Kronologi Pasien Hantavirus Meninggal di RSHS, Kemenkes Sebut Baru di 2026: Mengejutkan!

Kronologi Pasien Hantavirus Meninggal di RSHS, Kemenkes Sebut Baru di 2026: Mengejutkan!
Foto: Kronologi Pasien Hantavirus Meninggal di RSHS, Kemenkes Sebut Baru di 2026: Mengejutkan!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Seorang pasien laki-laki berusia 49 tahun dilaporkan meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah terjangkit infeksi hantavirus. Selain infeksi hantavirus, tim medis juga mengonfirmasi adanya keterlibatan bakteri leptospirosis yang memperparah kondisi kesehatan pasien tersebut.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI segera memberikan klarifikasi terkait peristiwa ini guna menghindari kepanikan di tengah masyarakat. Kemenkes menegaskan bahwa kasus ini sebenarnya terjadi pada tahun 2025 dan tidak berkaitan dengan isu hantavirus yang sempat ramai dibicarakan di kapal pesiar MV Hondius.

Kronologi dan Riwayat Penyakit Pasien

Elisabeth Hutajulu, dokter spesialis penyakit dalam dari RSHS Bandung, memberikan penjelasan mendalam mengenai profil pasien tersebut. Diketahui bahwa pasien berprofesi sebagai buruh bangunan yang berdomisili di wilayah Cibeunying Kolot, Kota Bandung.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, pasien sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama tiga hari. Sayangnya, kondisi kesehatan pasien terus merosot tajam meski tim medis telah berupaya melakukan penanganan maksimal.

Perjalanan penyakit pasien dimulai sekitar enam hari sebelum diputuskan untuk masuk ke ruang perawatan rumah sakit. Gejala awal yang muncul saat itu adalah demam yang sifatnya hilang timbul dan tidak kunjung mereda.

Tiga hari sebelum dirawat, pasien mulai mengeluhkan rasa nyeri yang sangat hebat pada bagian perut kanan atas. Kondisi ini menjadi sinyal awal adanya gangguan serius pada organ dalam pasien.

"Nyeri tersebut disertai dengan kondisi badan dan bagian mata yang menguning sejak sehari sebelum masuk rumah sakit," ungkap Elisabeth dalam sosialisasi daring pada Senin (19/5/2026).

Gejala penyerta lainnya yang dialami pasien adalah rasa mual yang luar biasa serta muntah setiap kali mengonsumsi makanan atau minuman. Hal ini menyebabkan asupan nutrisi pasien terganggu secara signifikan sebelum tiba di fasilitas kesehatan.

Saat tiba di RSHS, tim medis menemukan pasien dalam keadaan demam tinggi dengan tanda klinis ikterik atau mata menguning. Selain itu, pasien juga sudah menunjukkan gejala sesak napas yang menandakan adanya gangguan fungsi paru.

Perburukan Kondisi Selama Perawatan

Pada hari pertama perawatan medis, keluhan demam dan rasa nyeri di perut masih terus dirasakan oleh pasien. Namun, masalah yang paling mengkhawatirkan adalah tingkat sesak napas yang semakin hari kian memberat.

Memasuki hari kedua, situasi klinis pasien berubah menjadi sangat kritis dan membutuhkan bantuan alat pernapasan tambahan. Tim dokter kemudian memberikan edukasi kepada pihak keluarga mengenai pentingnya tindakan intubasi segera.

Sayangnya, pihak keluarga memilih untuk menolak tindakan medis tersebut karena alasan tertentu. "Setelah edukasi intubasi ditolak oleh keluarga, kondisi pasien semakin menurun hingga akhirnya meninggal dunia," jelas Elisabeth lebih lanjut.

Pihak rumah sakit mencatat bahwa pasien sebenarnya masih berada dalam usia yang relatif muda dan produktif. Ia juga tercatat tidak memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid seperti diabetes melitus maupun hipertensi.

Meskipun tanpa komorbid, proses penurunan kondisi kesehatan pasien berlangsung dalam durasi yang sangat cepat. Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa saturasi oksigen dalam darah pasien sudah mulai menurun di bawah batas normal.

Hasil pemindaian rontgen dada mengonfirmasi adanya bronkopneumonia, sementara hasil pemeriksaan USG menunjukkan kondisi kardiomegali. Kardiomegali merupakan istilah medis yang merujuk pada terjadinya pembesaran ukuran jantung pasien.

Penyebab Medis dan Diagnosa Akhir

Melalui pemeriksaan laboratorium yang lebih mendalam, terungkap penyebab utama mengapa kondisi pasien memburuk dengan sangat drastis. Pasien dinyatakan positif terinfeksi hantavirus sekaligus bakteri leptospirosis secara bersamaan.

Kombinasi antara virus dan bakteri tersebut diduga kuat menjadi pemicu keparahan gejala yang dialami oleh pasien. Tingkat infeksi yang tinggi ini juga terlihat dari hasil tes darah yang menunjukkan ketidakseimbangan parameter vital.

"Hasil sampel menunjukkan positif hantavirus dan leptospirosis, yang menjelaskan mengapa kondisi pasien sangat berat dengan kadar prokalsitonin tinggi dan trombosit rendah," tutur Elisabeth.

Berdasarkan rangkaian pemeriksaan tersebut, tim medis menegakkan diagnosis akhir bahwa pasien menderita penyakit Weil atau Weil's disease. Kondisi ini diperparah dengan infeksi hantavirus yang memicu terjadinya syok sepsis.

Selain masalah pada jantung dan paru, pasien juga didiagnosis mengalami Acute Kidney Injury (AKI) atau gagal ginjal akut stadium 3. Sebelum wafat, ditemukan pula kadar kalium yang sangat tinggi dalam darah atau hiperkalemia.

Klarifikasi Kemenkes Terkait Tipe Virus

Beberapa poin penting mengenai perbedaan kasus ini dengan kasus internasional diungkapkan oleh pihak pemerintah:

  • Kasus kematian di RSHS Bandung ini terjadi pada periode tahun 2025 yang lalu.
  • Tipe virus yang menginfeksi adalah HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome).
  • Kasus ini berbeda dengan tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) yang ditemukan di kapal MV Hondius.
  • Penularan hantavirus di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan wabah di luar negeri.

Penjelasan tersebut merinci bahwa masyarakat tidak perlu mengaitkan kejadian ini dengan isu kesehatan di kapal pesiar mewah. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan perbedaan mendasar pada jenis virusnya.

"Kejadian ini ada di tahun 2025 dengan tipe HFRS, bukan tipe HPS seperti yang ada di MV Hondius," tegas Andi pada Rabu (20/5/2026).

Hantavirus sendiri sebenarnya bukan merupakan hal baru di wilayah Indonesia dan sudah terdeteksi sejak lama. Namun, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa jenis virus yang ada di tanah air berbeda dengan varian luar negeri.

Berikut adalah ringkasan medis mengenai kondisi terakhir pasien sebelum meninggal dunia:

Parameter Medis Hasil Pemeriksaan
Status Infeksi Positif Hantavirus dan Leptospirosis
Kondisi Paru Bronkopneumonia (Infeksi Paru)
Kondisi Jantung Kardiomegali (Pembesaran Jantung)
Fungsi Ginjal Gagal Ginjal Akut (AKI) Stadium 3
Komplikasi Lain Syok Sepsis dan Hiperkalemia

Tabel di atas merangkum betapa kompleksnya infeksi ganda yang dialami oleh pasien buruh bangunan tersebut. Kecepatan perburukan gejala menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus.

Artikel terkait

Rekomendasi