Mengejutkan, 8,1 Juta Keluarga RI Berisiko Stunting Akibat Sanitasi Buruk di 2026

Mengejutkan, 8,1 Juta Keluarga RI Berisiko Stunting Akibat Sanitasi Buruk di 2026
Foto: Mengejutkan, 8,1 Juta Keluarga RI Berisiko Stunting Akibat Sanitasi Buruk di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Persoalan stunting di Indonesia masih menjadi ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Hal ini menjadi perhatian khusus pemerintah karena berkaitan erat dengan persiapan bonus demografi dan kebutuhan tenaga kerja nasional.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) memastikan bahwa berbagai program intervensi tetap berjalan meski landasan hukum sebelumnya telah berakhir. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting saat ini tengah dalam proses revisi setelah masa berlakunya selesai pada Desember 2024.

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono, menjelaskan bahwa tren prevalensi stunting secara nasional sebenarnya menunjukkan penurunan. Pada tahun 2025, angka stunting di tanah air tercatat berada pada level 18,8 persen.

Pemerintah sendiri telah menetapkan visi besar untuk menekan angka tersebut hingga di bawah 5 persen. Target ambisius ini diharapkan dapat tercapai sejalan dengan cita-cita menuju Indonesia Emas 2045.

Meskipun secara nasional menurun, Budi menekankan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah. Tantangan utamanya adalah ketimpangan angka stunting di sejumlah wilayah yang masih sangat tinggi.

Beberapa wilayah yang menjadi perhatian khusus meliputi Papua Pegunungan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Barat, dan Papua Selatan. Pemerintah berkomitmen meningkatkan upaya di provinsi tersebut agar angka stunting bisa setara atau lebih rendah dari rata-rata nasional.

Berdasarkan data BKKBN, tercatat ada sekitar 8,1 juta keluarga di Indonesia yang masuk dalam kategori Keluarga Risiko Stunting (KRS). Faktor lingkungan menjadi pemicu utama, di mana masalah sanitasi buruk dan minimnya akses air minum layak masih mendominasi.

Data Pendataan Keluarga 2025 menunjukkan ada sekitar 41,4 juta keluarga yang memiliki pasangan usia subur, ibu hamil, menyusui, atau balita. Dari total populasi tersebut, sebanyak 8,1 juta keluarga teridentifikasi rentan terhadap stunting.

Beberapa faktor utama yang menyebabkan jutaan keluarga masuk dalam kategori risiko stunting adalah:

  • Sebanyak 2,9 juta keluarga terdeteksi tidak memiliki fasilitas jamban yang layak untuk keperluan sanitasi sehari-hari.
  • Terdapat 1,7 juta keluarga yang belum mendapatkan akses utama terhadap sumber air minum yang memenuhi standar kelayakan.
  • Sekitar 4,3 juta pasangan usia subur terjebak dalam kategori "4 terlalu", yaitu melahirkan pada usia terlalu muda atau terlalu tua.
  • Kategori "4 terlalu" juga mencakup kondisi di mana ibu melahirkan anak dengan jarak yang terlalu sering atau memiliki jumlah anak terlalu banyak.

Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan BKKBN, Yuni Hastuningsih, menegaskan bahwa data tersebut merupakan hasil verifikasi akurat tahun 2025. Menurutnya, indikator risiko stunting tidak melulu soal asupan gizi yang kurang pada anak.

Kualitas lingkungan tempat tinggal serta sistem sanitasi keluarga juga memegang peranan yang sangat krusial. Pemerintah kini memfokuskan bantuan pada kelompok desil 1 atau keluarga miskin melalui program khusus.

Program unggulan yang digalakkan adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau disingkat GENTING. Yuni menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan melalui program ini bersifat komprehensif dan menyasar akar permasalahan.

Bentuk intervensi dalam program GENTING mencakup berbagai bantuan mendasar bagi keluarga sasaran berikut ini:

  • Pembangunan fasilitas jamban sehat dan penyediaan akses air bersih yang memadai di lingkungan rumah tinggal.
  • Perbaikan rumah tidak layak huni agar menjadi hunian yang lebih sehat bagi pertumbuhan anak-anak.
  • Pemberian bantuan nutrisi tambahan serta edukasi mengenai pola pengasuhan anak yang baik dan benar.
  • Program pemberdayaan ekonomi keluarga agar orang tua memiliki kemandirian finansial dalam memenuhi kebutuhan gizi.

Pada tahun 2026, BKKBN menargetkan program GENTING dapat menjangkau sedikitnya 1 juta keluarga risiko stunting. Sasaran program ini akan tersebar secara merata di 38 provinsi di seluruh wilayah Indonesia.

Pemerintah kembali mengingatkan bahwa dampak stunting jauh melampaui masalah pertumbuhan fisik anak yang terhambat. Gangguan ini juga menyerang perkembangan otak serta kemampuan kognitif anak secara permanen.

Selain itu, anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit metabolik saat beranjak dewasa. Oleh karena itu, langkah pencegahan sejak dini menjadi kunci utama pembangunan generasi masa depan yang berkualitas.

Artikel terkait

Rekomendasi