Anggota grup K-pop fenomenal BTS akhirnya meluapkan kekecewaan mereka terhadap maraknya praktik "getok harga" penginapan di Busan, Korea Selatan. Masalah ini mencuat menjelang konser besar mereka yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juni 2026 di Stadion Utama Asiad Busan.
Melalui sesi siaran langsung setelah menghadiri ajang American Music Awards di Las Vegas, RM sebagai pemimpin grup memberikan teguran keras. Ia mengaku sangat prihatin melihat laporan mengenai lonjakan harga akomodasi yang dianggap tidak masuk akal tersebut.
RM meminta agar para pemilik bisnis penginapan tidak memanfaatkan momen konser tersebut untuk mencari keuntungan pribadi secara berlebihan. Menurutnya, tindakan semacam itu hanya akan merusak citra kota Busan di mata para wisatawan dan penggemar.
Ia juga mengingatkan bahwa semua pihak seharusnya memiliki pola pikir jangka panjang demi kebaikan industri pariwisata di sana. Baginya, Busan adalah kota yang sangat menarik dan indah, bahkan ia menyamakannya dengan keindahan kota Miami di Korea.
Kekecewaan Mendalam dari Anggota Asal Busan
Kekecewaan serupa juga datang dari Jimin, anggota BTS yang memang merupakan putra asli kelahiran kota Busan. Ia menegaskan bahwa momen konser ini seharusnya menjadi kenangan yang manis dan menyenangkan bagi setiap penggemar yang datang.
Meskipun memahami sisi bisnis, Jimin menilai kenaikan harga saat ini sudah melampaui batas kewajaran. Baginya, kenyamanan para penggemar jauh lebih penting daripada sekadar mengejar keuntungan finansial yang tidak adil.
Jungkook, yang juga berasal dari Busan, memberikan reaksi yang tidak kalah pedas terhadap perilaku pemilik penginapan. Ia meminta praktik tersebut segera dihentikan karena dianggap sangat merugikan pihak-pihak yang ingin mendukung mereka.
RM menambahkan bahwa grupnya merasa cukup frustrasi karena keterbatasan mereka dalam mengatasi masalah ini secara langsung. Ia berharap setidaknya ada standar harga yang lebih masuk akal meskipun saat ini sedang memasuki musim puncak kunjungan.
Lonjakan Harga Hingga Sepuluh Kali Lipat
Sejumlah laporan dari penggemar di media sosial menggambarkan betapa ekstremnya kenaikan harga penginapan yang terjadi. Ada informasi yang menyebutkan kamar hotel yang biasanya dibanderol 50.000 won mendadak meroket hingga angka 3 juta won saat periode konser.
Selain harga yang melambung, banyak pengunjung yang mengeluh karena pesanan kamar mereka dibatalkan secara sepihak oleh penyedia jasa. Padahal, para penggemar tersebut sudah melakukan pemesanan jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan mereka.
Berikut adalah rangkuman data kenaikan harga akomodasi di beberapa wilayah Busan selama periode konser :
| Lokasi Penginapan | Harga Normal (Won) | Harga Saat Konser (Won) | Persentase Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Sekitar Stasiun Haeundae | 70.000 - 300.000 | 700.000 - 1.200.000 | 4 hingga 10 kali lipat |
| Distrik Dongnae | 68.000 | 769.000 | Lebih dari 11 kali lipat |
| Kabupaten Gijang | 98.000 | 431.000 - 502.000 | Hingga 5 kali lipat |
Data di atas menunjukkan bahwa lonjakan harga terjadi secara merata di berbagai distrik utama kota Busan. Hal ini tentu menyulitkan bagi para penggemar yang memiliki anggaran terbatas untuk menghadiri acara tersebut.
Peringatan Keras dari Presiden Korea Selatan
Kericuhan mengenai "penipuan harga" ini bahkan menarik perhatian serius dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. Melalui pernyataan resminya, Presiden menegaskan bahwa praktik eksploitasi pasar seperti ini harus segera diberantas secara tuntas.
Beliau menekankan bahwa keuntungan yang didapat dari cara tidak adil tersebut tidak akan sebanding dengan kerugian reputasi yang dialami negara. Pemerintah pun mulai melakukan pengawasan lebih ketat terhadap sektor akomodasi di wilayah terdampak.
Kota Busan sendiri diketahui memang sering mengalami masalah serupa setiap kali mengadakan acara berskala internasional. Contohnya pada Festival Kembang Api tahun lalu, di mana harga satu malam bisa mencapai jutaan won dalam sekejap.
Kejadian serupa juga pernah terjadi pada tahun 2022 saat BTS menggelar konser untuk mendukung promosi World Expo 2030. Tampaknya, pola kenaikan harga yang tidak terkendali ini terus berulang dan menjadi tantangan bagi pemerintah setempat.
Reaksi Boikot dari Kalangan ARMY
Pihak berwenang dari Komisi Perdagangan Adil Korea telah melakukan pemeriksaan terhadap ratusan hotel dan motel di Busan. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata tarif kamar memang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan akhir pekan biasa.
Para ARMY (sebutan penggemar BTS) merasa sangat geram, terutama dengan alasan renovasi palsu yang digunakan pemilik hotel untuk membatalkan pesanan lama. Mereka menuduh oknum pengusaha sengaja ingin menjual kembali kamar tersebut dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Menanggapi situasi ini, para penggemar mulai menyuarakan aksi protes melalui langkah-langkah berikut :
- Melakukan perjalanan pulang-pergi pada hari yang sama tanpa menginap di Busan.
- Membeli kebutuhan logistik seperti air minum dan makanan dari luar kota Busan.
- Mengampanyekan gerakan "nol pengeluaran" selama berada di wilayah Busan sebagai bentuk protes.
- Membagikan daftar hitam penginapan yang terbukti melakukan pembatalan sepihak dan getok harga.
Langkah-langkah tersebut diambil sebagai bentuk solidaritas antar penggemar agar tidak terus diperas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka berharap tindakan tegas ini bisa memberikan pelajaran bagi para pemilik bisnis penginapan di masa mendatang.
Dengan adanya desakan dari artis maupun pemerintah, diharapkan ekosistem pariwisata di Busan bisa segera kembali normal. Bagaimanapun, integritas kota Busan sebagai tuan rumah acara kelas dunia sedang dipertaruhkan akibat masalah tarif penginapan ini.