Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan penjelasan terkait keberadaan Hantavirus yang mulai memicu kekhawatiran masyarakat di tanah air. Virus yang bersumber dari hewan pengerat ini rupanya bukan hal baru karena telah terdeteksi di Indonesia sejak era 1980-an.
Berdasarkan hasil studi di sejumlah kota besar, ditemukan fakta bahwa sekitar 11,6 persen penduduk Indonesia pernah terpapar virus ini. Hal ini berarti setidaknya 1 dari 10 orang pernah terinfeksi, meskipun sering kali kondisinya tidak terdiagnosis secara medis.
Pada populasi tikus yang menjadi inang utama, tingkat infeksi ditemukan berada pada kisaran 0 hingga 34 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa virus ini aktif bersirkulasi, terutama di kawasan dengan populasi tikus yang padat.
Data Kasus dan Sebaran di Indonesia
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Kemenkes RI mencatat adanya 23 kasus konfirmasi Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi. Dari total temuan tersebut, dilaporkan terdapat tiga kasus kematian dengan tingkat fatalitas mencapai 13 persen.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa seluruh temuan di Indonesia merupakan jenis Seoul Virus. Berbeda dengan Andes Virus yang ditemukan di Amerika Selatan, jenis Seoul Virus tidak menularkan infeksi antarmanusia.
Berdasarkan laporan tahunan, lonjakan kasus paling signifikan terjadi pada tahun 2025 dengan total 17 temuan klinis. Sementara itu, tercatat satu kasus pada tahun 2024 dan hingga Mei 2026 ini sudah ditemukan lima kasus tambahan.
Berikut adalah rincian persebaran kasus Hantavirus di berbagai wilayah Indonesia:- DKI Jakarta: 6 kasus
- DI Yogyakarta: 6 kasus
- Jawa Barat: 5 kasus
- Sumatera Barat: 1 kasus
- Banten: 1 kasus
- Jawa Timur: 1 kasus
- Nusa Tenggara Timur (NTT): 1 kasus
- Kalimantan Barat: 1 kasus
- Sulawesi Utara: 1 kasus
Data di atas memperlihatkan bahwa wilayah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi daerah dengan laporan kasus tertinggi sejauh ini. Sebaran kasus yang cukup luas di berbagai pulau menandakan pentingnya kewaspadaan di seluruh wilayah Indonesia.
Mekanisme Penularan yang Perlu Diwaspadai
Penularan Hantavirus ke manusia sering kali terjadi melalui perantara yang dianggap sepele, yakni debu yang telah terkontaminasi. Virus dapat masuk ke tubuh melalui udara yang membawa partikel liur, urine, atau kotoran tikus yang telah mengering.
Selain melalui udara, infeksi juga bisa terjadi lewat kontak langsung dengan tikus atau paparan pada luka terbuka di kulit. Seseorang tetap berisiko tertular meskipun tidak pernah digigit secara langsung oleh hewan pengerat tersebut.
Guna menekan risiko penularan, berikut adalah beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan secara mandiri:- Melakukan pengendalian populasi tikus di lingkungan tempat tinggal secara rutin.
- Menjaga dan memperbaiki sanitasi lingkungan agar tetap bersih dan tidak menjadi sarang hewan pengerat.
- Selalu menggunakan masker saat sedang membersihkan area yang berdebu atau gudang yang jarang terpakai.
- Menutup rapat akses masuk tikus ke dalam rumah serta mengelola sampah dengan baik.
Langkah-langkah tersebut sangat krusial mengingat penularan utama terjadi melalui partikel kotoran yang terbang di udara. Dengan menjaga kebersihan lingkungan, potensi paparan terhadap virus mematikan ini dapat diminimalisir secara efektif.