Kewaspadaan terhadap ancaman malaria monyet kini mulai meningkat di kawasan Asia Tenggara. Hingga memasuki awal Mei 2026, wilayah Sabah di Malaysia telah melaporkan temuan sebanyak 357 kasus pada manusia.
Lonjakan kasus di Malaysia tersebut dilaporkan telah menyebabkan satu orang meninggal dunia. Data ini tercatat hingga pekan epidemiologi ke-16 di tahun yang sama.
Situasi Malaria Monyet di Indonesia
Kondisi serupa ternyata mulai terdeteksi di Indonesia, tepatnya di wilayah Kabupaten Aceh Jaya. Dinas kesehatan setempat menemukan sebanyak 30 kasus malaria monyet yang menyerang warga hingga April 2026.
Penyakit ini dikategorikan sebagai zoonosis, yaitu infeksi yang berpindah dari hewan ke manusia. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit, terutama jenis Plasmodium knowlesi.
Berikut adalah poin utama mengenai karakteristik penyakit ini menurut otoritas kesehatan:
- Penyakit ini bersifat zoonosis yang ditularkan dari monyet ke manusia melalui perantara nyamuk.
- Penyebab utamanya adalah parasit Plasmodium knowlesi yang memiliki siklus perkembangan sangat cepat.
- Gejala dan tingkat kefatalannya menyerupai jenis malaria lainnya jika tidak segera mendapat penanganan medis.
- Risiko kematian meningkat apabila pengobatan terlambat dilakukan karena kecepatan replikasi parasit di dalam tubuh.
Vera Asprianti selaku Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh Jaya menjelaskan bahwa 30 kasus di wilayahnya masuk kategori probable knowlesi. Ia menekankan pentingnya respons cepat dalam menangani pasien karena sifat parasitnya yang agresif.
Vera menambahkan bahwa jenis ini jauh lebih berbahaya dibandingkan malaria vivax jika dibiarkan tanpa tindakan medis. Oleh karena itu, identifikasi awal menjadi prioritas utama tenaga kesehatan di lapangan.
Langkah Antisipasi dan Pencegahan
Pemerintah Aceh Jaya kini tengah memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka penularan. Fokus utamanya adalah area yang bersinggungan langsung dengan habitat monyet, seperti kawasan tambang dan perkebunan sawit.
Selain kerja sama wilayah, pihak dinas kesehatan juga memastikan ketersediaan logistik dan peralatan medis yang memadai. Tenaga laboratorium juga terus dilatih agar mampu mendeteksi keberadaan parasit dengan akurasi tinggi.
Rangkuman perbandingan situasi antara Malaysia dan Indonesia adalah sebagai berikut:
| Aspek Perbandingan | Malaysia (Sabah) | Indonesia (Aceh Jaya) |
|---|---|---|
| Jumlah Kasus Terdeteksi | 357 Kasus | 30 Kasus |
| Jumlah Korban Jiwa | 1 Orang Meninggal | Nihil |
| Lokasi Sebaran Utama | Tawau, Ranau, Kudat | Kawasan Tambang & Sawit |
| Fokus Penanganan | Pengelolaan Lahan & Limbah | Penguatan Tenaga Lab & Logistik |
Data di atas menunjukkan perbedaan skala penularan namun dengan ancaman yang sama seriusnya bagi kedua negara. Ketersediaan fasilitas kesehatan publik di kedua wilayah diharapkan mampu memberikan deteksi dini bagi warga.
Penyebab Meningkatnya Kasus Zoonosis
Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, menyebutkan bahwa gangguan pada habitat satwa menjadi pemicu utama. Meningkatnya aktivitas manusia di dalam hutan membuat interaksi dengan monyet liar semakin intens.
Dzulkefly menyarankan agar pembukaan lahan dilakukan secara terkontrol dan pengelolaan limbah diperketat. Langkah ini dinilai efektif untuk memutus rantai kontak antara manusia dengan vektor pembawa penyakit.
Selain masalah lingkungan, tantangan besar yang dihadapi adalah kurangnya ketersediaan tenaga medis di daerah terpencil. Pemerintah Malaysia sendiri telah membentuk gugus tugas khusus untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis di Sabah.
Sebagai solusi jangka pendek, puluhan dokter muda telah dikirim ke Rumah Sakit Duchess di Sandakan. Upaya ini dilakukan untuk memastikan setiap pasien malaria mendapatkan perawatan intensif sesegera mungkin.