Bagi Anda yang sering bepergian, istilah "Pulang-Pergi" atau yang akrab disingkat PP tentu sudah tidak asing lagi saat memesan tiket. Namun, pernahkah Anda merasa ada yang aneh dengan urutan kata tersebut?
Secara logika kronologis, seseorang biasanya melakukan perjalanan "Pergi" terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk "Pulang". Lantas, mengapa masyarakat Indonesia lebih nyaman menggunakan istilah yang justru menempatkan kata pulang di depan?
Penjelasan Pakar Bahasa Mengenai Urutan Kata
Pakar bahasa kenamaan, Ivan Lanin, memberikan penjelasan menarik terkait fenomena penggunaan istilah yang terkesan terbalik ini. Menurutnya, penggunaan urutan kata dalam bahasa Indonesia sering kali lebih mengedepankan aspek tujuan utama dari penggunanya.
Dalam konteks "Pulang-Pergi", Ivan menyebutkan bahwa kata "pulang" merupakan tujuan akhir yang paling diinginkan oleh seseorang. Itulah sebabnya kata tersebut diletakkan di posisi pertama dalam rangkaian frasa tersebut.
Berikut adalah beberapa contoh istilah lain yang memiliki pola serupa menurut Ivan Lanin:
- Jual Beli: Sering kali fokusnya adalah pada proses pelepasan barang terlebih dahulu.
- Maju Mundur: Pergerakan yang mengutamakan arah depan sebagai tujuan awal.
- Keluar Masuk: Menggambarkan urutan dari sudut pandang pelaku yang berada di dalam ruangan.
Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki cara unik dalam menyusun kata yang tidak selalu terpaku pada urutan waktu kejadian. Fokus utama sering kali terletak pada perspektif atau prioritas psikologis si pembicara.
Logika Psikologis di Balik Istilah Pulang-Pergi
Melansir dari tulisan Yanwardi di blog Rubrik Bahasa bertajuk "Bahasa dan Realitas", istilah "Pulang-Pergi" dikategorikan sebagai struktur yang tampak tidak manasuka. Artinya, antara penanda berupa kata dan realitas yang terjadi seolah-olah tidak memiliki hubungan kronologis yang searah.
Yanwardi menjelaskan bahwa meskipun urutannya terlihat tidak logis bagi sebagian orang, frasa ini sebenarnya sangat logis secara psikologis. Secara naluriah, manusia selalu memiliki keinginan atau kerinduan untuk sampai di rumah dengan selamat.
Berikut adalah ringkasan perbedaan perspektif dalam penggunaan istilah tersebut:
| Aspek Penilaian | Penjelasan Istilah |
|---|---|
| Perspektif Kronologis | Pergi dilakukan lebih dulu sebelum perjalanan pulang dilakukan. |
| Perspektif Psikologis | Mendahulukan rumah (pulang) sebagai bentuk keinginan naluriah manusia. |
| Contoh Serupa | Turun-naik, tua-muda, datang-pergi, dan keluar-masuk. |
Tabel di atas merangkum bagaimana sebuah istilah bisa memiliki makna yang berbeda tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Hal ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia sangat kaya akan nilai-nilai emosional dan cara pandang pelakunya.
Fenomena serupa juga ditemukan pada kata "keluar masuk" yang sering dianggap tidak sesuai realitas jika pelaku berada di luar. Namun, bagi orang yang berada di dalam rumah, mereka pasti akan keluar terlebih dahulu sebelum nantinya masuk kembali ke ruangan tersebut.