Fenomena kehilangan jabatan secara mendadak belakangan ini menjadi sorotan publik setelah sejumlah pejabat tinggi tersandung masalah hukum. Beberapa nama besar seperti Kepala MBG beserta dua mantan wakilnya harus berhadapan dengan Kejaksaan Agung, sementara Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim sempat berurusan dengan KPK.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana dampak psikologis yang dirasakan seseorang saat kehilangan otoritasnya dalam waktu singkat. Rasa sakit yang muncul akibat situasi tersebut berkaitan erat dengan kondisi medis yang dikenal sebagai post-power syndrome.
Memahami Post-Power Syndrome dan Dampaknya
Berdasarkan penjelasan dari Kementerian Kesehatan, post-power syndrome merupakan sebuah gangguan kejiwaan yang kerap menyerang individu yang baru saja kehilangan jabatan atau kekuasaan. Kondisi ini biasanya ditandai dengan penurunan rasa percaya diri yang cukup drastis.
Gejala yang muncul akibat sindrom ini terbagi ke dalam tiga kategori utama, yaitu gangguan fisik, emosional, dan perubahan perilaku. Secara fisik, penderita biasanya tampak kurang berenergi, wajah tidak ceria, dan daya tahan tubuh menurun sehingga mudah jatuh sakit.
Dari sisi emosional, seseorang akan menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, serta cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Perasaan hampa, kesedihan mendalam, dan rasa kesepian yang konstan sering kali menghantui keseharian mereka.
Meskipun identik dengan masa pensiun, kondisi ini sebenarnya bisa menimpa siapa saja yang kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba. Kehilangan posisi profesional ternyata memiliki dampak yang sangat mendalam terhadap mekanisme kerja otak manusia.
Mengapa Kehilangan Karier Terasa Begitu Menyakitkan?
Penelitian dari Janske H.W. Van Eersel dkk. yang dirilis dalam jurnal Front Psychiatry (2022) menyebutkan bahwa kehilangan karier memicu kesedihan yang setara dengan duka akibat kematian orang terkasih. Hal ini terjadi karena otak manusia mengaktifkan pola emosional yang identik dalam kedua situasi tersebut.
Fenomena ini disebabkan oleh cara kerja otak yang tidak memisahkan antara folder pekerjaan dan kehidupan pribadi secara kaku. Berikut adalah beberapa faktor mendalam yang menjelaskan mengapa rasa sakit tersebut bisa muncul begitu kuat:
Penyebab utama rasa sakit psikologis akibat kehilangan jabatan:- Hilangnya Identitas Diri: Dalam sudut pandang psikologis, jabatan bukan sekadar label pekerjaan, melainkan bagian dari jati diri seseorang. Seorang manajer merasa dirinya adalah pemimpin, sehingga ketika posisi itu hilang, ia merasa kehilangan bagian mendasar dari eksistensinya.
- Terputusnya Interaksi Sosial: Kehilangan pekerjaan juga berarti kehilangan rutinitas sosial, seperti obrolan di grup kantor atau makan siang bersama kolega. Bagi individu yang sulit bersosialisasi di luar kantor, rasa kesepian akan terasa jauh lebih menyiksa.
- Runtuhnya Struktur Harian: Rutinitas kerja dari pagi hingga sore memberikan makna dan jadwal yang teratur dalam hidup seseorang. Tanpa struktur ini, muncul perasaan tidak dibutuhkan lagi yang menciptakan kekosongan hati yang sulit untuk diobati.
- Reaksi Sistem Limbik: Sistem limbik sebagai pusat emosi di otak menganggap kehilangan jabatan sebagai ancaman nyata terhadap status sosial. Otak tidak bisa membedakan antara kehilangan pekerjaan dengan kehilangan orang tercinta, sehingga memicu peningkatan hormon stres kortisol secara signifikan.
- Penurunan Hormon Dopamin: Pencapaian dalam pekerjaan biasanya memicu pelepasan dopamin yang memberikan rasa bahagia. Saat jabatan hilang, otak mengalami fase penarikan zat kimia saraf (neurochemical withdrawal) yang mirip dengan putus cinta.
Ulasan di atas memberikan gambaran jelas mengenai alasan medis dan psikologis di balik kepedihan kehilangan posisi profesional. Memahami faktor-faktor ini sangat penting agar setiap individu bisa mempersiapkan mental lebih baik jika sewaktu-waktu harus menghadapi perubahan karier yang drastis.
Kehilangan jabatan memang bisa menimpa siapa saja tanpa terkecuali, baik karena masa tugas yang habis maupun faktor eksternal lainnya. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara identitas pribadi dan profesional menjadi kunci utama untuk tetap stabil secara emosional.
Ringkasan Gejala Post-Power Syndrome
Berikut adalah ringkasan mengenai berbagai gejala yang muncul saat seseorang mengalami sindrom pasca-kekuasaan:
| Kategori Gejala | Manifestasi yang Muncul |
|---|---|
| Gejala Fisik | Tampak kuyu, mudah sakit, dan kurang bersemangat. |
| Gejala Emosional | Murung, merasa hampa, sedih, dan kesepian. |
| Gejala Perilaku | Suka menyendiri dan menjadi sangat sensitif/mudah marah. |
Tabel di atas merangkum bagaimana kondisi mental dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara menyeluruh setelah tidak lagi menjabat. Penanganan yang tepat dan dukungan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk melewati fase sulit ini dengan baik.