Kisah Unik Calendario Romano 2026, Souvenir Pastor Roma yang Banyak Dicari Turis

Kisah Unik Calendario Romano 2026, Souvenir Pastor Roma yang Banyak Dicari Turis
Foto: Kisah Unik Calendario Romano 2026, Souvenir Pastor Roma yang Banyak Dicari Turis. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Roma dikenal memiliki beragam suvenir ikonik, namun ada satu produk yang selalu mencuri perhatian wisatawan selama dua dekade terakhir. Produk tersebut adalah Calendario Romano, sebuah kalender yang menampilkan potret pria-pria tampan dengan busana pastor.

Meskipun kalender ini sangat populer di toko-toko suvenir sekitar Vatikan, fakta menarik di baliknya mulai terungkap ke publik. Ternyata, tidak semua model yang berpose di kalender tersebut merupakan seorang pemuka agama asli.

Rahasia di Balik Model Kalender Ikonik

Salah satu wajah yang paling dikenal dalam kalender ini adalah Giovanni Galizia, yang fotonya telah digunakan selama 23 edisi berturut-turut. Galizia secara terbuka mengakui bahwa dirinya sebenarnya bukanlah seorang pastor seperti yang terlihat di foto.

Ia menceritakan bahwa foto ikonik tersebut diambil saat dirinya masih berusia 17 tahun dalam sebuah sesi pemotretan yang tidak terencana. Saat itu, ia merasa malu karena teman-temannya menertawakannya yang harus mengenakan kerah khas imam.

Proses kreatif kalender ini berawal saat Galizia diperkenalkan kepada seorang fotografer bernama Piero Pazzi melalui seorang kenalan. Kerja sama itu menghasilkan foto hitam putih yang hingga kini menghiasi kalender bertajuk Calendario Romano tersebut.

Fakta menarik mengenai produksi dan distribusi kalender ini antara lain:

  • Dijual dengan harga 8 euro atau setara dengan Rp183 ribu per eksemplar.
  • Mudah ditemukan di pusat bersejarah Roma dan area sekitar markas besar kepausan.
  • Piero Pazzi selaku fotografer menerima royalti, sementara Galizia tidak pernah meminta imbalan finansial.
  • Vatikan secara resmi menyatakan bahwa kalender ini tidak memiliki hubungan formal dengan Takhta Suci.

Kalender ini tetap menjadi salah satu barang yang paling dicari oleh turis meskipun bukan merupakan produk resmi dari gereja. Struktur penjualannya yang masif membuktikan daya tarik visual kalender tersebut di mata internasional.

Perspektif Estetika dan Dampak Sosial

Potret hitam putih dalam kalender ini sering kali dianggap memiliki aura sensual oleh sebagian besar pembeli dan wisatawan. Menanggapi hal itu, Galizia merasa heran mengapa keindahan wajahnya sering kali disalahartikan sebagai sesuatu yang seksual.

Ia berpendapat bahwa di dunia modern, batasan antara keindahan murni dan sensualitas sering kali menjadi kabur. Meski demikian, pria berusia 39 tahun ini tetap menganggap penilaian orang lain tersebut sebagai sebuah pujian yang unik.

Ada beberapa poin penting mengenai persepsi publik terhadap kalender ini:

  • Dianggap oleh media lokal sebagai kalender yang menampilkan sosok pastor fiktif.
  • Menjadi sangat populer di kalangan anak muda di berbagai belahan dunia, termasuk Korea Selatan.
  • Membantu meruntuhkan stigma bahwa sosok imam selalu kaku dan jauh dari masyarakat.
  • Memberikan citra yang lebih bersahabat dan santai mengenai kehidupan religius bagi kaum awam.

Seorang pastor asal Korea Selatan bernama Domenico memberikan testimoni bahwa kalender ini memiliki dampak positif di negaranya. Menurutnya, visual yang lebih segar membuat anak muda merasa pastor lebih mudah didekati dan memiliki sisi humor.

Secara keseluruhan, meskipun menuai perdebatan mengenai keaslian profesi modelnya, Calendario Romano tetap berdiri sebagai fenomena budaya di Roma. Kalender ini berhasil menjembatani seni fotografi sederhana dengan minat global wisatawan yang berkunjung ke Italia.

Artikel terkait

Rekomendasi