Mengejutkan, Banyak Lansia Jepang Sengaja Berbuat Kriminal demi Hidup di Penjara 2026

Mengejutkan, Banyak Lansia Jepang Sengaja Berbuat Kriminal demi Hidup di Penjara 2026
Foto: Mengejutkan, Banyak Lansia Jepang Sengaja Berbuat Kriminal demi Hidup di Penjara 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Suasana sunyi menyelimuti salah satu sudut di Penjara Tochigi, Jepang. Di sana, seorang wanita lanjut usia yang duduk di kursi roda tampak sibuk melipat kertas origami dengan jemarinya yang mulai keriput.

Gerakannya begitu lincah dan tanpa suara, menciptakan bentuk-bentuk rumit dalam keheningan total. Di fasilitas ini, para narapidana memang dilarang berbicara satu sama lain selama mereka bekerja.

Kondisi ini menggambarkan realitas memprihatinkan yang kini tengah melanda sistem pemasyarakatan di Jepang. Fenomena unik muncul di mana banyak wanita lansia sengaja melakukan tindak kriminal berulang demi bisa masuk ke balik jeruji besi.

Kejahatan yang mereka lakukan umumnya tergolong ringan, seperti pencurian kecil di toko. Bagi mereka, penjara menawarkan jaminan hidup yang tidak bisa mereka temukan di dunia luar akibat kemiskinan dan isolasi sosial.

Fakta mengenai kondisi narapidana di Penjara Tochigi:

  • Jumlah Penghuni: Saat ini terdapat 456 narapidana perempuan yang mendekam di fasilitas tersebut.
  • Persentase Lansia: Sekitar 32 persen dari total narapidana adalah wanita berusia di atas 60 tahun.
  • Status Kesehatan: Hanya 40 persen narapidana yang dinyatakan dalam kondisi kesehatan yang benar-benar sehat.
  • Masalah Mental: Sebanyak 21 persen narapidana teridentifikasi memiliki gangguan kesehatan mental.

Data di atas menunjukkan bahwa beban kerja staf penjara kini bergeser menjadi penyedia layanan perawatan bagi kaum lanjut usia. Mereka harus membantu narapidana melakukan aktivitas dasar, mulai dari membantu saat makan hingga mendampingi ketika mandi.

Perawatan Khusus dan Tantangan Kesehatan Mental

Hirotsugu Hori, selaku Direktur Divisi Urusan Umum penjara, mengungkapkan bahwa proporsi narapidana lanjut usia terus mengalami peningkatan secara signifikan. Banyak dari mereka yang kembali melakukan kejahatan serupa sesaat setelah dibebaskan hanya agar bisa kembali dirawat di penjara.

Pihak manajemen penjara bahkan harus melakukan penyesuaian besar-besaran pada menu makanan mereka. Nasi sebagai makanan pokok diganti dengan bubur, sementara sayuran dipotong menjadi tekstur yang lebih halus agar mudah dikunyah dan ditelan oleh para lansia.

Hori menambahkan bahwa angka masalah kesehatan mental di penjara wanita jauh lebih tinggi dibandingkan penjara pria. Kondisi ini diduga berakar dari masa muda mereka yang sering mengalami pengabaian oleh orang tua.

Akibat pengabaian tersebut, mereka kehilangan akses pendidikan yang layak dan kesulitan mendapatkan penghasilan di masa tua. Hal ini menciptakan siklus kemiskinan yang sulit diputus hingga mereka memasuki usia senja.

Kendala Bahasa dan Kritik dari Organisasi HAM

Selain persoalan lansia, Penjara Tochigi juga menghadapi tantangan dalam menangani narapidana asing yang berasal dari 33 negara berbeda. Warga negara Thailand dan China mendominasi kelompok ini, di mana sebagian besar terjerat kasus penyelundupan narkotika.

Kiyochika Miyoshi, Kepala Penjara Tochigi, menjelaskan bahwa kendala bahasa sering kali memicu stres bagi narapidana maupun petugas. Meskipun alat penerjemah telah digunakan, risiko gangguan keamanan tetap tinggi karena petugas tidak bisa memahami semua bahasa mereka.

Kondisi ini memicu kritik keras dari Teppei Kasai, perwakilan dari Human Rights Watch. Ia mempertanyakan kebijakan pemenjaraan bagi para wanita lansia yang melakukan kejahatan tanpa kekerasan.

Poin keberatan yang disampaikan oleh Human Rights Watch:

  • Penjara dianggap bukan tempat yang tepat untuk menangani lansia yang mengalami isolasi sosial.
  • Pencurian kecil seharusnya tidak dibalas dengan hukuman penjara yang justru membebani negara.
  • Kurangnya mekanisme dukungan sosial membuat narapidana lansia terjebak dalam lingkaran setan kriminalitas.

Tanpa adanya upaya integrasi yang serius dari pemerintah, penjara akan terus berubah fungsi menjadi panti jompo bagi kaum miskin. Transformasi ini menjadi alarm keras bagi sistem kesejahteraan sosial di Jepang yang mulai kewalahan menghadapi populasi menua.

Artikel terkait

Rekomendasi