Maraknya Pendaki Ilegal di Gunung Fuji, Biaya Penyelamatan Kini Diminta Tanggung Sendiri

Maraknya Pendaki Ilegal di Gunung Fuji, Biaya Penyelamatan Kini Diminta Tanggung Sendiri
Foto: Ilustrasi Maraknya Pendaki Ilegal di Gunung Fuji, Biaya Penyelamatan Kini Diminta Tanggung Sendiri.
Ukuran teks

Aktivitas pendakian ilegal di Gunung Fuji kembali memicu gelombang protes dari pemerintah setempat dan masyarakat Jepang. Tindakan para pendaki yang nekat beraksi di luar musim resmi dinilai sangat egois dan membahayakan nyawa petugas penyelamat.

Gunung tertinggi di Jepang ini secara resmi hanya dibuka untuk umum pada awal Juli hingga awal September setiap tahunnya. Namun, kemunculan para pendaki liar sebelum jadwal tersebut terus terjadi dan sering kali berakhir dengan insiden medis yang merepotkan otoritas setempat.

Kemarahan Wali Kota Fujinomiya Terhadap Pendaki Ilegal

Insiden terbaru yang memicu kecaman keras melibatkan seorang warga negara China yang menetap di Jepang. Pendaki tersebut dilaporkan terjatuh di tanggul sekitar Jalur Fujinomiya hingga menderita luka-luka di tangan dan kakinya.

Kejadian ini memicu kemarahan Wali Kota Fujinomiya, Hidetada Sudo, yang sudah tidak bisa menoleransi perilaku pelanggaran aturan tersebut. Dalam sebuah konferensi pers pada pertengahan Mei 2026, ia secara terbuka mengkritik mentalitas para pendaki ilegal.

Sudo menegaskan bahwa tindakan tidak sabaran ini tidak hanya mengancam nyawa pendaki itu sendiri, melainkan juga menempatkan tim penyelamat dalam risiko besar. Menurutnya, sikap merasa berhak mendapatkan pertolongan kapan saja adalah pemikiran yang tidak masuk akal.

Ia menambahkan bahwa jika petugas penyelamat mengalami cedera saat bertugas, hal itu akan sangat menyakitkan bagi keluarga maupun instansi mereka. Sudo merasa para pendaki yang melanggar musim ini seolah-olah sedang meremehkan nyawa orang lain.

Publik Jepang Desak Kebijakan Denda Penyelamatan

Pernyataan tegas dari Wali Kota Sudo mendapat dukungan luas dari warganet Jepang di berbagai platform media sosial. Banyak masyarakat yang merasa geram dan mendesak pemerintah untuk segera memperketat aturan mengenai biaya penyelamatan.

Beberapa poin keberatan dan usulan yang muncul dari masyarakat antara lain adalah:

  • Penerapan biaya penyelamatan penuh bagi pendaki yang melanggar batas waktu musim pendakian resmi.
  • Mengubah status pendakian ilegal menjadi pelanggaran hukum yang dapat dijatuhi hukuman penangkapan.
  • Ketegasan untuk tidak menanggung beban biaya penyelamatan dari uang pajak masyarakat.
  • Memberikan tanggung jawab finansial kepada keluarga pendaki jika terjadi insiden fatal di luar musim.

Dukungan publik ini mencerminkan keresahan warga terhadap penyalahgunaan fasilitas darurat oleh oknum yang mengabaikan peringatan keamanan di gunung setinggi 3.776 meter tersebut.

Kronologi Insiden Pendaki yang Meminta Ambulans

Kasus yang memicu perdebatan ini bermula saat seorang pemuda berusia 23 tahun mulai mendaki dari stasiun kelima Jalur Fujinomiya pada dini hari. Ia mendaki bersama dua rekannya dalam kondisi gelap gulita sebelum matahari terbit untuk mengejar puncak.

Setelah berhasil mencapai puncak dan mulai turun, pria tersebut kehilangan keseimbangan saat sedang beristirahat di dekat stasiun kesembilan. Ia tergelincir ke lereng dan mengalami luka lecet cukup serius pada kedua lengannya.

Meskipun ia sanggup berjalan kembali ke titik awal di stasiun kelima, ia justru meminta rekannya menghubungi layanan darurat 110. Permintaan penjemputan menggunakan ambulans inilah yang dianggap sangat berlebihan dan menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab.

Berikut adalah ringkasan fakta terkait insiden pendakian ilegal tersebut:

Detail Informasi Keterangan Insiden
Identitas Pelaku Pria asal Tiongkok (23 tahun)
Lokasi Kejadian Stasiun ke-9 Jalur Fujinomiya, Gunung Fuji
Waktu Pendakian Minggu, 3 Mei 2026 (Di luar musim resmi)
Jenis Cedera Luka lecet pada tangan kanan dan lengan kiri
Tindakan Medis Meminta layanan ambulans dari stasiun kelima

Tabel di atas merinci bagaimana insiden tersebut terjadi pada saat Gunung Fuji seharusnya masih tertutup untuk aktivitas pendakian umum demi alasan keselamatan cuaca.

Kecenderungan Wisatawan Asing Meremehkan Bahaya

Fenomena pendaki asing yang meremehkan tingkat kesulitan Gunung Fuji di luar musim panas menjadi perhatian serius otoritas Jepang. Banyak turis dianggap tidak memahami risiko penyakit ketinggian dan cuaca ekstrem yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Salah satu kasus yang sempat menghebohkan terjadi pada April 2025, melibatkan seorang mahasiswa asing asal China. Mahasiswa berusia 27 tahun tersebut harus dibantu turun oleh petugas penyelamat sebanyak dua kali hanya dalam waktu satu minggu.

Pada kejadian pertama, ia mengalami penyakit ketinggian setelah mencapai puncak dan dievakuasi oleh Polisi Prefektur Shizuoka. Namun, beberapa hari kemudian ia nekat mendaki lagi hanya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, hingga kembali jatuh sakit di ketinggian 3.000 meter.

Meskipun nyawa para pendaki tersebut berhasil diselamatkan, rangkaian kejadian ini semakin memperkuat alasan pemerintah setempat untuk memperketat akses. Gunung Fuji yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO kini menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan pariwisata dan keselamatan publik.

Artikel terkait

Rekomendasi