Kurs Rupiah Hari Ini Kamis 4 Juni 2026: Dolar AS Menguat, Cek Nilai Terbaru di BCA dan Mandiri

Kurs Rupiah Hari Ini Kamis 4 Juni 2026: Dolar AS Menguat, Cek Nilai Terbaru di BCA dan Mandiri
Foto: Kurs Rupiah Hari Ini Kamis 4 Juni 2026: Dolar AS Menguat, Cek Nilai Terbaru di BCA dan Mandiri. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi akan mengalami pergerakan fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Mata uang Garuda diperkirakan akan berada pada rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS akibat tekanan sentimen global dan domestik.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, Rabu, 4 Juni 2026, rupiah sudah menunjukkan pelemahan sebesar 0,71 persen atau turun 125,50 poin ke posisi Rp17.966 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat tipis 0,09 persen menuju level 99,30.

Konflik Timur Tengah Menekan Mata Ungan

Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, mengungkapkan bahwa perhatian investor saat ini tertuju pada ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah. Israel dilaporkan masih melanjutkan operasi militernya di wilayah Lebanon Selatan hingga saat ini.

Kondisi semakin rumit setelah Iran meluncurkan serangan rudal balistik yang menyasar kawasan Kuwait serta Bahrain. Gejolak ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi di wilayah produsen energi tersebut.

Situasi di Selat Hormuz juga dilaporkan semakin memanas menyusul tindakan militer Amerika Serikat di Pulau Qeshm, Iran. Wilayah ini memiliki peran sangat krusial karena menjadi jalur distribusi utama bagi seperlima konsumsi minyak dunia setiap harinya.

Meskipun ada upaya diplomasi, ketidakpastian mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran masih terus berlanjut. Padahal, kedua pihak sempat mengklaim adanya kesepakatan kerangka kerja sementara untuk meredam konflik pada pekan lalu.

Sentimen Negatif dari Dalam Negeri

Dari sisi domestik, posisi rupiah semakin terdesak oleh rilis data ekonomi terbaru yang menunjukkan kenaikan angka inflasi. Inflasi secara bulanan pada Mei 2026 tercatat meningkat sebesar 0,28 persen, yang memberikan sinyal kurang menguntungkan bagi pasar.

Kenaikan ini juga tercermin dari Indeks Harga Konsumen yang merangkak naik dari posisi 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Ibrahim menilai data tersebut memperburuk sentimen terhadap rupiah karena menekan daya beli masyarakat.

Pasar juga menyoroti kinerja neraca perdagangan barang Indonesia yang mencatatkan surplus sebesar US$89,1 juta pada April 2026. Pencapaian ini menandai keberhasilan Indonesia menjaga tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Namun, Ibrahim memberikan catatan bahwa secara statistik nilai surplus pada April tersebut mengalami penyempitan yang cukup tajam. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan pada ketahanan eksternal akibat gangguan pasokan global di Selat Hormuz.

Kondisi Penutupan dan Pembukaan Pasar

Ringkasan pergerakan nilai tukar rupiah berdasarkan data perdagangan terbaru:

  • Pembukaan Pasar: Rupiah dibuka pada level Rp17.998 per dolar AS, mengalami depresiasi tipis sebesar 0,11 persen.
  • Penutupan Pasar: Mata uang Garuda berakhir di level Rp18.049 per dolar AS atau melemah 0,46 persen (turun 82 poin).
  • Level Terlemah: Angka Rp18.049 merupakan level terendah sepanjang masa bagi nilai tukar rupiah menurut data TradingView.
  • Indeks Dolar: Berlawanan dengan rupiah, indeks dolar AS terpantau melemah 0,10 persen ke posisi 99,42 saat penutupan.

Data dari analisis Doo Financial Futures menunjukkan bahwa pelemahan rupiah ini sejalan dengan tren negatif yang melanda mayoritas mata uang di Asia. Hampir seluruh mata uang utama di kawasan tersebut kompak tunduk di hadapan dolar Amerika Serikat.

Mata Uang Asia Persentase Pelemahan
Won Korea 0,35%
Yen Jepang 0,11%
Dolar Singapura 0,03%
Dolar Hong Kong 0,03%

Tabel di atas merangkum bagaimana tekanan dolar AS memberikan dampak sistemik terhadap berbagai nilai tukar mata uang di kawasan regional Asia pada periode yang sama. Kondisi geopolitik yang tidak menentu menjadi faktor utama di balik pelemahan serentak ini.

Dampak Ekonomi yang Perlu Diwaspadai

Anjloknya nilai tukar rupiah hingga menembus level psikologis baru ini diperkirakan akan memberikan dampak berantai pada berbagai sektor ekonomi. Emiten peritel dikabarkan mulai bersiap melakukan penyesuaian harga jual produk guna menutupi kenaikan biaya operasional.

Purbaya Yudhi Sadewa juga sempat mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang drastis akan meningkatkan beban pembayaran bunga utang negara. Meski demikian, ia membantah anggapan bahwa kondisi APBN menjadi pemicu utama pelemahan mata uang tersebut.

Di tengah ketidakpastian ini, masyarakat dilaporkan mulai beralih memburu instrumen investasi aman seperti emas dalam gramasi kecil. Langkah ini diambil sebagai strategi perlindungan nilai terhadap kekayaan mereka di tengah depresiasi rupiah yang kian dalam.

Bank Indonesia sendiri terus dipantau oleh para pelaku pasar terkait langkah intervensi yang akan diambil untuk menahan kejatuhan rupiah lebih lanjut. Fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas moneter agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi