Seorang wanita muda bernama Aubrey Hasley harus menghadapi kenyataan pahit saat divonis terkena stroke di usia 22 tahun. Pengalaman medis yang mengejutkan ini berawal dari sebuah gejala yang sering dianggap sepele, yaitu telinga berdenging secara tiba-tiba.
Melansir dari laman Today, peristiwa ini terjadi pada Juni 2024 ketika Hasley mendengar suara denging yang sangat keras di telinganya. Hasley menggambarkan suara tersebut mirip dengan getaran yang muncul saat mikrofon diletakkan terlalu dekat dengan pengeras suara.
Meski bunyi denging itu hanya berlangsung beberapa detik, dampaknya segera berlanjut menjadi sakit kepala yang hebat. Awalnya, ia tidak merasa terlalu khawatir karena menganggap hal itu sebagai bagian dari riwayat migrain yang memang sering dialaminya.
Hasley diketahui mengidap migrain dengan aura beberapa kali dalam setahun, sehingga ia memilih untuk beristirahat di rumah. Namun, keputusan untuk tidur siang tidak membuat kondisinya membaik, justru gejalanya semakin mengkhawatirkan.
Gejala serius yang mulai muncul dirasakan oleh Hasley antara lain:
- Kepala terasa sangat pusing hingga ruangan tampak seperti berputar.
- Munculnya gejala stroke klasik seperti wajah yang mulai terkulai atau tidak simetris.
- Kemampuan berbicara yang menurun hingga menjadi cadel dan sulit dimengerti.
- Kesulitan untuk berjalan serta mengalami gangguan penglihatan ganda.
- Rasa mual yang hebat setiap kali mencoba membuka mata.
Sebagai tenaga medis paruh waktu di sebuah rumah sakit, Hasley sebenarnya menyadari tanda-tanda fisik tersebut mengarah pada stroke. Meski begitu, ia sempat ragu untuk ke unit gawat darurat karena merasa usianya masih terlalu muda untuk mengalami penyakit tersebut.
Kondisi yang semakin kritis akhirnya membuat sang ibu membawa Hasley ke Endeavor Health Northwest Community Hospital. Di sana, tim medis segera melakukan serangkaian tes saraf yang melibatkan kemampuan membaca dan koordinasi anggota gerak tubuh.
Setelah pemeriksaan mendalam, dokter mengonfirmasi bahwa Hasley benar-benar mengalami serangan stroke. Dr. Mohammad Anadani, Kepala Layanan Neuroendovaskular, segera mengambil tindakan medis berupa prosedur trombektomi.
Prosedur ini dilakukan bertujuan untuk mengangkat gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah di otak Hasley. Operasi tersebut dinyatakan berhasil, walaupun Hasley mengaku tidak ingat banyak detail setelah tindakan medis selesai dilakukan.
Berikut adalah ringkasan mengenai masa pemulihan dan faktor risiko yang dialami Hasley:
| Kategori | Keterangan Medis |
|---|---|
| Durasi Rawat Inap | Empat hari di rumah sakit hingga pemulihan awal selesai. |
| Kondisi Jantung | Memiliki Patent Foramen Ovale (PFO) atau lubang kecil pada jantung. |
| Faktor Eksternal | Konsumsi pil kontrasepsi (KB) yang dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah. |
| Proses Pemulihan | Berjalan relatif cepat meskipun sempat mengalami kelelahan dan pandangan kabur. |
Data medis menunjukkan bahwa kombinasi antara kelainan jantung bawaan dan penggunaan pil KB menjadi pemicu utama kasus ini. Dr. Anadani menjelaskan bahwa lubang pada jantung tersebut memungkinkan bekuan darah berpindah ke otak dan menyebabkan stroke.
Kisah Aubrey Hasley menjadi peringatan penting bahwa stroke tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut. Kesadaran terhadap gejala awal, meskipun tampak ringan seperti telinga berdenging, sangat krusial untuk mencegah dampak permanen yang lebih parah.