Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi menerjunkan ratusan relawan untuk menangani isu Anak Tidak Sekolah (ATS) di berbagai wilayah Indonesia. Program ini bertujuan melakukan pendataan sekaligus mengajak anak-anak tersebut agar bersedia kembali mengenyam bangku pendidikan.
Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI) menginisiasi langkah ini melalui program Relawan Pendidikan Tahun 2026. Upaya tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 yang menetapkan penanganan ATS sebagai prioritas nasional.
Verifikasi Data dan Pendekatan Komunitas
Direktur PNFI Kemendikdasmen, I Gusti Made Ardana, mengungkapkan bahwa kementerian sebenarnya sudah memiliki basis data awal terkait anak-anak yang putus sekolah. Namun, para relawan kini bertugas melakukan verifikasi langsung di lapangan untuk memastikan keakuratan informasi tersebut.
Made menekankan pentingnya peran relawan dalam menjangkau anak-anak yang selama ini tidak tersentuh layanan pendidikan. Harapannya, mereka dapat segera didaftarkan kembali ke satuan pendidikan, baik jalur formal maupun nonformal.
Program ini mengandalkan pendekatan berbasis komunitas agar proses penjangkauan berjalan lebih humanis dan hati-hati. Relawan tidak hanya mencatat angka, tetapi juga memastikan setiap anak terhubung dengan layanan pendidikan yang berkelanjutan.
Hasil verifikasi lapangan ini nantinya akan menjadi data mutakhir yang terintegrasi secara nasional. Data tersebut akan menjadi fondasi utama bagi pemerintah pusat maupun daerah dalam menyusun kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran.
Ekspansi Wilayah Penugasan Relawan
Terdapat peningkatan signifikan pada skala program ini jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2025, program hanya menjangkau empat kabupaten dengan dukungan 105 orang relawan.
Memasuki tahun 2026, cakupan wilayah diperluas hingga mencapai 10 kabupaten/kota yang tersebar di 50 kecamatan. Jumlah personel yang dikerahkan pun meningkat menjadi 261 relawan pendidikan yang tersebar di berbagai titik strategis.
Daftar 10 kabupaten dan kota yang menjadi fokus penugasan relawan tahun 2026:
- Kabupaten Sampang, Jawa Timur
- Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
- Kabupaten Lampung Tengah, Lampung
- Kabupaten Mimika, Papua Tengah
- Kabupaten Maluku Tengah, Maluku
- Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan
- Kabupaten Agam, Sumatra Barat
- Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara
- Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh
- Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
Sepuluh wilayah tersebut dipilih sebagai prioritas untuk memastikan hak belajar anak-anak di daerah tersebut dapat segera terpenuhi secara optimal.
Misi Utama Relawan di Lapangan
Para relawan mengemban tugas berat untuk mengidentifikasi akar permasalahan mengapa seorang anak tidak bersekolah. Selain itu, mereka harus memetakan kebutuhan belajar spesifik dari setiap anak yang mereka temui.
Aspek advokasi juga menjadi poin penting, di mana relawan bertugas mengedukasi masyarakat mengenai vitalnya pendidikan bagi masa depan. Komunikasi yang efektif dengan pihak keluarga menjadi kunci keberhasilan misi ini di lapangan.
Made mengingatkan bahwa tolok ukur kesuksesan program ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Keberhasilan sesungguhnya dilihat dari seberapa banyak anak yang benar-benar kembali ke sekolah dan memiliki harapan baru untuk masa depannya.
Ringkasan perbandingan cakupan program Relawan Pendidikan:
| Aspek Perbandingan | Tahun 2025 | Tahun 2026 |
|---|---|---|
| Jumlah Relawan | 105 Orang | 261 Orang |
| Cakupan Kabupaten/Kota | 4 Wilayah | 10 Wilayah |
| Cakupan Kecamatan | 20 Kecamatan | 50 Kecamatan |
Data di atas menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas jangkauan akses pendidikan secara masif di berbagai pelosok nusantara.
Implementasi program ini juga melibatkan kolaborasi erat dengan berbagai pihak lintas sektor. Kemendikdasmen menggandeng organisasi mitra, tenaga pendamping dari Kemendesa, hingga Dinas Dukcapil di setiap daerah demi kelancaran administrasi dan operasional.