Jangan Tertukar, Ini Beda Gejala GERD dan IBD Terbaru 2026 yang Sering Keliru

Jangan Tertukar, Ini Beda Gejala GERD dan IBD Terbaru 2026 yang Sering Keliru
Foto: Jangan Tertukar, Ini Beda Gejala GERD dan IBD Terbaru 2026 yang Sering Keliru. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Gangguan pada sistem pencernaan seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman yang serupa, sehingga banyak orang cenderung menyamaratakan semua keluhan sebagai gejala asam lambung atau GERD. Padahal, sensasi mual, rasa terbakar di area perut, hingga gangguan buang air besar bisa jadi merupakan indikasi penyakit lain yang lebih serius, seperti Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau radang usus kronis.

Kekeliruan dalam mengenali gejala ini sering kali membuat pasien terlambat mendapatkan penanganan yang tepat karena hanya mengandalkan obat lambung biasa. Padahal, tanpa pemeriksaan medis yang akurat, kondisi peradangan yang sebenarnya terjadi bisa semakin memburuk dan memicu komplikasi yang tidak diinginkan.

Pentingnya Diagnosis dari Ahli Medis

Konsultan Gastroentero Hepatologi Eka Hospital MT Haryono, Murdani Abdullah, menjelaskan bahwa banyak sekali penyakit pencernaan yang memiliki kemiripan gejala. Hal inilah yang sering kali memicu kebingungan di tengah masyarakat ketika mencoba mendiagnosis diri sendiri.

"Karena keluhannya serupa, maka hal yang paling krusial adalah melakukan konfirmasi kepada ahlinya untuk memastikan apakah gejala tersebut berasal dari GERD, IBD, atau bahkan gangguan jantung," ungkap Murdani melalui keterangan tertulisnya.

Murdani menekankan bahwa diagnosis yang pasti tidak bisa ditegakkan hanya melalui pengamatan fisik semata, melainkan memerlukan serangkaian pemeriksaan penunjang. Dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan mendalam untuk melihat kondisi saluran cerna secara langsung dan mendeteksi adanya peradangan.

Beberapa metode pemeriksaan yang umum dilakukan antara lain adalah EKG untuk mengecek kondisi jantung, endoskopi, gastroskopi, hingga pemeriksaan sampel feses. Ia mengimbau agar masyarakat tidak meremehkan sinyal dari tubuh, terutama jika keluhan muncul secara berulang dalam jangka waktu lama.

Memahami Perbedaan Gejala GERD dan IBD

Secara medis, GERD merupakan kependekan dari gastroesophageal reflux disease, sebuah kondisi di mana asam lambung naik kembali menuju kerongkongan. Sementara itu, IBD adalah peradangan kronis yang terjadi pada dinding saluran pencernaan dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama.

Meskipun keduanya menyerang sistem pencernaan, manifestasi klinis yang dirasakan pasien memiliki perbedaan yang cukup signifikan jika diperhatikan lebih detail. Berikut adalah rincian perbedaan gejala utama dari kedua penyakit tersebut:

Perbandingan Gejala Utama Antara GERD dan IBD:
  • Gejala Utama GERD: Munculnya rasa panas di dada atau heartburn, mulut terasa pahit atau asam, mual, serta rasa tidak nyaman seperti terbakar di ulu hati.
  • Gejala Utama IBD: Terjadi diare yang berulang dan berkepanjangan, rasa nyeri pada bagian perut, adanya darah pada kotoran (BAB berdarah), penurunan berat badan secara drastis, hingga rasa lelah yang ekstrem.

Meskipun berbeda secara klinis, kedua kondisi ini memiliki kesamaan dalam hal sifatnya yang bisa kambuh sewaktu-waktu. Faktor pola hidup, genetik, serta pengaruh lingkungan memegang peranan besar dalam memicu munculnya gejala tersebut pada seseorang.

Faktor Pemicu dan Pengaruh Pola Makan

Jenis asupan makanan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap penderita GERD maupun IBD. Pada pasien GERD, konsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi serta gorengan sering kali menjadi pemicu utama naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Di sisi lain, penderita IBD harus lebih waspada terhadap konsumsi alkohol, rokok, serta gula murni. Selain itu, kandungan bahan tambahan pangan seperti emulsifier yang sering ditemukan dalam makanan olahan juga disebut dapat memperburuk kondisi peradangan pada usus.

Murdani menegaskan bahwa kunci utama dalam mencegah kambuhnya gejala adalah dengan disiplin dalam mengatur pola makan sehari-hari. Ia menyarankan agar pasien menghindari bahan-bahan yang dapat memicu iritasi pada saluran cerna sesuai dengan jenis penyakit yang diderita.

"Untuk penderita IBD, sebaiknya hindari alkohol, merokok, gula murni, dan emulsifier. Sedangkan bagi penderita GERD, makanan berlemak dan gorengan adalah hal yang kurang baik dikonsumsi," jelas Murdani memaparkan perbedaannya.

Namun, ia juga memberikan catatan penting bahwa tingkat toleransi tubuh setiap individu terhadap makanan tertentu bersifat sangat personal. Ada pasien yang tetap stabil meski mengonsumsi makanan pemicu, namun ada juga yang langsung merasakan gejala hebat hanya dalam waktu singkat setelah makan.

Pendekatan Pengobatan yang Berbeda

Tujuan pengobatan antara GERD dan IBD memiliki perbedaan mendasar dari segi durasi dan target hasilnya. Penanganan IBD tidak hanya berfokus pada penghilangan gejala sementara, tetapi juga berupaya mengendalikan peradangan agar tidak menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih parah.

Murdani membagi terapi untuk pasien IBD ke dalam dua fase utama, yaitu tahap induksi dan tahap pemeliharaan. Terapi induksi dilakukan untuk mencapai kondisi remisi, sementara terapi maintenance atau pemeliharaan bertujuan agar kondisi stabil tersebut dapat terus terjaga.

Ia menekankan bahwa IBD bukanlah penyakit yang bisa sembuh total secara permanen, melainkan sebuah kondisi di mana peradangan dapat dikendalikan. Oleh karena itu, pasien IBD tetap diwajibkan menjalani pengobatan rutin agar radang tidak aktif kembali dan menyebabkan komplikasi.

Masa pengobatan untuk setiap individu pun sangat bervariasi, tergantung pada respon tubuh masing-masing. Ada pasien yang kondisinya tetap stabil setelah satu tahun menjalani terapi, namun ada pula yang kembali mengalami kekambuhan saat pengobatan dihentikan sehingga harus mengulang prosedur dari awal.

Peran Pengelolaan Stres dalam Menghadapi GERD

Berbeda dengan IBD, penyakit GERD sendiri terbagi menjadi dua klasifikasi utama, yakni erosive esophagitis dan non-erosive reflux disease. Tipe erosif ditandai dengan adanya luka fisik nyata pada kerongkongan, sedangkan tipe non-erosif tidak menunjukkan adanya luka saat diperiksa.

Faktor psikologis seperti tingkat stres ternyata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keparahan gejala GERD, khususnya pada tipe yang tidak menunjukkan luka fisik. Oleh sebab itu, pasien GERD dituntut untuk lebih mandiri dalam mengelola keseimbangan hidupnya agar asam lambung tidak mudah naik.

"Kunci kesembuhan GERD sebenarnya tidak hanya terletak pada obat-obatan dari dokter, tetapi lebih kepada kemampuan pasien dalam mengelola diri sendiri," ujar Murdani. Ia menambahkan bahwa pengelolaan stres yang baik sangat membantu meminimalkan risiko kambuhnya gejala.

Terakhir, Murdani berpesan agar masyarakat tidak perlu merasa panik secara berlebihan ketika menerima diagnosis GERD dari dokter. Rasa cemas yang terlalu tinggi justru akan memicu peningkatan stres, yang pada akhirnya malah memperburuk kondisi fisik dan menghambat proses pemulihan.

Artikel terkait

Rekomendasi