Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita? Simak Fakta Terbaru 2026 yang Mengejutkan Ini

Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita? Simak Fakta Terbaru 2026 yang Mengejutkan Ini
Foto: Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita? Simak Fakta Terbaru 2026 yang Mengejutkan Ini. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Penyakit lupus merupakan salah satu gangguan autoimun yang kerap menjadi sorotan karena lebih sering menyerang kelompok wanita, khususnya mereka yang berada di usia produktif.

Kondisi medis ini muncul saat sistem pertahanan tubuh yang mestinya menangkal infeksi justru berbalik menyerang jaringan serta organ sehat milik penderita sendiri.

Dampaknya, pasien dapat mengalami peradangan di berbagai bagian tubuh, mulai dari persendian, kulit, ginjal, hingga organ-organ vital lainnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, menjelaskan bahwa risiko wanita terkena lupus memang jauh lebih besar dibanding pria.

Data menunjukkan sekitar 90 persen atau 9 dari 10 pasien lupus adalah perempuan, terutama mereka yang berada dalam rentang usia 15 hingga 45 tahun.

Beberapa elemen kunci yang diduga menjadi penyebab tingginya angka tersebut meliputi pengaruh hormon, faktor genetika, hingga karakteristik sistem imun wanita.

Pengaruh Dominan Hormon Estrogen

Hormon estrogen yang berperan besar dalam sistem reproduksi perempuan disebut-sebut menjadi pemicu utama mengapa lupus lebih banyak dialami kaum hawa.

Meski membantu tubuh melawan infeksi, estrogen ternyata mampu meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh secara signifikan yang juga memicu risiko autoimun.

Kondisi ini menjelaskan mengapa lupus sering kali terdeteksi pada masa produktif, yakni saat kadar hormon estrogen dalam tubuh sedang berada di puncaknya.

Selain itu, gejala penyakit ini sering kali memburuk saat penderita mengalami perubahan hormon yang drastis seperti ketika menstruasi, hamil, atau pasca-persalinan.

Faktor Keturunan dan Kekuatan Sistem Imun

Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit autoimun memiliki probabilitas lebih tinggi untuk menderita lupus di kemudian hari.

Penelitian medis mengidentifikasi adanya gen spesifik yang berkaitan erat dengan lupus dan gen ini lebih sering ditemukan pada struktur biologis wanita.

Meskipun memiliki kaitan genetik, perlu dipahami bahwa lupus bukanlah penyakit yang menular dan tidak selalu diwariskan secara langsung kepada keturunan.

Secara alami, sistem pertahanan tubuh wanita memang cenderung lebih kuat dan aktif jika dibandingkan dengan sistem imun yang dimiliki pria.

Keunggulan ini membuat wanita lebih tahan terhadap infeksi, namun di sisi lain, imun yang terlalu agresif berisiko salah mengenali sel sehat sebagai ancaman.

Kesalahan identifikasi oleh sistem imun inilah yang memicu peradangan kronis dan menjadi karakteristik utama dari penyakit lupus.

Pemicu dari Lingkungan dan Pola Hidup

Selain faktor internal seperti hormon dan genetik, lingkungan sekitar juga memegang peranan penting dalam memicu munculnya gejala lupus.

Beberapa faktor eksternal yang patut diwaspadai antara lain:

  • Paparan sinar matahari (ultraviolet) yang berlebihan pada kulit.
  • Kondisi stres berkepanjangan yang tidak terkelola dengan baik.
  • Kurangnya waktu istirahat dan kelelahan fisik yang ekstrem.
  • Riwayat infeksi tertentu serta penggunaan jenis obat-obatan tertentu.

Kombinasi antara faktor genetik dan paparan lingkungan tersebut dapat memicu munculnya gejala pada individu yang memang sudah memiliki risiko dasar.

Memahami berbagai faktor risiko ini sangat penting agar penderita bisa melakukan pencegahan dini atau manajemen gejala yang lebih efektif bersama tenaga medis.

Artikel terkait

Rekomendasi