Departemen Teknik Biomedik dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memberikan pernyataan resmi terkait isu pencatutan nama institusi mereka. Kasus ini mencuat setelah ditemukannya dugaan praktik riset palsu yang dilakukan oleh sekelompok warga negara Indonesia di kancah internasional.
Klarifikasi ini muncul setelah sejumlah judul penelitian ditemukan menggunakan identitas Teknik Biomedik ITS sebagai afiliasi penulisnya. Nama departemen tersebut tertulis dalam format bahasa Inggris yang tidak resmi dan diduga digunakan untuk melegitimasi karya-karya bermasalah tersebut.
Daftar Riset yang Mencatut Nama ITS
Kasus ini pertama kali dibongkar oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral di Oxford University, Wa Ode Dwi Daningrat. Berdasarkan data yang ia kumpulkan, terdapat belasan judul publikasi yang menyeret nama institusi ITS tanpa izin.
Daftar judul penelitian yang ditemukan menggunakan nama Departemen Teknik Biomedik ITS adalah sebagai berikut:
- AI-Fused Satelite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities (Dimas Fajar Prasetyo, dkk).
- Household 'Super-Caregivers' as Silent Connectors Pneumococcal Carriage Between Young Children and Frail Grandparents in Multigenerational Family Compounds in Low-income Urban Neighbourhoods (Aminatus Saadah, dkk).
- Which Should Come First: Oxygen Expansion or Pneumococcal Vaccination for Frail, Comorbid Older Adults in LMIC Cities? (Aminatus Saadah, dkk).
- Global Genomic Patterns of Pneumococcal Multidrug Resistance: Forecasting High-Risk Lineage Using Public Surveillance Data to Transport Empirical Treatment and Vaccine Strategies in LMIC Settings (Aminatus Saadah, dkk).
- Do Laws Protect Frail Older Adults' Access to Pneumococcal Vaccination in LMICS or Widen Equity Gaps? Systematic Analysis of Legal Statutes, Coverage Policies and Rights (Riana Dwi Kurniawati, dkk).
- High Altitude Indigenous Children, Pneumococcal Carriage Patterns and Mucosal Antibodies Shaping Invasive Disease Risk in Remote Poor Mountain Communities Across Asia, Africa, and Latin America Regions (Dimas Fajar Prasetyo, dkk).
- PCV20 or More Oxygen Cylinders? Cost-effectiveness of Next-generation Pneumococcal Vaccination Versus Hospital Capacity Expansion in High-burden LMICS (Riana Dwi Kurniawati, dkk).
- Household Microbiome Patterns in Overcrowded Slums and Recurrent Pneumococcal Pneumonia in Severely Malnourished Children: A Sibling-pair Metagenomic Study from Urban Settlements in Asia and Africa (Dimas Fajar Prasetyo, dkk).
- Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal, Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities (Riana Dwi Kurniawati, dkk).
- Refugee and Displaced Elders Facing Winter Viral Pneumococcal Syndemics: Camp Co-infection Screening, Vaccination Gaps, and Surge Preparedness in Humanitarian Settings Across the Middle East and Africa (Aminatus Saadah, dkk).
- Nighttime Incense Smoke, One-room Housing and Biofilm-forming Pneumococci: Untangling a Neglected Airway Risk for Severe Pneumonia in Young Children in Resource-limited Communities Across Asia-Africa (Riana Dwi Kurniawati, dkk).
- Low-input Clinical and Social Risk Score to Identify High-risk Children and Older Adults for Severe Pneumococcal Pneumonia in Resource-limited Settings (Dimas Fajar Prasetyo, dkk).
Dalam dokumen-dokumen riset di atas, para pelaku mencantumkan instansi mereka sebagai "School of Biomedical Engineering, Sepuluh Nopember Institute of Technology". Padahal, penyebutan resmi untuk departemen tersebut adalah Department of Biomedical Engineering ITS.
Isi Klarifikasi Resmi Teknik Biomedik ITS
Menanggapi kabar yang beredar luas di media sosial dan komunitas akademik, pihak kampus memberikan penjelasan tegas melalui akun media sosial resmi mereka. ITS menyatakan bahwa kejadian ini telah mencoreng nilai-nilai integritas penelitian dan publikasi ilmiah yang selama ini mereka jaga.
Beberapa poin utama yang ditegaskan oleh Departemen Teknik Biomedik ITS meliputi hal-hal di bawah ini:
| Poin | Detail Klarifikasi ITS |
|---|---|
| Status Personal | Nama-nama individu yang terlibat bukan merupakan bagian dari civitas akademika ITS. |
| Afiliasi Lembaga | Penyebutan "School of Biomedical Engineering" tidak merujuk pada Departemen Teknik Biomedik ITS. |
| Komitmen Etika | ITS menjunjung tinggi integritas dan etika dalam setiap riset dan publikasi ilmiah. |
| Himbauan Publik | Masyarakat diminta untuk selalu memvalidasi informasi agar tidak terpengaruh berita tidak benar. |
Pihak departemen kembali menekankan bahwa mereka selalu memprioritaskan prinsip keterbukaan dan kejujuran dalam ranah akademik. Mereka juga mengimbau agar masyarakat lebih bijak dalam menyaring informasi yang menyangkut kredibilitas institusi pendidikan tinggi.
Terbongkarnya Skenario Penyamaran
Dugaan skandal riset palsu ini mulai terungkap ke publik berawal dari acara International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD). Simposium internasional tersebut diselenggarakan di Copenhagen, Denmark, pada tanggal 17 hingga 21 Mei 2026 yang lalu.
Wa Ode Dwi Daningrat menceritakan kejadian janggal saat sesi presentasi berlangsung melalui unggahan di media sosial Instagram miliknya. Ia melihat ada seorang perempuan yang melakukan presentasi dalam dua sesi berbeda namun dengan identitas yang berubah-ubah secara mendadak.
Pada sesi pertama, perempuan itu tampil membawakan penelitian mengenai kerentanan paru-paru lansia terhadap panas perkotaan dengan nama Riana Dwi Kurniawati. Namun, hanya dalam selang waktu sekitar 10 menit, perempuan yang sama kembali muncul di panggung untuk sesi riset yang berbeda.
"Perempuan tersebut berganti jilbab dan mengenakan identitas atas nama Dimas Fajar Prasetyo, padahal nama tersebut jelas-jelas merupakan nama laki-laki," tulis keterangan dalam laporan tersebut.
Ia bahkan sempat memperkenalkan dirinya secara lisan sebagai Dimas di hadapan para peserta konferensi internasional tersebut. Setelah ditelusuri lebih lanjut, identitas asli perempuan tersebut ternyata adalah Prihantini, bukan Riana ataupun Dimas Fajar Prasetyo.
Kejanggalan lainnya adalah nama Prihantini sendiri tidak pernah tercantum dalam daftar penulis di seluruh judul penelitian yang ia presentasikan. Fenomena ini memicu kekhawatiran besar di kalangan akademisi mengenai adanya sindikat riset palsu yang melibatkan warga negara Indonesia.
Hingga saat ini, kasus pencatutan nama lembaga pendidikan ini terus menjadi sorotan karena selain ITS, beberapa kampus besar lain seperti UNY dan UMB juga dilaporkan mengalami hal serupa. Investigasi lebih lanjut tengah dinantikan untuk mengungkap motif di balik tindakan yang mencederai dunia pendidikan ini.