Market Cap Pasar Modal Indonesia Turun Drastis, Tembus Bawah Rp10.000 Triliun

Market Cap Pasar Modal Indonesia Turun Drastis, Tembus Bawah Rp10.000 Triliun
Foto: Market Cap Pasar Modal Indonesia Turun Drastis, Tembus Bawah Rp10.000 Triliun. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pada hari Jumat, kapitalisasi pasar modal Indonesia turun di bawah Rp10.000 triliun akibat pelemahan yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ini terjadi setelah sebelumnya pada 25 Juli 2023, market cap IHSG sempat menembus angka tersebut.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar IHSG saat ini berada di level Rp9.807 triliun, setara dengan US$544 miliar. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar, yakni Rp619 triliun.

Di posisi kedua, ada saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dengan kapitalisasi Rp480 triliun. Saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) milik Anthoni Salim dan Otto Toto Sugiri berada di posisi ketiga dengan nilai kapitalisasi pasar Rp430 triliun.

Nilai ini menurun dibandingkan hari sebelumnya, ketika kapitalisasi pasar BEI masih tercatat Rp10.263 triliun, setara dengan US$569 miliar. Di awal tahun, pada 2 Januari 2026, kapitalisasi pasar IHSG mencapai Rp16.014 triliun atau US$957 miliar.

Pasar terus melemah, dengan IHSG mencatat penurunan sebesar 4,20% dan ditutup pada level 5.594,76—terendah dalam lima tahun terakhir. Dari awal tahun hingga sekarang, IHSG telah menyusut 35,3%, setelah pernah berada pada level 8.748,13 di bulan Januari.

Pada saat itu, saham BREN mencatat kapitalisasi pasar terbesar, sejumlah Rp1.294 triliun. Sementara, kapitalisasi pasar BBCA mencapai Rp979 triliun. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dari grup Sinarmas sempat menjadi yang terbesar ketiga dengan Rp759 triliun.

Namun, saat ini, saham DSSA justru sudah tidak masuk dalam daftar 10 besar emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa. Kondisi ini menunjukkan dinamika dan perubahan cepat dalam peta kapitalisasi pasar di Indonesia.

Sebagai informasi tambahan, saat ini OJK terus memantau kinerja emiten yang, meskipun IHSG melemah, masih menunjukkan fundamental yang solid. Dalam waktu dekat, OJK juga berencana mendorong lebih banyak perusahaan untuk melantai di bursa melalui IPO guna meningkatkan gairah pasar modal.

Artikel terkait

Rekomendasi