Pemerintah Maladewa menyampaikan perkembangan terbaru mengenai upaya evakuasi korban kecelakaan selam yang melibatkan warga negara Italia. Pada Senin, 18 Mei 2026, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa jasad empat turis Italia yang sempat hilang kini telah terdeteksi lokasinya.
Mohamed Hussain Shareef selaku juru bicara kepresidenan menjelaskan bahwa keempat jenazah tersebut berada di bagian terdalam sebuah gua bawah laut. Lokasi penemuan ini memberikan titik terang setelah operasi pencarian intensif dilakukan dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, satu dari lima korban telah berhasil ditemukan dan diidentifikasi sebagai Gianluca Benedetti. Jasad instruktur selam tersebut ditemukan tepat di mulut gua, yang kemudian menuntun tim pencari pada dugaan bahwa rekan lainnya masih terjebak di dalam gua.
Daftar identitas empat turis Italia yang ditemukan di dalam gua bawah laut tersebut adalah:
- Monica Montefalcone: Seorang profesor madya ekologi dari Universitas Genoa yang dikenal berpengalaman.
- Giorgia Sommacal: Putri dari Monica Montefalcone yang ikut dalam ekspedisi tersebut.
- Federico Gualtieri: Seorang ahli biologi kelautan profesional yang turut serta dalam rombongan.
- Muriel Oddenino: Peneliti yang menjadi bagian dari tim ekspedisi ilmiah dan wisata tersebut.
Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa sebenarnya terdapat orang keenam dalam kelompok tersebut. Namun, orang tersebut memutuskan untuk tidak ikut masuk ke dalam air saat anggota tim lainnya memulai penyelaman.
Operasi Penyelamatan yang Berisiko Tinggi
Kelompok ini diketahui sedang menjalankan ekspedisi penyelaman menggunakan kapal Duke of York sesuai keterangan Kementerian Luar Negeri Italia. Saat ini, organisasi Bulan Sabit Merah telah memberikan pendampingan psikologis bagi 20 warga Italia lainnya yang masih berada di atas kapal.
Upaya pencarian ini harus dibayar mahal dengan gugurnya seorang anggota tim penyelamat lokal Maladewa. Sersan Satf Mohamed Mahudhee yang berusia 43 tahun meninggal dunia pada Sabtu, 16 Mei 2026, setelah menjalankan misi penyelamatan kedua.
Shareef menyebutkan bahwa Mahudhee merupakan salah satu penyelam paling senior yang dimiliki oleh tim penyelamat. Kepergiannya menjadi bukti nyata betapa ekstrem dan berbahayanya medan di dalam gua bawah laut tersebut bagi siapapun.
Operasi penyelamatan yang berlanjut pada Senin melibatkan kolaborasi lintas negara dan organisasi internasional. Penyelam lokal Maladewa dibantu oleh tiga tenaga ahli dari Finlandia yang berasal dari Divers Alert Network (DAN) untuk menganalisis keamanan gua.
Bantuan teknis dan peralatan khusus untuk misi evakuasi ini berasal dari beberapa negara berikut:
- Inggris dan Australia: Menyediakan peralatan canggih khusus untuk operasional di kedalaman ekstrem.
- Divers Alert Network (DAN): Mengirimkan tim ahli keselamatan selam global untuk memimpin penilaian risiko.
- Skuter Bawah Air: Digunakan untuk mobilitas cepat penyelam di dalam lorong gua yang panjang.
- Tangki Gas Rebreather: Alat khusus pendaur ulang udara agar penyelam bisa bertahan lebih lama di kedalaman.
Laura Moroney, CEO DAN, menjelaskan bahwa tim harus mempertimbangkan faktor arus bawah laut yang kuat dan struktur morfologi gua. Ia menegaskan bahwa tim penyelamat tidak akan mengambil risiko yang tidak perlu jika kondisi dianggap terlalu berbahaya.
Tantangan di Kedalaman 70 Meter
Tim penyelamat menyusun strategi untuk mengevakuasi dua jasad pada hari ini dan dua sisanya pada Rabu, 20 Mei 2026. Gua tersebut memiliki kedalaman hingga 70 meter atau setara gedung 20 lantai dengan panjang lorong mencapai 200 meter.
Meskipun kelima korban merupakan penyelam yang sangat berpengalaman, penyebab pasti kecelakaan ini masih menjadi misteri. Kedalaman gua yang ekstrem serta endapan lumpur yang tebal diduga menjadi faktor penghambat utama bagi para korban untuk keluar.
John Volanthen, ahli penyelamat gua dari Inggris, menyebutkan bahwa biasanya penyelam memasang tali panduan untuk menandai jalan keluar. Tanpa hal tersebut, jarak yang sangat jauh di dalam gua akan menjadi jebakan yang mematikan bagi siapa saja.
Beberapa faktor teknis yang diduga memicu terjadinya tragedi penyelaman ini meliputi:
| Faktor Risiko | Dampak Terhadap Penyelam |
|---|---|
| Narkosis Nitrogen | Menimbulkan efek mabuk dan kehilangan kendali diri akibat tekanan gas tinggi. |
| Endapan Lumpur | Menutup jarak pandang secara total jika tersentuh, sehingga penyelam tersesat. |
| Kepanikan | Mengurangi kemampuan berpikir logis dan mempercepat konsumsi oksigen secara drastis. |
| Arus Bawah Laut | Menyeret penyelam lebih jauh ke dalam labirin gua yang sulit dijangkau. |
Volanthen menambahkan bahwa pada kedalaman tersebut, efek narkosis sangat mungkin memicu kepanikan yang luar biasa. Jika dinding gua tersentuh, lumpur akan naik dan membuat air menjadi sangat keruh, sehingga jalan keluar mustahil ditemukan.
Kenangan Sosok Penyelam Disiplin
Carlo Sommacal, suami dari Montefalcone sekaligus ayah Giorgia, merasa sangat terpukul dan bingung atas kejadian yang menimpa keluarganya. Ia yakin pasti ada kejadian luar biasa di bawah sana mengingat jam terbang istri dan anaknya yang tinggi.
Dalam wawancara dengan televisi Italia, Carlo mengenang istrinya sebagai sosok penyelam yang sangat berhati-hati dan sangat disiplin. Montefalcone bukan tipe orang yang akan mengambil risiko ceroboh yang bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Ketangguhan Montefalcone sebelumnya teruji saat ia berhasil selamat dari bencana tsunami tahun 2004 ketika sedang menyelam di Kenya. Namun, kegigihan dan pengalaman panjang tersebut kali ini tidak cukup untuk menyelamatkan mereka dari kedalaman gua Maladewa.
Saat ini, otoritas Italia dan Maladewa terus berkoordinasi untuk menyelesaikan proses evakuasi secepat mungkin. Penyelidikan menyeluruh akan segera dilakukan setelah seluruh jenazah berhasil dibawa ke permukaan guna mengungkap fakta di balik tragedi ini.