melihat ruangan kamar sederhana tempat ia beristirahat semasa hidupnya serta dokumen berharga lainnya di ruang tengah yang memperlihatkan kiprah Marsinah sebagai pahlawan.
Penghargaan ini diperlihatkan dengan sederhana – mulai dari kamar berlantaikan semen hingga dokumen pengangkatan Marsinah sebagai pahlawan nasional yang terpajang di dalam lemari kaca bersama foto besar sang aktivis berpose di depannya.
Dampak dan Harapan Wisata Sejarah
Ketua Pokdarwis Desa Wisata Nglundo, Eko Fitri Puji Harto, menyatakan harapannya setelah Marsinah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, agar semakin banyak wisatawan tertarik mengunjungi Desa Wisata Nglundo. Dukungan pendampingan untuk pengembangan wisata dan peningkatan kualitas layanan dari berbagai pihak terus diharapkan agar destinasi ini dapat berkembang pesat.
Untuk meningkatkan daya tarik, pihak desa juga menjalin kerja sama dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dalam mempromosikan serta mendistribusikan produk-produk desa – mulai dari suvenir, produk kreatif sampai paket wisata berbasis sejarah dan budaya lokal. Eko berharap upaya ini membuat pengunjung nyaman dan menikmati pengalaman wisata sejarah yang ditawarkan.
Pendanaan Pembangunan Museum
Mengutip Liputan6.com, Andi Gani dari KSPSI menyebut bahwa seluruh biaya pembangunan Museum Marsinah berasal dari dana koperasi buruh, tanpa menggunakan APBN atau APBD. Anggaran sebesar Rp3,8 miliar ini terkumpul berkat kontribusi dari KSPSI AGN yang memiliki kekuatan ekonomi koperasi buruh yang terus berkembang, dengan aset mencapai Rp2,1 triliun.
Andi menjelaskan, museum ini merupakan penghormatan terhadap perjuangan Marsinah yang telah menjadi simbol bagi kaum buruh Indonesia. Pengelolaan museum melibatkan langsung keluarga Marsinah serta yayasan KSPSI di Jawa Timur, dan diharapkan dapat memberikan nilai pendidikan sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan yang berkunjung.
```