Mengenal Serang Virus, Temuan Hantavirus Lokal di Banten dan Risikonya

Mengenal Serang Virus, Temuan Hantavirus Lokal di Banten dan Risikonya
Foto: Ilustrasi Mengenal Serang Virus, Temuan Hantavirus Lokal di Banten dan Risikonya.
Ukuran teks

Dunia kesehatan baru-baru ini mengenal istilah Serang Virus atau SERV, sebuah varian Hantavirus lokal yang pertama kali diidentifikasi di wilayah Serang, Banten. Meski terdengar mengkhawatirkan, virus ini merupakan bagian dari kelompok Hantaviridae yang sebenarnya sudah lama menjadi perhatian para ahli di Indonesia.

Perlu diketahui bahwa Hantavirus sendiri adalah sekelompok virus dalam famili Hantaviridae dan genus Orthohantavirus yang biasanya dibawa oleh hewan pengerat. Salah satu jenis yang paling umum di Indonesia adalah Seoul Virus (SEOV), yang ditularkan dari tikus ke manusia dan telah eksis cukup lama.

Mengenal Lebih Dekat Serang Virus dari Banten

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memberikan penjelasan mendalam mengenai temuan varian lokal yang dinamakan Serang Virus ini. Penamaan tersebut diberikan oleh para peneliti karena virus ini memang ditemukan untuk pertama kalinya pada populasi tikus di wilayah Serang, Banten.

Secara struktur genetik, Serang Virus memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Seoul Virus yang sudah populer sebelumnya. Namun, para ahli mengklasifikasikannya sebagai varian tersendiri karena adanya perbedaan susunan genetik yang cukup signifikan dibandingkan jenis lainnya.

Beberapa fakta mendasar mengenai karakteristik Serang Virus yang perlu diketahui masyarakat adalah:

  • Virus ini ditemukan pada hewan pengerat (tikus) di wilayah Banten sebagai inang alaminya.
  • Memiliki kedekatan genetik dengan Seoul Virus namun tetap dianggap sebagai strain yang unik.
  • Hingga saat ini, Serang Virus dikategorikan sebagai virus yang hanya ditemukan pada hewan dan belum terbukti menular ke manusia.
  • Bagian dari 50 jenis Orthohantavirus yang terus dipantau perkembangannya oleh otoritas kesehatan di Indonesia.

Penemuan strain lokal ini menunjukkan betapa beragamnya jenis Hantavirus yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat sistem surveilans untuk mendeteksi risiko penularan dari hewan ke manusia sedini mungkin.

Status Penularan dan Perbandingannya dengan Wabah Internasional

Belakangan ini, perhatian publik meningkat setelah munculnya kabar mengenai wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang memakan korban jiwa. Namun, Kemenkes menegaskan bahwa situasi di Indonesia sangat berbeda dengan kasus internasional yang sedang viral tersebut.

Wabah yang terjadi di kapal MV Hondius disebabkan oleh jenis Andes Virus (ANDV) yang memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Jenis Andes Virus ini sangat berbahaya karena merupakan satu-satunya Hantavirus yang diketahui bisa menular antarmanusia dan umum ditemukan di wilayah Amerika Selatan.

Berikut adalah perbedaan utama antara kasus Hantavirus di Indonesia dengan kasus di kapal pesiar MV Hondius:

Aspek Perbandingan Kasus di Indonesia Kasus MV Hondius
Jenis Virus Seoul Virus & Serang Virus Andes Virus (ANDV)
Tipe Gejala Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
Sumber Penularan Hanya dari hewan ke manusia (Zoonosis) Bisa menular antarmanusia
Wilayah Sebaran Lokal Indonesia dan Asia Amerika Selatan

Tabel di atas memperlihatkan bahwa risiko yang dihadapi di Indonesia berbeda dengan wabah di luar negeri. Di tanah air, Hantavirus yang ada cenderung menyerang fungsi ginjal dan disertai demam, bukan menyerang sistem pernapasan secara akut seperti Andes Virus.

Penegasan Kemenkes Terkait Risiko Infeksi pada Manusia

Hingga saat ini, belum ditemukan satu pun kasus infeksi Serang Virus yang menyerang manusia di wilayah Republik Indonesia. Dr. Andi Saguni, selaku Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, memberikan pernyataan resmi terkait kondisi ini.

Menurut dr. Andi, Serang Virus sejauh ini hanya ditemukan menginfeksi populasi tikus dan belum melompat ke manusia. Beliau menegaskan dalam konferensi pers pada Senin (11/5/2026) bahwa tidak ada bukti penularan strain lokal ini di tengah masyarakat.

Meski risikonya masih terkendali, pemerintah tidak tinggal diam dan terus melakukan langkah antisipasi yang ketat. Kemenkes telah menyiagakan 21 rumah sakit sentinel penyakit infeksi emerging yang tersebar di 20 provinsi untuk memantau potensi munculnya kasus baru.

Rumah sakit tersebut secara aktif melakukan pengawasan terhadap pasien yang menunjukkan gejala mengarah ke tipe HFRS. Gejala yang dipantau meliputi demam tinggi yang disertai gangguan fungsi ginjal atau kondisi jaundice, di mana kulit dan mata pasien menguning.

Langkah Pencegahan dan Pendekatan One Health

Pengawasan Hantavirus di Indonesia dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan One Health yang melibatkan lintas kementerian. Selain Kemenkes, instansi seperti Kementerian Pertanian, BRIN, dan Kemenko PMK turut berkolaborasi dalam memantau kesehatan lingkungan dan hewan.

Dr. Andi Saguni mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak perlu panik secara berlebihan. Fokus utama saat ini adalah memutus rantai kontak antara manusia dengan hewan pengerat yang menjadi inang virus tersebut.

Masyarakat sangat disarankan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan mandiri sebagai berikut:

  • Menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotoran dan urine hewan tersebut.
  • Menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sepatu bot jika harus beraktivitas di area yang banyak populasi tikusnya.
  • Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun.
  • Menjaga kebersihan tempat penyimpanan hasil panen atau bahan pangan agar tidak dijamah tikus.
  • Melakukan pembasmian hama tikus di lingkungan rumah maupun tempat kerja secara rutin.

Terkait penanganan tikus yang sudah mati, dr. Andi juga memberikan peringatan khusus agar tidak membuang bangkainya sembarangan. Bangkai tikus sebaiknya dikubur di dalam tanah dan ditutup rapat guna mencegah pencemaran lingkungan serta meminimalkan risiko penyebaran kuman.

Dengan pemahaman yang benar mengenai perbedaan jenis virus ini, diharapkan masyarakat bisa lebih tenang dalam menyikapi isu kesehatan yang beredar. Kewaspadaan tetap diperlukan, namun yang paling utama adalah menjaga kebersihan lingkungan sebagai benteng pertahanan pertama dari penyakit zoonosis.

Artikel terkait

Rekomendasi